
"Maaf merepotkan, ya, Santika," kata Vara begitu memasuki kamar temannya itu.
Santika hanya bisa geleng-geleng kepala karena temannya itu tiba-tiba mengirimkan pesan untuknya lantaran ingin mengungsi.
"Kau bertengkar dengan suamimu?" tanya Santika.
"Tidak," jawab Vara sambil duduk di tepi kasur Santika.
"Oh, lalu siapa yang mengantarmu dengan mobil mewah itu?" tanya Santika mengintip dari jendela kamarnya.
"Atasanku," jawab Vara.
Mata Santika membulat.
"Atasanmu yang tampan itu?" tanya Santika.
Vara mengangguk.
"Kalian dari mana sampai baru kembali selarut ini? Lembur? Dinas luar?" tanya Santika.
"Ujian," jawab Vara singkat.
"Maksudnya?" tanya Santika tak mengerti.
"San, kau pasti tahu bahwa meski sudah bekerja selama tujuh tahun, posisiku masihlah hanya pegawai kontrak, sehingga bosku perlu mengadakan tes," jawab Vara.
"Memangnya tes seperti apa?" tanya Santika lagi.
__ADS_1
"Macam-macam, aku kebetulan dapat tes memasak dan makan malam," jawab Vara.
Santika terperangah.
"Memasak dan makan malam? Itu tes pegawai atau tes cari istri?" Santika lagi-lagi terkejut.
"San, Pak Ryo itu pemilik perusahaan, wajar saja kalau tes yang diberikan terserah beliau," jawab Vara sambil mengedikkan bahunya.
"Apa kau yakin itu tes kepegawaian?" tanya Santika.
"Tentu saja, Pak Ryo sendiri yang mengatakan bahwa kami dinas luar," jawab Vara.
Santika terkekeh, entah mengapa ia mencium aroma-aroma bahwa pria yang diidolakan Vara itu nampaknya tertarik pada Vara. Masa iya, ada atasan yang mengetes kemampuan memasak pegawainya?
Masa iya, ada atasan yang mengantar pulang pegawainya hingga larut malam seperti ini?
"Vara, jujurlah padaku, apa kau masih menyukai atasanmu itu? Tujuh tahun kau selalu membicarakan betapa kau mengagumi dan mengidolakan pria itu," kata Santika.
"Vara, kau sudah punya suami setampan suamimu itu! Jangan berpikir untuk menduakan suamimu!" celetuk Santika.
Vara mendelik gusar, meski Vara sempat larut dalam halusinasi, berandai-andai Pak Ryo menjadi suaminya.
"Tidak, Santika, jangan berasumsi yang aneh-aneh," sergah Vara. "Pria seperti Pak Ryo akan mencari wanita yang selevel dengannya! Lagipula peraturan perusahaan tidak memperkenankan adanya hubungan asmara antar karyawan," Vara melontarkan argumennya.
"Tapi Pak Ryo bukan karyawan, loh, Pak Ryo itu pemilik perusahaan, ibarat seorang raja yang memiliki semua wanita dalam istananya!" kata Santika mematahkan argumen Vara.
"Santika, kau terlalu banyak menonton drama bertema kerajaan," cibir Vara.
__ADS_1
"Instingku meyakini bahwa atasanmu itu tertarik padamu!" kata Santika.
"Itu hal yang mustahil, San, aku ini istri orang!" rutuk Vara.
"Memangnya kau sudah mengumumkan pernikahanmu? Kau bahkan tidak membuat pesta pernikahan, bagaimana orang lain bisa dengan mudah percaya kau sudah menikah? Aku bahkan tak percaya kalau kau sudah menikah, karena pernikahanmu yang begitu mendadak!" cerocos Santika.
"Apa aku perlu menyalin buku nikahku dan menjadikannya baliho di sepanjang jalan di kota ini agar semua orang tahu aku sudah menikah?!" Vara tertawa.
"Wah, Vara, kau sungguh orang yang santai dan terlalu cuek! Dan juga tidak peka," cibir Santika sambil melotot.
Vara tertawa, ia memang bukan orang yang peduli dengan omongan orang lain.
Ponsel Vara berdering lagi, nama Viceroy kembali muncul di layar.
"Viceroy," jawab Vara.
"Kau di mana?" tanya Viceroy lagi.
"Aku di rumah teman, aku akan menginap," jawab Vara.
"Kujemput kau sekarang juga, tolong berbagi lokasi!" kata Viceroy.
Vara mengerutkan keningnya, begitu Viceroy menutup telepon.
"Ada apa, Vara?" tanya Santika keheranan melihat perubahan ekspresi Vara.
"Suamiku akan menjemputku," jawab Vara dengan ekspresi wajah yang tak percaya.
__ADS_1
"Ya ampun, romantisnya suamimu itu," kata Santika seraya tertawa.