
Ratih memutar bola matanya saat harus memberi laporan hasil perekrutan karyawan kepada Pak Roy. Ia sungguh tidak bisa menilai hasil tes dari Sofia yang mengaku sebagai istri Pak Roy. Setiap hari wanita itu datang, bertingkah seperti orang yang punya perusahaan. Sofia bahkan minta dibukakan ruangan Pak Roy, untuk menunggu kedatangan suaminya itu lantaran tak mau menunggu di ruang tamu. Tentu saja, tidak ada siapa pun yang berani membuka pintu ruangan kerja Pak Roy, tanpa izin dari beliau.
Pak Roy sendiri akhir-akhir ini begitu sibuk di luar kantor lantaran bisnis yang berkembang semakin pesat dan semakin besar. Pak Roy bahkan baru terlihat ada di kantor setelah jam makan siang, itu pun hanya sekitar satu atau dua jam saja. Tak heran antrian di ruang kerja beliau membludak, seperti orang yang antri pembagian sembako. Ratih harus segera mengantri di depan ruangan Pak Roy, seperti karyawan lain, karena Pak Roy baru saja tiba di kantor.
Ruang keramat itu hanya bisa dibuka oleh Pak Roy sendiri atau Pak Riko. Itu pun Pak Riko hanya bisa membukanya atas izin ataupun persetujuan dari Pak Roy. Ruang penuh aura mistis dan negatif itu benar-benar membuat siapapun yang masuk harus merapalkan semua doa dan ayat pengusir setan.
"Siang Pak Roy," sapa Putri, si resepsionis yang hanya bisa menyapa bos besar mereka dengan rasa takut yang menggetarkan jiwa setiap kali berusaha menyapa Pak Roy.
Pria itu tidak menjawab hanya memberi lambaian tangan yang membuat Putri menghela napas lega. Namun kelegaan Putri tidak berlangsung lama lantaran Pak Roy terhenti saat berpapasan dengan Sofia yang keluar dari ruang tamu.
"Roy, kau baru datang?" tanya Sofia.
Viceroy hanya diam ia segera melangkah menuju ke lift. Sofia segera mengekori Viceroy, ia benar-benar merasa senang karena perjuangannya menunggu selama tiga jam tidak berakhir sia-sia. Ia akhirnya bisa bertemu dengan calon suaminya.
"Roy," kata Sofia.
Viceroy mengabaikan Sofia, ia lebih fokus pada ponselnya.
"Roy, kau sudah makan? Aku sudah lapar sekali karena menunggumu, aku mau pesan makanan, kita makan sama-sama, ya," kata Sofia.
Viceroy hanya diam, ia melangkah keluar dari lift, suasana di koridor ruangan kerjanya yang tadinya begitu ramai, mendadak senyap hanya karena mendengar bunyi langkah kaki Viceroy yang sangat dihafal oleh semua karyawan.
Sofia mendelik gusar, ia sungguh merasa seperti bicara pada tembok. Viceroy melepas sepatunya begitu memasuki ruang kerjanya, Sofia masih tetap membuntuti Viceroy.
"Roy, kau mau makan apa? Aku pesan sekarang, ya?" kata Sofia lagi.
"Sofia!" kata Viceroy merasa kesabarannya benar-benar sudah habis.
"Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan? Ini kantor tempat untuk bekerja, bukan tempat untuk mondar-mandir! Kau pikir perusahaanku ini pusat perbelanjaan?!" kata Viceroy menatap tajam Sofia.
__ADS_1
Viceroy sungguh muak melihat kelakuan Sofia yang mondar-mandir bertingkah di kantornya. Viceroy memang tidak ada di kantor, namun ia mengawasi kondisi kantornya melalui kamera cctv di setiap ruangan kecuali toilet yang terhubung langsung di ponselnya.
"Ta-tapi," kata Sofia terbata-bata.
"Bukankah sudah kukatakan padamu, kalau kau memang mau bekerja di sini, ikuti prosedur perusahaan!" kata Viceroy lagi.
"Sudah! Aku sudah ikut tes," kata Sofia.
"Terus?!" tanya Viceroy.
"Bukankah tes itu hanya bersifat formalitas? Lagi pula aku pasti akan langsung diterima bekerja di sini," kata Sofia.
"Baiklah, kau boleh pergi," kata Viceroy.
"Ayo, kita makan bersama, Roy," desak Sofia.
"Maaf, aku masih banyak pekerjaan! Pergilah, jangan membuatku melihatmu seperti orang yang tidak punya telinga," kata Viceroy dingin.
"Tolong panggilkan Bu Ratih," kata Viceroy menelepon karyawan yang bekerja di luar ruangannya.
