
Viceroy merasa begitu malas untuk membuka matanya, namun ia mendengar suara Vara yang memanggilnya dari arah kamar mandi. Viceroy terhuyung saat ia berguling ke sisi kasur yang lain, yang ditempati Vara. Ia merasa menyentuh sesuatu yang basah pada sisi kasur Vara. Ia terkejut saat melihat noda darah di atas seprai putih, membentuk peta benua Australia.
"Vara!! Kenapa ada darah?!" seru Viceroy. "Kau terluka?! Apa kau mencoba bunuh diri?!" seru Viceroy lagi.
Vara keluar dari kamar mandi dengan wajah memerah menahan malu.
"Viceroy, aku baik-baik saja, aku tidak mencoba bunuh diri," sahut Vara.
"Kenapa ada noda darah di kasur?!" kata Viceroy panik.
Vara meringis.
"Viceroy, aku sungguh lupa, tamu bulananku datang lebih cepat dari biasanya, bisakah kau membantuku membeli barang itu? Aku jadi tidak bisa ke mana-mana," kata Vara.
Viceroy melongo.
"Barang itu?" tanya Viceroy keheranan.
"Pembalut, tolong ya, aku tidak mungkin meninggalkan noda darah di setiap langkahku," sahut Vara.
"Aku mandi dulu," sahut Viceroy.
"Kalau bisa sekarang juga ya, kau pasti tidak ingin melihat genangan darah!" kata Vara lagi.
Viceroy segera menuju ke minimarket terdekat yang berada di belakang hotel tempat mereka menginap. Rasanya sungguh menggelikan, Viceroy yang bahkan tidak mencuci mukanya harus pergi membeli pembalut di pagi hari. Begitu memasuki minimarket, ia mencari pembalut yang sesuai dengan gambar yang dikirim Vara.
"Mas," panggil Viceroy kepada pemuda yang bekerja di minimarket itu. "Yang seperti ini, tapi ada sayapnya, ada?" tanya Viceroy sambil mengambil satu pak pembalut dari rak.
"Kalau tidak ada di rak, berarti tidak ada Mas," jawab pemuda itu.
Viceroy mengerutkan keningnya. Ia segera menelepon Vara.
__ADS_1
"Yang bersayap adanya merk lain! Mau?".
"Aku lebih suka yang ada sayapnya," jawab Vara. "Aku tidak bisa pakai merk lain," lanjut Vara.
"Baiklah, nanti kau buat saja sayapnya sendiri!" sahut Viceroy sambil menutup teleponnya.
Terlihat seorang pria paruh baya yang juga sedang mencari pembalut mendengar pembicaraan Viceroy.
"Jangan menyuruhku mencari yang tidak ada," gerutu Viceroy.
"Mas, mau tahu, cara supaya tidak disuruh membeli pembalut lagi?!" kata bapak itu.
"Stok yang banyak," sahut Viceroy.
"Bikin anak yang banyak!" bapak itu tertawa sambil berlalu.
Viceroy mendelik gusar, ia segera menuju ke kasir untuk membayar satu rak pembalut yang sudah dikosongkannya.
Vara memutar bola matanya saat Viceroy kembali ke kamar hotel dengan membawa begitu banyak pembalut.
"Agar kau tidak perlu menyuruhku lagi," sahut Viceroy.
"Astaga Viceroy, bagaimana caraku membawa pembalut sebanyak ini? Sedangkan kita hidup secara nomaden," Vara memijat keningnya.
"Baiklah, nanti akan kukirimkan ke alamat rumahku, seperti barang-barangmu yang lain," jawab Viceroy mengalah.
Ponsel Viceroy berdering, ia sungguh kaget karena ibunya menelepon sepagi ini.
"Roy, bawa istrimu ke rumah sekarang!" kata ibunya, kemudian menutup teleponnya.
"Vara, tolong temui ibuku, ya" kata Viceroy.
__ADS_1
"Kapan?" tanya Vara.
"Sekarang," jawab Viceroy.
Vara hanya bisa tersenyum kecut, ini sungguh mendadak. Siap tidak siap, Vara tetap harus menemui ibu Viceroy.
Di tangan wanita itu, nasib Vara ditentukan. Jika Vara tidak lulus uji sertifikasi tersebut, pernikahannya dengan Viceroy harus dibatalkan dan Vara bisa-bisa dipaksa pulang kampung oleh orang tuanya.
Vara segera memakai dress berwarna merah muda lembut dengan panjang medium dan kardigan panjang berwarna hitam. Ia mengurai rambut hitamnya yang panjang dan memakai bando mutiara tipis. Viceroy berusaha untuk tidak nampak terpana melihat Vara yang begitu manis, ia menahan diri agar tubuhnya tidak bertindak di luar kendalinya. Ia tidak ingin terlihat seperti pria murahan yang mudah tergoda. Sudah cukup ia bertindak memalukan dengan menciumi kaki Vara lantaran tergoda hanya karena melihat kaki Vara yang membuatnya tergoda. Giliran ia menggoda Vara, wanita itu justru tidak tergoda.
Vara begitu tegang saat sepeda motor yang dikendarai Viceroy terhenti di pelataran sebuah rumah mewah yang berada di kawasan perumahan paling elit di kota ini. Vara hanya tahu bahwa kakak Viceroy bekerja sangat keras, pantas saja bisa mempunyai rumah semewah ini. Namun, Vara tidak terlalu terkejut, karena wajar saja orang yang bekerja begitu keras memiliki rumah semewah itu. Kakak Viceroy pasti juragan sembako.
Vara berdebar-debar, seperti apa penampilan ibu Viceroy?
Dalam benak Vara terbayang, wanita paruh baya memakai daster dengan sarung, sambil mengunyah sirih dan pinang. Apalagi menurut Viceroy, ibunya sangat keras dan kolot. Jangan pernah berkata tidak, jangan pernah menjawab jika ibunya dalam keadaan marah, dan tatap matanya saat bicara.
Bi Jiah, pembantu rumah tangga, membukakan pintu untuk keduanya.
"Bi Jiah, Ibu di mana?" tanya Viceroy.
"Nyonyah masih yoga, Mas Roy," jawab Bi Jiah.
"Bi Jiah, ini istriku, Vara. Sampaikan pada Ibu, aku masih ada urusan, nanti aku akan kembali lagi," kata Viceroy berpesan pada wanita paruh baya itu.
"Iya, Mas Roy," Bi Jiah menyahut.
Viceroy segera bergegas pergi, ia menelepon sopir untuk mengambil barang-barang yang dititipkan di hotel untuk dibawa ke rumah kakaknya ini.
"Tolong barang-barangnya simpan di dalam mobil saja," perintah Viceroy.
Ia segera menuju ke garasi untuk mengambil mobilnya, rupanya kakaknya tidak ada di rumah karena mobil kakaknya tidak ada di garasi.
__ADS_1
Viceroy segera mengemudikan mobilnya menuju ke lapangan golf, pagi ini ia sudah ada janji bermain golf dengan kliennya sambil membicarakan bisnis.
Ia merasakan hal yang tidak enak saat meninggalkan Vara. Namun ia yakin, Vara akan baik-baik saja.