
Vara bergegas menuju ke ruangan Pak Ryo saat pria itu meneleponnya melalui interkom. Vara bertanya-tanya, untuk apa pria itu mencarinya di saat hari masih terang?
Vara mengetuk pintu ruangan Pak Ryo.
"Permisi, Pak," kata Vara.
"Silakan masuk," kata Pak Ryo yang masih duduk di kursi di depan meja kerjanya.
Vara duduk di kursi yang ada di depan meja Pak Ryo yang masih terlihat sibuk berkutat di depan ponsel cerdas. Vara masih menunggu, orang penting memang harus selalu ditunggu, padahal pekerjaannya masih banyak.
"Bu Vara, bukankah saya pernah mengatakan pada anda untuk menjadi pasangan ganda di turnamen internal?" kata Pak Ryo.
"Ma-maaf, Pak, saya belum bisa ikut," kata Vara.
"Apa alasan anda?" tanya Pak Ryo.
"Raket saya rusak, belum ada waktu untuk diperbaiki," jawab Vara.
Vara menunduk, mengingat kepala raketnya yang retak akibat melawan Viceroy. Vara sungguh tak tahu bahwa Viceroy ternyata jago bermain bulu tangkis.
Vara sungguh kaget, Viceroy bahkan memiliki gedung bulu tangkis yang lokasinya berada tak jauh dari pekarangan belakang rumahnya. Awalnya Vara berpikir bahwa bangunan terpisah dari rumah utama itu hanyalah gudang penyimpanan barang-barang.
"Dulu ayahku sangat suka bermain bulu tangkis, beliau membangun gedung bulu tangkis di belakang rumah kami, jadi sejak kecil aku dan kakakku selalu bertanding bulu tangkis bersama," kata Viceroy.
"Jadi, lebih jago siapa di antara kalian berdua?" tanya Vara.
__ADS_1
"Lebih jago ibuku," jawab Viceroy.
"Serius?" tanya Vara.
"Kalau ibu sudah memanggil, kami langsung berhenti bertanding!" jawab Viceroy seraya tertawa.
Vara mengerutkan keningnya, kalau harus membeli raket baru, Vara sudah nyaman dengan raketnya. Lagi pula ia belum ada waktu untuk memperbaiki raketnya.
Pak Ryo nampak menatap tajam Vara. Pria itu mengeluarkan dua buah tas raket dari bawah meja kerjanya. Vara terpana saat Pak Ryo mengeluarkan dua buah raket yang berharga fantastis, salah satu jenis raket terbaik di kelasnya.
"Malam ini saya akan turun ke lapangan," kata Pak Ryo.
"Maaf Pak, saya tidak bisa janji, karena masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan," Vara menolak.
"Kalau kita menang, kau berhak atas semua hadiah!" kata Pak Ryo.
"Lagipula, sudah babak final juga," kata Pak Ryo lagi. "Saya tentu tidak akan membiarkan adanya kemenangan WO (Walk Over) di babak final," lanjut Pak Ryo.
Vara sungguh merasa terbebani dengan permintaan Pak Ryo. Atasannya ini bahkan sampai menyiapkan raket untuk Vara. Belum lagi, semua hadiah yang disiapkan akan menjadi miliknya. Lumayan untuk traktir teman kantor, perbaikan raket, dan mengajak Viceroy untuk nongkrong di kafe mewah.
"Tapi mohon maaf, Pak, saya tidak bawa sepatu olahraga, kalau harus pulang kembali mengambil sepatu, pastinya tidak akan sempat," jawab Vara.
Pak Ryo menatap kembali Vara yang jelas bersikeras menolak ajakannya. Vara tidak berani menolak permintaan Pak Ryo yang sebenarnya cukup membebaninya.
"Lagi pula, Pak, saya tidak enak dengan teman-teman yang sudah bertanding sejak awal, saya tidak pernah bertanding, malah langsung masuk final," kata Vara lagi.
__ADS_1
"Bu Vara, itu terserah saya, saya bahkan bisa membatalkan turnamen! Mereka pasti akan lebih kesal lagi, jika tahu saya membatalkan turnamen karena anda tidak bersedia menjadi pasangan ganda saya," kata Pak Ryo sambil tersenyum.
Vara tersenyum, ia sungguh tidak akan lupa betapa berkuasanya Pak Ryo.
...*****...
"Vara, nanti malam aku akan terlambat menjemputmu, masih banyak urusan yang harus kuselesaikan," kata Viceroy menelepon Vara.
"Iya, aku mengerti," jawab Vara.
"Kalau terlalu malam, buka kamar hotel saja," kata Viceroy.
"Tidak perlu, nanti aku tunggu di rumah Santika saja," kata Vara.
"Baiklah, kalau begitu, akan kujemput," kata Viceroy.
"Terima kasih," Vara menutup teleponnya.
Vara merapikan meja kerjanya, Vara sungguh kaget karena Pak Ryo sudah menunggu di ambang pintu ruang kerjanya.
"Saya tunggu di tempat parkir, kita ke gedung sama-sama, ada hal yang harus saya berikan pada anda," kata Pak Ryo, kemudian pergi lebih dulu ke tempat parkir.
...*****...
Vara segera memasuki mobil mewah Pak Ryo. Mobil yang berbeda dari mobil yang biasa Pak Ryo gunakan sehari-hari. Mobil sport berwarna hitam yang harganya pasti miliaran. Bagi Vara, atasannya ini benar-benar hidup penuh dengan kemewahan.
__ADS_1
Pria itu menyerahkan sebuah kotak ke arah Vara. Vara membuka kotak berisi sepatu olahraga berwarna merah muda menyala. Pantas saja tadi Pak Ryo menanyakan ukuran sepatu Vara. Pria itu juga menyodorkan selembar jersey bulu tangkis berwarna putih dengan gradasi biru gelap beserta huruf V besar di bagian belakang.
"Pakailah, dan bawa kemenangan untuk saya," kata Pak Ryo sebelum mereka meninggalkan parkiran.