Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Palsu


__ADS_3

Vara sungguh kaget bertemu dengan Santika di perusahaan tempat ia mengikuti tes penerimaan karyawan. Ia segera merangkul temannya itu seakan mereka adalah kawan lama yang sudah begitu lama tidak pernah bertemu.


Kesibukan mereka pada pekerjaan dan kehidupan masing-masing membuat mereka hanya bisa bertemu sesekali dalam satu bulan. Padahal dulu mereka selalu bersama saat masih kuliah dulu. Santika adalah teman satu kelas sekaligus satu kos Vara. Saat masih kuliah dulu Santika begitu populer di angkatan mereka karena memiliki paras menawan dengan tubuh berisi yang menjadi kesukaan para pria. Santika juga memiliki kepribadian yang ramah dan supel. Sungguh tak heran dulu Santika memiliki banyak penggemar yang menginginkan Santika menjadi kekasih mereka.


Begitu lulus kuliah, Santika langsung mendapatkan pekerjaan di salah satu bank swasta. Mulai dari customer service, teller, hingga bekerja di back office sudah pernah dijajalnya. Tak heran ia memiliki banyak pengalaman kerja di bidang perbankan.


Sementara Vara begitu lulus kuliah, orang tuanya menyuruhnya untuk menikah dengan Riko. Begitu Riko menolak perjodohan dengan alasan masih ingin meniti karirnya, Vara akhirnya kembali melanjutkan pendidikan S2 dan memperoleh gelar Magister Manajemen.


"Vara, kau harus punya gelar pendidikan yang bagus, supaya terlihat bagus saat nama dan gelar pendidikanmu tertera di undangan pernikahan dengan Riko nanti," kata ibu Vara saat memandang bangga ijazah Vara.


"Ibu, apakah harus memakai gelar pendidikan di undangan pernikahan?" tanya Vara.


"Undangan pernikahan bukan ijazah, Bu," keluh Vara.


"Aduh Vara, tentu saja itu kebanggaan bagi keluarga kita dan tentu saja keluarga Riko! Keluarga Riko harus tahu bahwa pendidikanmu begitu bagus! Begitu juga dengan semua orang yang diundang ke acara pernikahanmu nanti! Mereka harus tahu bahwa Riko mendapatkan istri yang tidak hanya sekedar cantik namun memiliki pendidikan yang tinggi sehingga sangatlah pantas untuk mendampingi Riko!" kata ibu Vara begitu antusias.


Namun rupanya hanya sekedar cantik dan berpendidikan tinggi tidak cukup untuk menjadi wanita yang dipilih oleh Riko. Riko lebih memilih Laras yang notabene adalah kekasihnya daripada Vara yang hanya calon tunangannya saja.


...*****...


Santika bergegas menuju ke kantor Royal Grup begitu mendapat komplain dari pihak perusahaan tersebut lantaran mendapat laporan adanya uang palsu yang berasal dari tempatnya bekerja. Kejadian tersebut tentu saja membuat Santika benar-benar terkejut. Sebagai bank yang dipilih menjadi mitra kerja Royal Grup, tentu saja kejadian ini sungguh akan mencoreng namanya sebagai teller yang bertanggung jawab atas transaksi perusahaan itu. Santika merasa kecolongan karena membiarkan ada uang palsu yang lolos begitu saja ke tangan nasabah.


Santika menunjukkan pada Vara uang nominal seratus ribu yang jelas sekali palsu. 


"Lihat, ini uang palsu! Penampakannya sungguh meyakinkan, namun ini jelas sekali palsu! Dari kertasnya saja sudah berbeda," kata Santika saat mereka berada di warung mie ayam untuk makan siang bersama.


"Iya, kau benar, padahal jelas sekali terlihat sama ya," komentar Vara.


"Sungguh itu artinya aku benar-benar harus hati-hati saat menerima uang," kata Vara.


"Kami para teller mendapat uang dari mana saja, mesin penghitung uang jelas menghitung kuantitasnya saja, apalagi jika uangnya sudah dalam posisi di bendel," Santika menjelaskan. "Sungguh aku merasa kecolongan, Vara, meski hanya satu lembar, rasanya jadi paranoid sendiri," lanjut Santika.


"Iya, semua-semua sekarang mudah sekali dipalsukan," komentar Vara.


"Hidup saja banyak dipenuhi kepalsuan," lanjut Vara terkekeh geli.

__ADS_1


Vara jadi teringat, pada awalnya ia dan Viceroy juga memulai pernikahan mereka dengan penuh kepalsuan. Menjadi suami-istri palsu yang tidak menjalani kehidupan pernikahan yang sesungguhnya. Meski pada akhirnya mereka benar-benar saling mencintai dan menjadi pasangan suami-istri yang sesungguhnya.


