Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Masakan Suami


__ADS_3

Vara terbangun dari tidurnya, ia begitu lelah karena menangis sesenggukan semalam. Ia menatap sisi kasur yang kosong. Biasanya, Viceroy masih meringkuk di kasur, apa Viceroy benar-benar marah atas kejadian semalam?


Vara menyadari, bahwa semalam ia jelas sekali membuat Viceroy marah. Ia memadamkan hasrat yang tengah membakar pria itu begitu saja. Pria yang sedang terbakar gairah pasti butuh pelepasan, dan Vara tidak mengizinkan pria itu untuk melepaskan hasrat terpendamnya. Vara sungguh takut, karena semalam Viceroy berubah menjadi pria yang tidak dikenalnya. Vara sungguh belum siap menerima sosok Viceroy yang seperti itu.


Vara segera menuju ke dapur untuk menyiapkan makan pagi mereka.


Vara terkejut mendapati Viceroy yang sudah sibuk berkutat di dapur. Pria itu sedang mengaduk-aduk sesuatu di dalam panci.


"Selamat pagi, Vara," sapa Viceroy tersenyum hangat.


Vara hanya mengangguk.


"Apa tidurmu nyenyak?" tanya Viceroy sambil mematikan kompor.


"Viceroy, maaf," kata Vara.


"Pergilah mandi," kata Viceroy.


"Masaknya?" tanya Vara.


"Biar aku yang memasak," jawab Viceroy.


Vara mengangguk, ia menuju ke ruang binatu untuk menyiapkan pakaian yang akan disetrikanya. Vara sungguh terkejut karena semua pakaiannya yang ada di ruang binatu sudah dalam keadaan disetrika dengan rapi. Tidak mungkin ia menyetrika sambil tidur!


Apa Viceroy yang melakukannya?

__ADS_1


"Viceroy, kau menyetrika pakaianku?" tanya Vara.


"Bukan, tanganku yang melakukannya," jawab Viceroy tersenyum.


"Viceroy, kenapa?" tanya Vara keheranan.


"Aku tahu kau lelah, aku hanya membantu yang bisa kulakukan," jawab Viceroy. "Segeralah mandi, kita sarapan bersama," lanjut Viceroy sambil memotong-motong sayuran dan memasukkannya dalam panci berisi air mendidih.


Vara segera bergegas mandi di kamar mandi yang ada di lantai bawah. Usai mandi dan berpakaian, ia segera menuju ke dapur.


Vara menatap Viceroy yang sibuk menata meja makan seperti yang biasa Vara lakukan jika mereka akan makan bersama. Viceroy memasak sup ikan, sayur rebus, omelet, dan kentang rebus untuk menu sarapan pagi mereka. 


"Viceroy, apa kau kursus memasak juga?" tanya Vara terheran-heran.


"Tidak, dulu semua urusan di rumah menjadi tanggung jawabku," jawab Viceroy. "Ibuku menjadi tulang punggung keluarga pasca kematian ayah yang begitu mendadak lantaran serangan jantung, begitu juga dengan kakakku," lanjut Viceroy.


Vara menatap Viceroy yang menyembunyikan kesedihan dari sorot matanya.


Vara segera memakan masakan Viceroy, Vara terpana, karena masakan Viceroy sungguh enak.


"Astaga, masakanmu lebih enak dari masakanku," Vara terpesona.


"Habiskan, bukankah kau selalu bilang, menghadapi kenyataan itu berat," kata Viceroy.


Vara menatap Viceroy yang terlihat nampak begitu segar dan harum. Rupanya begitu selesai memasak, pria itu segera mandi dan berpakaian rapi. Viceroy memakai kemeja hitam yang begitu pas di tubuhnya. 

__ADS_1


"Viceroy, maafkan aku," kata Vara.


"Untuk apa kau meminta maaf?" tanya Viceroy. "Justru aku yang harusnya minta maaf padamu, maaf sudah membuatmu merasa tidak nyaman," kata Viceroy.


...*****...


Vara segera membereskan meja makan dan mencuci piring sebelum mereka pergi meninggalkan rumah. 


"Vara, ini, gunakanlah," kata Viceroy menyodorkan sebuah kartu debit yang ia ambil dari dalam dompetnya.


"Untuk apa kartu debit?" tanya Vara.


"Gunakanlah untuk berbelanja," jawab Viceroy. 


"Viceroy, aku sungguh berterima kasih atas kemurahan hatimu, tapi aku punya gaji yang bisa kugunakan," tolak Vara.


"Vara, jangan membuatku terlihat seperti suami yang hanya bisa memeras keringat hasil kerja istri," kata Viceroy. "Sudah jadi kewajibanku untuk bertanggung jawab penuh atas hidupmu," lanjut Viceroy.


"Pinnya adalah tanggal pernikahan kita, kalau memang kau merasa kurang, katakan saja, akan segera kutambah saldonya."


"A-apa aku perlu mencatat pembukuannya?" tanya Vara.


"Selama kau mempergunakannya di jalan yang benar, kau tak perlu melakukannya," jawab Viceroy.


"Jadi, maksudmu selama ini aku berjalan di jalan yang salah?" tanya Vara seraya tertawa.

__ADS_1


"Maksudku, jangan pergunakan untuk membayar pijat erotis atau pria panggilan!" sahut Viceroy.


Vara tertawa lagi, Viceroy tersenyum melihat Vara yang nampak ceria. Ia segera mendekap Vara dengan penuh kasih sayang, karena baginya, Vara amatlah berharga. Ia sungguh menyesal semalam ia justru membiarkan ego menguasai dirinya. Wajar saja Vara begitu ketakutan dan menangis seperti itu, karena Viceroy pasti terlihat seperti monster di mata Vara. Lagi pula masih ada keraguan dalam hati Vara, wanita itu meragukan bahwa Viceroy begitu mencintainya. Satu-satunya cara untuk meyakinkan bahwa Viceroy begitu mencintainya adalah dengan memberi bukti nyata pada Vara.


__ADS_2