
Hari masih begitu pagi saat Ryo mengemudikan mobil menuju ke rumah pribadi adiknya. Rumah tersebut berada jauh di kawasan yang berada di lahan pribadi seluas puluhan hektar. Ryo sebenarnya lebih dulu menemukan lahan luas tersebut, hanya saja karena lima tahun lalu lahan itu masih berupa hutan belantara yang belum terjamah, Ryo tidak tertarik memilikinya.
Viceroy justru jatuh hati pada tempat itu, lahan belum terjamah dipenuhi pepohonan rimbun dengan jalan masih berupa lumpur yang saat hujan tak akan bisa dilalui kecuali membawa kendaraan khusus medan off-road. Selain masih berupa hutan belantara, kawasan tersebut merupakan area perbukitan yang di ujungnya menghadap ke teluk penuh hutan bakau. Sehingga banyak buaya dan hewan-hewan liar seperti monyet hingga ular yang menghuni kawasan tersebut.
Setelah drama persengketaan panjang, lantaran pemilik sertifikat yang saling tumpang tindih, hingga akhirnya bisa dimenangkan oleh tim kuasa hukum Viceroy. Tak heran penjagaan di kawasan itu diperketat, bahkan penjaga dipersenjatai dengan senapan api lantaran banyak hewan buas yang bisa menyerang setiap saat. Belum lagi kawat berduri beraliran listrik turut melindungi kawasan tersebut dari pihak-pihak yang kiranya berani mencoba menyentuh lahan pribadi Viceroy. Makanya, Viceroy mewanti-wanti Vara untuk tidak berkeliaran sembarangan di sekitar rumah mereka.
Ryo masih menunggu di depan gerbang bersama dengan petugas penjaga bersenjata lengkap yang berjaga selama dua puluh empat jam di kawasan tersebut.
Begitu petugas menerima perintah untuk membuka pintu gerbang, barulah Ryo dipersilakan memasuki kawasan. Ia kagum, tempat yang dulunya hanya berupa kawasan hutan belantara kini berubah menjadi lebih bagus. Tak heran ia berambisi untuk memiliki lahan itu, dengan tujuan membangun resor mewah. Ryo segera memarkirkan mobil di depan pagar tinggi yang mengurung sebuah rumah dengan dinding kaca berwarna biru, persis seperti gedung perusahaan adiknya itu.
Rumah ini bahkan tidak ada belnya, rutuk Ryo dalam hati sambil menelepon adiknya.
Ia menunggu adiknya membukakan pagar rumah. Viceroy segera memunguti pakaiannya yang semalam ia buang sembarangan di lantai, memakainya kembali dengan cepat, lalu segera turun dari kamar untuk membukakan pagar.
"Mau apa kau pagi-pagi ke sini?" tanya Viceroy saat Ryo memasuki rumahnya.
"Aku harus mengunjungi tempat yang akan segera menjadi milikku," jawab Ryo segera menarik kursi yang ada di meja makan lalu duduk dengan tenang.
"Wah, kau percaya diri sekali," celetuk Viceroy.
"Roy, sudahlah! Akui saja kekalahanmu," Ryo tersenyum.
"Kau tak akan pernah menang dariku, meski kau menggunakan cara licik sekali pun," Ryo melanjutkan.
__ADS_1
"Ryo! Kau pasti menghasut ibu, agar ibu berpihak padamu!" kata Viceroy.
"Hmm, tidak, Roy!" kata Ryo.
"Roy, aku melakukan ini juga demi kebaikanmu dan demi keluarga kita juga! Kau terlalu baik, Roy, kau pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dari istrimu itu! Aku sungguh mendukung keputusan ibu memilihkan Sofia untukmu! Sofia adalah wanita baik-baik dari keluarga kita, latar belakang pendidikannya juga bagus! Lalu, dia juga masih muda!" kata Ryo.
"Kau begitu memuji Sofia, kenapa tidak kau saja yang menikah dengan Sofia?!" Viceroy tersenyum dingin.
"Tidak mungkinlah, aku mengincar adik iparku sendiri!" sahut Ryo seraya tertawa.
"Masih banyak wanita lain yang lebih pantas untukku, Roy!" Ryo tersenyum.
"Roy, Sofia adalah wanita yang dipilihkan ibu untukmu! Wanita yang sangat pantas untuk mendampingimu!" lanjut Ryo menasehati adiknya itu.
