Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Istri Kesekian


__ADS_3

Vara menuju ke binatu yang lokasinya tak jauh dari kantornya untuk mengantar pakaian kotor dan mengambil pakaiannya yang sudah bersih. Hari ini ia memutuskan untuk tidak lembur, karena ingin beristirahat pasca mabuk kendaraan.


Vara mencoba menghubungi ponsel Viceroy, namun lagi-lagi teleponnya sibuk. Vara heran, mengapa sulit sekali menghubungi pria itu. Seakan hanya pria itu yang bebas menghubungi Vara. Seperti kata Ozy, apa Vara adalah istri kesekian Viceroy?


Vara segera mengetik pesan untuk pria itu. 


-aku perlu ke hotel lebih cepat, aku lelah sekali -


Pria itu bahkan tidak segera membalas pesan Vara. Padahal ponsel merupakan barang yang tidak bisa lepas dari genggaman pria itu. Bahkan Viceroy masih sibuk berbincang meski sudah larut malam. Seakan pria itu sedang menduakannya dengan hal lain, sehingga Vara sama sekali tidak penting.


Ck, Vara berdecak kesal.


Vara segera sadar, untuk apa ia kesal, sungguh seperti orang bodoh. Bukankah mereka sepakat untuk tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing?


Mereka berdua bahkan tidak menjalani kehidupan pernikahan pada umumnya, karena pernikahan mereka hanya sekedar formalitas.


Vara menuju ke alun-alun kota untuk mencari makan malam. Sehingga saat tiba di hotel, ia hanya perlu mandi lalu pergi tidur seperti biasanya. Alun-alun nampak ramai dipenuhi pengunjung karena sudah memasuki akhir pekan. Apalagi alun-alun kota menjadi salah satu pusat kuliner kaki lima. Banyak pedagang yang menjajakan aneka makanan dan minuman yang dipenuhi pengunjung.


Vara sudah tiba di rombong pedagang lalapan ayam goreng yang menjadi langganannya. Ia juga memesan es kacang merah dan salad buah.


Ponsel Vara berdering, mendapati nama Viceroy tertera di layar datar itu. Rasanya Vara enggan untuk menjawab panggilan pria itu. Namun, akhirnya ia menjawab juga.


"Kau di mana?" tanya Viceroy.


"Aku di alun-alun," jawab Vara singkat.


"Baiklah, aku ke sana," sahut Viceroy.


"Aku baru mau mengajakmu pergi makan malam bersama," kata Viceroy begitu menemui Vara yang sedang menikmati semangkuk es kacang merah.


Vara hanya diam tidak menanggapi, karena selama ini mereka memang tidak pernah makan malam bersama.

__ADS_1


"Coba kucicipi," Viceroy menyambar tangan Vara yang memegang sendok berisi es kacang merah, lalu mengarahkan ke mulutnya.


"Aku mau juga, kau pesan di mana?" tanya Viceroy.


Vara hanya menunjuk ke arah pria paruh baya yang berjualan dua rombong dari posisi mereka. Viceroy segera menghampiri pria itu, ia juga memesan lalapan ayam goreng seperti yang dipesan Vara.


"Kenapa kau hanya diam saja?" tanya Viceroy ke arah Vara.


Vara tidak menjawab, ia mengunyah kacang merah lambat-lambat.


"Kau marah padaku?" tanya Viceroy lagi.


"Tidak, untuk apa aku marah padamu?" Vara balik bertanya.


"Lalu, kenapa kau hanya diam saja?" tanya Viceroy.


"Aku hanya berpikir, mengapa aku begitu sulit menghubungimu? Seolah hanya kau yang bisa mencariku," jawab Vara.


"Maaf, bukannya begitu, aku memang benar-benar sangat sibuk, tapi aku tahu kau menghubungiku, makanya aku menghubungimu setelah urusanku selesai," jawab Viceroy.


"Viceroy, aku mencarimu karena memang ada hal penting, aku bukan orang yang sekedar iseng hanya untuk menanyakan apa kau sudah makan atau belum," kata Vara.


Viceroy menatap lurus ke arah Vara yang mengerucutkan bibirnya. Viceroy merasa Vara terlihat imut saat merasa kesal.


"Viceroy, maaf, tolong abaikan perkataanku, aku merasa emosiku saat ini sedang tidak stabil, tolong jangan diambil hati," lanjut Vara.


"Kenapa jadi kau yang minta maaf? Aku yang salah," kata Viceroy.


"Tidak, aku yang salah," kata Vara.


"Vara, aku yang salah," kata Viceroy.

__ADS_1


"Saya yang salah, Mbak, Mas," kata bapak penjual es yang mengantarkan pesanan Viceroy.


Vara dan Viceroy berpandangan, keduanya lalu tertawa bersama. Mereka sungguh terlihat seperti orang bodoh lantaran meributkan hal yang tidak jelas.


"Berapa semua, Bu?" tanya Vara kepada ibu penjual lalapan.


"Sudah dibayar sama Mas yang tinggi tadi, Mbak," jawab si ibu penjual lalapan.


Vara segera menghampiri Viceroy.


"Viceroy, berapa aku harus membayar makananku?" tanya Vara.


"Tak perlu, aku traktir kau," jawab Viceroy.


"Jangan berlagak seperti orang yang punya banyak uang! Lebih baik kau tabung uangmu untuk membantu meringankan beban kakakmu, jangan biarkan kakakmu bekerja keras sendiri," kata Vara menasehati.


Viceroy mengerutkan keningnya, apa Vara menanggapi secara serius perkataan Viceroy saat ia sedang menarik simpati calon mertuanya?


Apa Vara benar-benar berpikir bahwa Viceroy adalah pedagang ikan seperti yang dikatakan ibu Vara?


Yang benar saja, untuk apa Viceroy membantu kakaknya bekerja? Kakaknya bisa menghasilkan banyak uang tanpa perlu bekerja keras.


"Jadi, malam ini kita menginap di mana lagi?" tanya Vara.


"Mau coba tebak-tebakan lagi?" Viceroy balik bertanya.


"Tidak perlu, terserah kau mau bawa aku ke mana," cibir Vara.


"Jadi, tidak masalah kalau kau kubawa ke neraka?" tanya Viceroy seraya tertawa.


"Tidak masalah, yang penting kau ikut juga," sahut Vara.

__ADS_1


Viceroy tertawa lagi, namun kali ini ia justru merasa berdebar-debar.


__ADS_2