Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Grup Biro Jodoh


__ADS_3

"San, apa ada pria yang bisa kau kenalkan untukku, yang bisa menikahiku dalam waktu dekat ini?" tanya Vara sambil menelepon Santika.


"Kalau ada pria seperti itu lebih baik untukku saja Vara," Santika terkekeh.


"Ini serius, San," cibir Vara.


"Ikut saja kencan buta, kau pasti tahu kalau para pria pasti lebih memilih gadis-gadis berusia muda!" cibir Santika.


"Jangan putus asa begitu, usia bukan tolak ukur kedewasaan seseorang!" sahut Vara.


"Kalau yang mau main-main, banyak saja, tapi untuk menikah pasti tidak mungkin," kata Santika.


"Baiklah, kabari aku ya," Vara segera menutup teleponnya.


Vara berusaha berkonsentrasi untuk kembali bekerja. Namun, ia tidak bisa melakukannya dengan baik. Ia masih kepikiran, bagaimana ia bisa mendapatkan seorang pria yang bersedia menikah dengannya dalam waktu dekat?


Tentunya ia tidak perlu repot-repot membayar orang. Lagipula pernikahan ini hanya untuk status saja.


"Ada apa, Vara? kau terlihat gelisah," tanya Mbak Rani.


"Aku baik-baik saja, Mbak," jawab Vara.


Vara tentu tidak bisa menceritakan masalahnya ini kepada orang kantornya. Kalau ia mengatakan mencari pria untuk menikah dengannya dalam waktu dekat ini, ia pasti akan dituduh yang tidak-tidak. Apalagi di perusahaan tempat Vara bekerja ini, dindingnya saja mempunyai telinga. Berita sekecil apapun bisa langsung meledak besar bak tabung gas bocor terciprat api.


Kalau ikut aplikasi kencan buta, Vara benar-benar tidak berani. Banyak kasus buruk yang tersiar lantaran kencan buta yang berujung pembunuhan.


Vara membuka aplikasi pesan berlogo hijau di ponselnya, nampak grup perpesanan sekolah sedang ramai dibanjiri komentar lantaran ada seseorang yang nampaknya sedang membuka pertanyaan.


"Siapa wanita yang masih lajang? Minat japri."


Banyak orang yang berkomentar, Vara malas jika harus memanjat ke atas untuk membaca komentar. Ia hanya membaca poin-poin yang paling banyak dikomentari.


"Ini lowongan kerja?"


"Ini cari istri?"


"Memangnya masih ada yang lajang?"


"Janda boleh?"

__ADS_1


Vara mencoba membaca baik-baik isi percakapan tersebut. Ada teman satu angkatannya yang mencari pasangan. Sejak beberapa tahun yang lalu, grup perpesanan sekolahnya tiba-tiba saja merangkap menjadi grup biro jodoh. Cukup banyak pasangan yang akhirnya menyebarkan undangan pernikahan di grup.


"Memangnya siapa yang sedang cari jodoh?"


Vara menunggu jawaban dari komentar yang ia kirimkan. 


"Minat japri."


Vara berdecak kesal, siapa sebenarnya orang ini? Memangnya dia sedang buka lapak?


Apa dia benar-benar sedang mencari istri?


Vara mengalihkan perhatiannya dari ponsel, ia harus kembali bekerja.


"Hari ini lembur lagi ya, Vara?" tanya Mbak Rani ke arah Vara yang masih belum bergerak dari kursinya, padahal jam sudah menunjukkan pukul lima sore.


"Iya, Mbak, tenggat waktunya besok," keluh Vara.


"Semangat!" sahut Mbak Rani.


"Duluan ya, Vara," pamit wanita itu.


Mata Vara terpana saat melihat sosok pria tampan sang pemilik perusahaan sedang melintas di koridor depan ruangan Vara. Namanya pemilik perusahaan, pria itu bisa datang ke kantor sesuka hatinya. Tidak peduli siang, atau sore, bahkan malam, pria itu akan tetap datang ke kantor.


