
Mengawali pagi terasa begitu berat untuk Vara. Rasanya sungguh malas untuk pergi ke kantor. Sudah beberapa malam ini Viceroy selalu tidur dalam posisi memeluknya. Anehnya, Vara menyukainya dan sama sekali tidak menolaknya. Ia benar-benar tertidur lebih nyenyak dan berujung bangun kesiangan.
Keduanya sama-sama panik saat harus berebut kamar mandi. Mereka memutuskan untuk hompimpah, namun Vara tidak bisa menerima kekalahannya.
"Viceroy, kalau aku terlambat, gajiku dipotong!" rengek Vara di ambang pintu kamar mandi.
"Tidak bisa, Vara, aku lebih rugi lagi," kata Viceroy.
"Aku tidak mungkin ke kantor dengan muka bantal begini!" gerutu Vara.
"Mau mandi bersama?" goda Viceroy.
Vara mendelik gusar, ia mendesak masuk ke kamar mandi. Ia segera menggosok giginya, ia tak peduli dengan kehadiran Viceroy yang menggosok gigi sambil mengguyurkan diri di bawah pancuran.
"Vara, tolong sabun di atas wastafel! kata Viceroy dari balik tirai yang tertutup.
Vara mengambil sabun cair dan menyodorkannya pada Viceroy. Viceroy tersenyum licik, ia menarik tangan Vara, membuat Vara ikut terguyur air di bawah pancuran. Viceroy tertawa karena Vara begitu panik melihat tubuh polos pria itu. Vara bahkan bergegas pergi, namun pria itu langsung meraih wajah Vara dan memberinya sebuah kejutan. Aroma mint dan sensasi dingin langsung menjadi menu sarapan Vara pagi ini. Vara menerimanya tanpa penolakan sama sekali, seperti orang yang terkena hipnotis.
Gara-gara perbuatan Viceroy yang begitu iseng, akhirnya Vara benar-benar terlambat datang ke kantor. Harusnya Vara cukup menggosok gigi dan mencuci muka, akhirnya harus berbasah-basah ria.
Vara segera menuju ke kantornya. Vara selalu membawa tas berukuran besar ke mana-mana, membuatnya terlihat seperti orang yang diusir dari rumah. Ia segera duduk di kursinya, lalu memulaskan lipstik warna pink lembut ke bibir. Lagi-lagi wajahnya merona merah, mengapa ia jadi terbayang-bayang kelakuan gila Viceroy?
Meja kerja Vara yang tadinya hanya dipenuhi dokumen, kini berfungsi juga menjadi tempat Vara meletakkan koleksi losionnya. Vara memang pecinta losion tubuh, beraneka jenis merek dan aroma tersusun rapi di pinggir meja kerjanya. Teman-teman kantor yang mampir di meja kerjanya selalu terpana dengan koleksi losion yang dimiliki Vara.
"Mbak Vara, boleh coba yang merek itu?" tanya Elva menunjuk losion beraroma teh hijau.
"Silakan," kata Vara, bak pramuniaga toko kosmetik.
"Mbak, banyak sekali losionnya, apa coba faedahnya?" tanya Jenah yang ikut mengambil losion jenis lain.
"Itu fungsinya mencerahkan kulit 5x, kalau yang ini, mencerahkan kulit sejak pemakaian pertama, yang ini ada anti penuaan! Yang ini mencerahkan 100x," jawab Vara.
"Ya ampun, Mbak Vara ini sudah putih, untuk apa pakai losion pemutih lagi?" tanya Elva.
"Aku rasa Vara itu terobsesi menjadi transparan!" sahut Mbak Rani seraya terkekeh.
"Aduh, kalian ini, aku ini sudah menghitam, kusam!" cibir Vara.
"Astaga, Mbak Vara yang begini dianggap hitam? Apa kabar kita, Mbak?" Elva terbelalak saat membandingkan pergelangan tangannya dengan tangan Vara.
"Bandingkan kulit terawat dan tidak terawat," kata Jenah seraya tertawa.
"Lihat, ditambah warna kulitku, jadi seperti efek pemakaian losion secara teratur," sahut Mbak Rani yang ikut membandingkan pergelangan tangannya.
Vara tertawa, mereka belum melihat Viceroy yang seperti Putri Salju.
__ADS_1
"Aku baru perhatikan, sepertinya Mbak Vara sekarang pakai cincin ya? Coba lihat, Mbak," kata Jenah.
Vara melepas cincin di jari manis kirinya.
"Cincin apa ini, Mbak?" tanya Jenah lagi.
"Cincin beli di Pak Lek yang jual mainan di depan SD," sahut Vara seraya tertawa.
"Seperti cincin kawin ya," Elva menanggapi.
"Sudah, sudah, jangan menggiring opini begitu," kata Mbak Rani.
