
Ketakutan! Itulah yang saat ini Ozy rasakan saat harus menagih laporan pengajuan pembayaran pajak yang beberapa waktu lalu ia ajukan ke meja Pak Roy, atasannya yang saat ini menatapnya tajam. Jatuh tempo pembayaran pajak paling lambat adalah besok, lewat dari besok pembayaran akan didenda.
Wati sudah mewanti-wanti Ozy, untuk menagih pengajuan pembayaran pajak itu, agar dibayar jangan sampai lewat dari jatuh tempo.
"Bagaimana ini, Mbak Wati? Harus bagaimana menagih Pak Roy?!" tanya Ozy begitu panik.
"Ya harus ditagihlah, Ozy! Mana bisa kau langsung lepas tangan begitu saja mentang-mentang dokumen pengajuan sudah ada dalam ruangan Pak Roy! Sebelum beliau tanda tangan, dokumen itu masih menjadi tanggung jawabmu!" jawab Wati.
"Aduh Mbak Wati, matilah aku, Mbak, kalau sampai didenda! Mati aku, mati!" Ozy berputar-putar sambil meremas rambut klimisnya.
"Cepat, pergi ke ruangan Pak Roy, dan minta tanda tangan beliau! Kau benar-benar akan mati menanggung denda!" kata Wati.
Ozy merengut, ia sungguh tidak berani ke ruangan Pak Roy. Wati memang sudah menyuruhnya untuk terus menagih Pak Roy, namun Ozy terlalu takut, dan Pak Roy sangat sulit untuk ditemui. Ozy baru saja tiba di koridor ruangan Pak Roy, semua orang yang bekerja nampak menegang mendengar amukan Pak Roy, sesaat kemudian wanita berpenampilan bak biduan dangdut yang menyatakan diri sebagai istri Pak Roy keluar dari ruangan kerja pria itu dengan tergesa-gesa dan raut wajahnya nampak seperti baru saja melihat hantu.
Sungguh gila, sama istri sendiri saja Pak Roy membentak-bentak seperti itu, bagaimana dengan orang lain? Pikir Ozy.
"Mampus, cuacanya Pak Roy benar-benar tidak bagus," gumam Ozy.
Ozy tidak bisa mundur lagi, ia harus menghadapi Pak Roy. Maju salah, mundur akan semakin salah, itulah yang sekarang tertanam dalam benak Ozy. Demi cicilan mobilnya yang masih tersisa empat tahun lagi, ia membulatkan tekad.
Ozy mengetuk pintu ruangan Pak Roy, ketakutan segera menyergapnya. Sorot mata tajam atasannya itu membuat jiwanya gentar.
"Permisi Pak Roy, saya mau menanyakan perihal pengajuan pembayaran pajak yang waktu itu ada saya ajukan," kata Ozy.
"Yang mana?!" tanya pria itu dingin.
"Ya-yang waktu itu anda suruh ti-tinggal," Ozy tergagap.
Viceroy menatap tajam Ozy, pria kemayu itu nampak gemetaran. Dalam hati, Viceroy ingin tertawa jika mengingat kekonyolan pria di hadapannya ini. Apa Ozy sungguh tidak mengenalinya?
Viceroy bahkan tidak memakai topeng untuk menyembunyikan wajahnya. Ia juga tidak memakai riasan yang bisa mengubah wajah.
"Apa Bapak tidak lihat, betapa banyak dokumen di meja saya?!" kata Viceroy dengan nada tinggi.
__ADS_1
"A-ada Pak, yang Bapak bilang taruh saja di meja," kata Ozy.
Viceroy mengerutkan alisnya, Ozy terkesiap.
Viceroy menyingkirkan satu per satu dokumen yang bertumpuk di meja kerjanya.
"Itu Pak, yang di map bening!" Ozy menunjuk dokumen tersebut.
"Kapan jatuh temponya?" tanya Viceroy.