Pria itu memasuki lift yang mengantarnya menuju ke ruangannya. Nampak sopir pribadi pria itu memasuki ruangan kerja Vara.


"Pak Ryo minta disiapkan kopi dan makan malam," kata sopir bernama Pak Dul itu menghampiri meja kerja Vara.


Vara selaku petugas pengeluaran kas kecil operasional tentu saja harus menyerahkan sejumlah uang tunai.


"Pak Ryo mau makan apa?" tanya Vara.


"Ikan bakar," jawab Pak Dul.


Vara menyodorkan uang tunai kepada Pak Dul.


"Jangan lupa notanya ya, Pak," pesan Vara.


Vara kembali melanjutkan pekerjaannya, laporan harian yang harus ia kerjakan sesegera mungkin.

__ADS_1


Tak berapa lama Pak Dul kembali membawa bungkusan makanan untuk atasannya.


"Mbak Vara, bisa tolong diaturkan dan antarkan ke ruangan Pak Ryo?" tanya Pak Dul.


"Baik, Pak," sahut Vara menutupi rasa antusiasnya.


Inilah salah satu alasan mengapa Vara sering pulang terlambat, ia bisa melihat kehadiran Pak Ryo di kantor. Pak Ryo cukup sering makan malam di kantor, karena pria itu masih bekerja hingga malam. Saat siang hari, office girl yang akan mempersiapkan makan siang untuk Pak Ryo. Sedangkan kalau malam, menjadi tugas siapapun yang masih ada di kantor untuk mempersiapkan makan malam Pak Ryo. Vara sudah hafal apa yang harus ia lakukan untuk mempersiapkan makan malam pria itu.


Vara segera menuju ke pantri, ia menyiapkan nampan kayu, lalu menata piring dan mangkok, sendok yang dibungkus dengan tisu, serta bungkusan makanan yang diletakkan di piring terpisah. Ia juga meletakkan tumbler kedap panas yang menjadi wadah kopi kesukaan Pak Ryo.


Vara segera mengantarkan nampan itu ke ruangan Pak Ryo.


"Pak Ryo, permisi," kata Vara masih berdiri di ambang pintu ruangan pria itu.


"Silakan," Pak Ryo mempersilakan Vara masuk.


Pria itu duduk di depan sofa sambil mengetik di layar ponselnya.


Vara segera meletakkan nampan tersebut di atas meja kaca di depan sofa berbentuk huruf L yang ada di ruangan besar tersebut.


"Silakan, Pak, kalau masih ada yang kurang tolong diinfokan saja," kata Vara sambil menatap Pak Ryo.


"Terima kasih, ya," kata Pak Ryo tanpa beralih dari ponselnya.


Vara tersenyum menatap Pak Ryo yang begitu tampan, pria berkulit cerah dan terawat, dengan tubuh tinggi yang ramping. Kemeja putih selalu menjadi busana wajibnya saat ke kantor. 


Vara tentu saja sangat mengidolakan bosnya itu, begitu pula dengan karyawati lain. Banyak karyawati yang terang-terangan menggoda Pak Ryo. Hingga akhirnya turun surat keputusan yang menyatakan bahwa sesama karyawan dilarang memiliki hubungan asmara. Salah satu harus mundur dari perusahaan jika memang terlibat cinta lokasi.


Dengan adanya surat keputusan tersebut, membuat para karyawati yang semula begitu mengejar Pak Ryo akhirnya mereka harus mundur teratur. Begitulah cara elegan Pak Ryo menolak semua karyawati dengan caranya yang begitu halus namun sadis.


Pak Ryo terlihat keluar dari lift dengan ponsel yang menempel di telinganya. Vara bisa melihat Pak Ryo sedang berbincang dengan seseorang.


"Aku akan menikah lebih dulu darimu!" kata Pak Ryo.


Vara terperangah mendengar apa yang baru saja didengarnya.


Pak Ryo akan menikah?


Vara bisa mendengar suara hatinya yang hancur berkeping-keping. Pria yang menjadi idolanya itu akan menikah?

__ADS_1


 


__ADS_2