"Ehem, Mbak Vara waktu itu kepergok di gerai kopi Starbook bersama Mas Ganteng yang pernah jemput Mbak pulang kantor, ya, 'kan?" seloroh Jenah.
Vara tertawa lagi, mengingat kejadian saat Vara menolak Riko. Jenah dan Elva rupanya sedang berada di pusat perbelanjaan dan memergoki Vara. Mereka bahkan memotret Vara dan Riko yang duduk berhadapan, lalu mengirimkan foto tersebut melalui aplikasi pesan.
- ada yang kopi darat... cekrek -
Begitulah judul foto yang dikirimkan Jenah.
"Bagaimana kabar Mas Ganteng itu, Mbak Vara?" tanya Jenah.
"Tidak tahu dan tidak mau tahu," jawab Vara seraya tertawa.
"Kalian ini, bagaimana bisa mengatakan pria itu tampan, lebih tampan mana dengan Pak Ryo?" tanya Vara.
"Yah, Mbak, jangan dibandingkan dengan Pak Ryo, Pak Ryo lain levelnya," sahut Jenah.
"Mas Ganteng itu tipeku banget Mbak, kulit cokelat, sedikit buncit, tidak terlalu tinggi, dan ada lesung pipinya yang membuat senyumnya itu loh, meleleh yang lihat," Elva mendeskripsikan perawakan Riko.
Vara tertawa lagi, sungguh penampilan Riko sangat menipu. Apalagi Riko sangat bermulut manis di depan orang-orang, sehingga mudah menarik simpati.
"Mbak Vara ini, tipenya yang tinggi, ramping, dan putih. Mbak Vara cat putih saja itu tiang listrik," kata Jenah seraya tertawa.
Vara tersenyum, entah mengapa ia memang lebih tertarik melihat pria yang tinggi dan ramping. Pria yang terlalu berotot seperti binaragawan justru membuat Vara ketakutan.
"Teman-teman, coba lihat di grup," kata Mbak Rani memotong obrolan teman-temannya.
Vara segera membuka pengumuman, ia sungguh terkejut karena mendapati pengumuman yang sungguh membuatnya tercengang.
Perusahaan memberi apresiasi kepada karyawan yang telah bekerja selama lebih dari enam tahun berupa liburan gratis ke Bali melalui undian. Para karyawan yang berhak mengikuti undian tersebut harus mengambil sebuah kupon yang digulung di dalam sebuah batang pipet plastik berwarna merah yang dimasukkan dalam akuarium mini yang telah disiapkan oleh tim HRD.
Vara terkejut saat membuka kupon yang dipilihnya, ia belum beruntung. Ia tidak mendapat hadiah liburan ke Bali. Vara berusaha menutupi rasa kecewanya. Ia sungguh ingin pergi ke Bali seperti teman-temannya waktu kuliah dulu. Tentu saja, orang tua Vara tidak mengizinkan Vara untuk pergi tanpa pengawasan mereka. Sehingga ketika libur kuliah dulu, Vara sudah harus pulang ke rumahnya, lantaran bapak dan ibu sudah menyiapkan tiket pulang untuknya. Karena itulah Vara tidak pernah pergi liburan bersama teman-temannya.
"Sabar ya, untuk teman-teman yang belum bekerja selama enam tahun," kata Alya saat mencatat hasil undian.
__ADS_1
"Mbak Vara ternyata sudah enam tahun lebih ya, bekerja di perusahaan ini?" tanya Jenah.
"Vara itu sudah bekerja di sini mulai dari aku masih gadis, hingga sekarang sudah punya anak satu," sahut Imel.
"Ya, ampun, Vara, padahal kita masuk ke perusahaan ini satu angkatan, tapi hanya kau saja yang belum menikah," seloroh Dinda.
"Antara ketinggian selera, atau tidak laku memang tidak ada bedanya," celetuk Alya.
Vara hanya menanggapi semuanya dengan senyum. Vara tidak pernah berniat menyembunyikan pernikahannya, hanya saja, Vara tidak mau Viceroy kurang nyaman jika bertemu dengan orang-orang kepo yang begitu nyinyir. Apalagi jika harus menjawab sesi wawancara seperti :
Kapan menikahnya?
Kenapa tidak menggelar pesta pernikahan?
Ketemu suaminya di mana?
Suaminya kerja di mana?
Ada lowongan kerja di tempat kerja suaminya?
Sungguh tidak mungkin Vara menjelaskan bagaimana pertemuannya dengan Viceroy yang berawal dari undangan kopi darat grup SMA, pria itu mencari rekan untuk menikah, dan mereka menikah hanya sekedar untuk mengubah status di kartu tanda penduduk. Sementara Vara menikah hanya karena masih harus berjuang demi pekerjaannya.
__ADS_1