"Lalu, apa yang kau lakukan di perusahaan itu, Vara?" tanya Santika.


"Aku ikut tes penerimaan karyawan," jawab Vara.


"Wah, kalau kau lolos tes dan diterima, berarti kau akan satu kantor dengan Ozy," sahut Santika.


"Apa?! Ozy bukannya kerja di Royal Grup?" tanya Vara.


"Royal Marine masih satu grup dengan Royal Lines, Royal Plantation, Royal Estate, Royal Construction, terus apa lagi ya kata Ozy," Santika terlihat mengingat-ingat perkataan Ozy.


"Ah, lupa! Pokoknya yang Royal-Royal begitu lah," Santika melanjutkan.


"Waduh, yang kata Ozy pemiliknya seperti monster itu ya?!" Vara terperangah.


Santika mengangguk, sementara Vara nampak memajukan bibirnya.


"Tapi Vara, gaji di sana memang besar! Aku sudah cek sendiri saat melihat rekening Ozy, eh," Santika langsung menutup mulutnya.


Vara tersenyum-senyum melihat wajah Santika yang memerah. 


"San, Ozy itu pria yang baik," kata Vara.


"Vara, tolong ya," cibir Santika.


"Suamiku bahkan pernah bilang, untuk apa cari pria jauh-jauh, ada Ozy!" kata Vara.


"Vara, kau pasti tahu. Aku tidak bisa menikah dengan pria yang levelnya di bawah adik-adik iparku! Sungguh tidak enak dibanding-bandingkan!" kata Santika.


"San, aku tahu! Aku memang anak tunggal, tapi apa kau pikir aku tidak dibanding-bandingkan dengan anak tetangga?" tanya Vara.


"Mulai dari masih kecil, hingga aku sudah menikah seperti saat ini, masih saja terus dibanding-bandingkan! Memang lelah mendengar itu semua, tapi kau tidak bisa hidup dengan mendengar kata orang, dengarkan kata hatimu sendiri," lanjut Vara.


"Oh, Vara! Kau jadi dewasa sekali sejak menikah! Aku jadi terharu," kata Santika langsung merangkul bahu Vara dan bersandar manja.

__ADS_1


"Vara?!"


Vara menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Mata Vara menangkap sosok Riko yang berdiri di depan warung mie ayam. Riko tanpa merasa sungkan langsung duduk dan bergabung dengan Vara dan Santika.


"Sungguh kebetulan bertemu lagi di sini, aku kebetulan cari makan siang di dekat kantor," kata Riko tanpa ditanya.


Vara dan Santika berpandangan, keduanya diam dan melanjutkan makan siang mereka. Vara sungguh lupa, bahwa Riko adalah rekan kerja Ozy. Jika Vara diterima bekerja di Royal Grup, itu artinya Riko akan menjadi rekan kerja Vara. Apalagi kata Ozy, Riko menjabat posisi manajer. Namun bagi Vara, mereka toh tidak punya hubungan apapun. Jadi untuk apa merasa sungkan pada Riko.


"Teman Vara ini, bekerja di Bank M ya? Cabang di mana Mbak?" tanya Riko ke arah Santika.


"Cabang Soediro," jawab Santika.


"Wah, Royal Grup mitra cabang Soediro, sudah lama kerja di situ? Kok tidak pernah lihat, ya?" tanya Riko lagi.


"Saya sempat di back office," jawab Santika.


"Oh, pantas saja," kata Riko.


Pesanan Riko datang, Riko segera makan dengan lahap. Ia merasa senang bisa bertemu dan makan siang bersama Vara meski mereka sama sekali tidak ada janjian.


Riko segera membayar semua makanan begitu Vara akan membayar pesanannya dan Santika.


"Riko, berapa semuanya? Akan aku ganti," kata Vara.


"Tidak perlu, Vara, anggap saja aku traktir," kata Riko.


"Baiklah, terima kasih atas kemurahan hatimu, Riko," kata Vara berpamitan.


"Vara, kau mau kembali ke kantor? Aku antar ya," kata Riko.


"Terima kasih Riko, aku akan naik angkutan kota saja," tolak Vara.


"Vara, sekalian ada yang harus kita bicarakan," kata Riko.


Vara menatap tajam ke arah Riko, entah apa yang ingin dibicarakan oleh pria itu. Pembicaraan mereka selalu tak pernah berakhir dengan baik. Terlebih Riko selalu tersenyum penuh kepalsuan.

__ADS_1


__ADS_2