"Besok, Pak," jawab Ozy.
"Apa?! Besok!" bentak Viceroy. "Kenapa Bapak baru memberitahu sekarang?!"
Ozy terperanjat, jantungnya nyaris lepas.
"Sa-saya sudah ajukan dari awal bulan, Pak," jawab Ozy.
"Kalau sudah begini, kapan saya punya waktu untuk memeriksa laporan Bapak?! Kalau sudah seperti ini, siapa yang disuruh bertanggung jawab?! Begitu mengeluh saya marah-marah terus! Saya sudah marah-marah seperti ini saja, masih banyak orang yang kerjanya tidak becus, apa lagi kalau saya biarkan begitu saja?!" cecar Viceroy.
Ozy nampak tak bisa berbicara, sungguh gila, Ozy dicecar habis-habisan oleh pria di hadapannya ini. Ozy tidak habis pikir, pria di hadapannya ini sungguh mirip seperti Mas Tampan suami Vara. Sungguh bagai pinang dibelah dua. Kalau saja Ozy adalah seorang wanita, sudah pastilah ia benar-benar jatuh cinta pada pesona Pak Roy yang semakin marah justru terlihat makin memesona.
"Sungguh, saya lelah harus marah-marah seperti ini terus," kata Viceroy.
"Pak, marah-marah saja terus! Anda terlihat semakin tampan saat marah!" kata Ozy.
Viceroy terkesiap mendengar perkataan Ozy. Bagi Ozy, baru kali ini ia melihat ada orang yang terlihat makin tampan saat marah-marah. Ozy juga ingin terlihat tampan saat sedang marah-marah.
"Apa-apaan Anda ini! Saya ini marah pada Anda!" tandas Viceroy.
Ozy menunduk, mencuri pandang ke arah Viceroy yang melipat tangannya di depan dada.
"Iya Pak, maaf, Pak," kata Ozy.
__ADS_1
"Kalau cara anda bekerja seperti ini, anda sama saja seperti orang yang tidak bisa kerja!" cecar Viceroy lagi.
"Maaf, Pak," kata Ozy lagi.
"Saya ini sendirian saja! Saya mempekerjakan anda untuk membantu saya! Bukannya malah menambah beban saya!" Viceroy masih mencecar Ozy.
"Iya, Pak," jawab Ozy.
"Anda ini iya-iya saja!" sembur Viceroy.
"Ya, habisnya masa tidak, Pak," kata Ozy.
Viceroy memutar bola matanya, Ozy benar-benar pasrah. Terserah ia mau dimaki-maki Pak Roy, terserah mau diomeli Pak Roy. Ozy sudah siap menerimanya, ini karena kesalahannya. Ia terlalu takut untuk menemui Pak Roy membuat pekerjaannya jadi terbengkalai.
"Ya sudah, tinggal saja! Kembalilah bekerja!" perintah Viceroy.
"Tapi Pak, anda belum tanda tangan, Pak," sahut Ozy.
"Mana bisa saya tanda tangan sebelum memeriksanya!" tandas Viceroy.
"Pak, tapi besok loh jatuh temponya," Ozy memelas.
"Saya anggap itu bukan kesalahan saya!" sahut Viceroy enteng.
Ozy melengos, mengapa Pak Roy begitu kejam?
"Baik Pak, terima kasih," Ozy menunduk, ia segera keluar dari ruang kerja Pak Roy.
Ozy menarik nafasnya lalu mulai bernyanyi.
"Kumenangis, membayangkan betapa kejamnya dirimu atas diriku...,"
Sontak semua orang langsung menoleh ke arah Ozy. Mereka semua melotot terperangah mendengar nyanyian Ozy yang rupanya menyuarakan isi hatinya. Mereka semua benar-benar berusaha menahan tawa mereka melihat kelakuan Ozy. Sungguh menahan tawa itu berat.
__ADS_1