"Aku lebih memilih Sofia yang sopan daripada istrimu yang liar itu! Entah apa yang sudah dilakukannya sampai kau begitu tergila-gila pada istrimu itu!"
Viceroy mengawasi Ryo yang nampak jelas sekali sedang memprovokasi dirinya.
Sementara Ryo hanya bisa menghela nafas berat. Adiknya benar-benar sudah kehilangan akal sehat karena sudah dipengaruhi oleh jandal binal dan gatal itu.
Ryo melihat pecahan piring di lantai dapur, sudah jelas sekali pasangan suami-istri ini bertengkar karena harus menerima kekalahan. Ryo menyembunyikan senyumnya, kemenangan sudah benar-benar berada di depan matanya. Saat pasangan suami-istri ini bercerai, kemenangan benar-benar menjadi miliknya.
Ryo mengeluarkan sebuah amplop dari dalam tas kerjanya.
__ADS_1
"Karena pertaruhan kita begitu besar, jadi harus ada perjanjian hitam di atas putihnya," sahut Ryo menyodorkan amplop berisi perjanjian mereka.
Viceroy membaca surat perjanjian yang sudah ditanda tangani oleh Ryo di atas selembar materai. Ryo nampak tersenyum sumringah.
"Roy, camkan kata-kataku ini! Saat kau berpisah dari istrimu itu, kau benar-benar akan sangat berterima kasih padaku! Aku sudah menjadi juru selamat untukmu dan keluarga kita!".
"Mungkin saat ini kau sedang dibutakan oleh cintamu pada istrimu dan juga ambisi yang menguasai hidupmu! Tapi percayalah, kau benar-benar akan menangis bahagia karena kekalahan yang harus kau terima!" lanjut Ryo.
"Lebih baik kau kehilangan istrimu yang menjijikkan itu serta lahan pribadimu ini, daripada kau kehilangan segalanya gara-gara ulah istrimu itu," Ryo kembali memberi nasehat pada Viceroy.
"Sungguh Roy, aku menginginkan lahanmu ini sebagai hadiah ulang tahunku nanti," kata Ryo lagi.
Viceroy hanya diam, menatap Ryo yang nampak menatap berkeliling isi rumahnya. Ryo sungguh berencana akan meratakan rumah ini dengan tanah untuk membangun resor mewah.
"Kalau begitu, aku pamit dulu," kata Ryo melangkah pergi.
Tiba-tiba matanya menangkap sepatu olahraga berwarna merah muda terang yang ada di bawah sofa di dekat pintu masuk. Entah mengapa Ryo merasa familiar, teringat pada sepasang sepatu yang ia pesan saat akan mengikuti babak final turnamen bulu tangkis internal perusahaannya.
Ryo hanya memesan sepatu olahraga model terbaru yang ada di toko perlengkapan olahraga langganannya. Jadi, siapapun bisa memiliki model sepatu olahraga tersebut. Ryo jadi terpikir untuk memesan sebuah sepatu olahraga khusus untuk Vara, agar tidak ada yang menyamai sepatu olahraga untuk wanita itu. Sungguh menyebalkan rasanya, melihat istri Roy mempunyai sepasang sepatu olahraga yang sama dengan sepatu olahraga yang ia berikan untuk Vara.
...*****...
Viceroy menatap kepergian kakaknya. Ia menatap kesal surat perjanjian taruhan mereka. Ryo benar-benar begitu berambisi untuk merebut lahan pribadinya ini. Viceroy harus melakukan segala cara untuk melindungi tempat ini dan juga Vara. Ia tidak boleh kehilangan dua hal ini dari hidupnya. Ia benar-benar harus menyusun strategi yang tepat.
__ADS_1
Cepat-cepat ia menyimpan surat perjanjian itu. Viceroy tentu tidak enak jika Vara sampai mengetahui perihal pertaruhan yang dilakukannya dengan kakaknya. Bisa-bisa istrinya itu akan kembali menangis lantaran merasa dipermainkan.
Viceroy memang menyadari bahwa awalnya ia menikahi Vara hanya untuk memenangkan pertaruhan dari Ryo. Namun mau dikatakan apa lagi, ia akhirnya benar-benar jatuh cinta pada Vara. Lagipula mereka benar-benar menikah secara hukum yang berlaku, tentu tidak masalah ia jatuh cinta pada istrinya sendiri. Lain halnya jika Viceroy jatuh cinta pada istri orang, tentu itu akan menjadi masalah yang besar.