Ratih memasuki ruangan Viceroy, ia terlihat canggung karena melihat Sofia yang masih berdiri di dekat pintu masuk.
"Apa laporan yang ingin anda sampaikan?" tanya Viceroy.
"Ini daftar nama kandidat yang akan mengikuti tahap seleksi selanjutnya, Pak, sesuai hasil penilaian tahap tes tertulis," kata Ratih.
"Apa nama beliau ada tercantum?" tanya Viceroy ke arah Sofia, tanpa melihat laporan yang diberikan Ratih untuknya.
"Sayangnya tidak ada, Pak, karena Bu Sofia Bahra tidak mengerjakan tes dengan baik dan benar, sehingga kami tim rekrutmen tidak bisa melakukan penilaian," jawab Ratih.
__ADS_1
"Ta-tapi, tes itu hanya formalitas! Tante Virda sudah menyuruhku!" sergah Sofia membela diri.
Ia benar-benar kesal melihat karyawan Viceroy yang nampaknya ingin menjatuhkannya. Viceroy menatap tajam ke arah Sofia.
"Bu Ratih, ada lembar jawaban milik Bu Sofia Bahra?" tanya Viceroy.
Ratih membuka map lain yang dibawanya, menyerahkan kepada Viceroy. Viceroy mengerutkan alisnya membaca lembar jawaban milik Sofia, ia mengalihkan pandangannya pada Sofia yang nampak gemetaran.
Sofia berusaha untuk menyembunyikan rasa gentarnya. Ia sangat yakin dan begitu percaya diri bahwa ia akan diterima bekerja di perusahaan milik calon suaminya. Sekarang atau pun nanti ia juga akan menjadi istri Viceroy. Ia sudah menjadi wanita yang direstui Tante Virda untuk menjadi istri pria yang saat ini sedang menatapnya tajam saat membaca lembar jawaban tes milik Sofia.
Viceroy memasang ekspresi datar melihat tulisan Sofia yang memproklamirkan diri sebagai istrinya. Wanita ini bahkan belum menjadi istrinya, namun sudah berani menyatakan diri sebagai istrinya.
"Sofia, kalau kau memang keberatan mengikuti prosedur yang ada di perusahaanku, silakan cari perusahaan lain, atau kau buat saja perusahaan sendiri!" kata Viceroy.
"Ta-tapi Roy, untuk apa aku harus repot-repot mengisi tes yang hanya bersifat sebagai syarat? Aku tidak mau waktuku habis untuk mengisi pertanyaan-pertanyaan konyol itu!" Sofia membela dirinya.
Ratih tercengang mendengar perkataan Sofia. Bagaimana mungkin Sofia meremehkan soal-soal berlevel tinggi yang memang sudah menjadi standar perusahaan untuk memberi penilaian terhadap calon karyawan. Ratih sangat yakin, Sofia tidak bisa menjawab semua soal tes karena ia tidak bisa menjawabnya lantaran tidak mampu.
"Sofia, aku sungguh tidak bisa mempekerjakan orang yang bisanya berbuat semaunya sendiri!" lanjut Viceroy.
"Perusahaan ini adalah perusahaanku, bukan perusahan nenek moyangmu! Perusahaanku mempunyai standar yang tinggi dalam mempekerjakan karyawan! Aku tidak bisa mempekerjakan orang yang tidak bisa bekerja! Perusahaanku ini adalah tempat orang yang benar-benar bekerja mencari uang, bukan untuk mencari masalah!" tandas Viceroy yang masih menatap tajam Sofia.
Sofia nampak geram, menahan malu.
"Bu Ratih, terima kasih atas laporan anda, tolong diproses saja mana yang layak, dan buang yang tidak layak," Viceroy mengembalikan laporan Ratih.
"Terima kasih, Pak," jawab Ratih segera keluar dari ruangan atasannya itu.
"Sofia, apa perlu petugas keamanan datang dan menjemputmu?" tanya Viceroy tersenyum sinis.
__ADS_1
Sofia berang, ia segera bergegas pergi dari ruangan Viceroy. Melewati semua mata yang memandangnya dan berbisik-bisik heboh. Sofia benar-benar merasa kehilangan kesempatan untuk bisa mengakrabkan diri dengan calon suaminya itu.
Padahal Sofia sudah berangan-angan, ia diterima bekerja di perusahaan calon suaminya itu. Ia akan menjadi sekretaris pribadi Roy yang akan mengikuti ke mana pun calon suaminya itu pergi. Sehingga Viceroy tidak akan punya kesempatan untuk menemui istrinya lagi karena sudah ada Sofia yang hadir menjadi pihak ketiga yang direstui untuk merebut Viceroy dari istrinya.