
Virda berkumpul dengan karib kerabatnya dalam rangka arisan keluarga yang biasa dilakukan setiap enam bulan sekali. Tak henti-hentinya karib kerabat memuji betapa kehidupan Virda sudah berubah seratus delapan puluh derajat dalam sepuluh tahun terakhir.
Suami Virda dulunya adalah seorang juragan pengumpul ikan yang usahanya berkembang saat anak keduanya lahir. Mereka sekeluarga hidup makmur dan sejahtera, membuat semua keluarga dari pihak suaminya yang berasal dari kampung berdatangan dan hidup bergantung penuh dari kemurahan hati suaminya, Pak Vicram.
Namun, usaha Vicram bangkrut, dan membuat pria itu terkena serangan jantung. Kematian mendadak Vicram membuat keluarga besarnya sangat kehilangan. Keluarga besar suaminya pun memutuskan kembali pulang ke kampung halaman mereka, meninggalkan Virda dan kedua putranya.
Saat itu Virda merasa putus asa, seandainya ia memiliki anak perempuan yang bisa dijodohkan dengan pria kaya, mungkin hidupnya tak akan penuh dengan keprihatinan. Virda yang selama hidupnya menjadi seorang nyonya, tentu saja terpuruk pasca kematian suami. Ia berharap pada kemurahan hati karib kerabat, termasuk dengan menjodohkan anak-anaknya kepada karib kerabat yang kaya raya, agar kehidupannya bisa terangkat dari keterpurukan ekonomi. Virda merasa dengan menikahkan anak-anaknya, beban dan tanggung jawab sebagai orang tua sudah selesai. Apalagi saat tahu bahwa anak bungsunya dianggap mendekati perubahan orientasi seksual, Virda sungguh ketakutan. Virda bahkan mengemis kepada sanak keluarga, agar anaknya bisa segera dinikahkan dengan sepupu yang bersedia. Virda tentu sangat kecewa, karena tidak ada seorang gadis pun dari keluarganya yang bersedia menikah dengan anak-anaknya.
Bertahun-tahun kemudian, saat dua anak laki-lakinya sukses, semua keluarganya yang masih memiliki anak gadis, berebut untuk menjadi menantunya. Hal itulah yang menjadi motivasi Virda untuk menguji setiap wanita yang ingin menjadi menantunya. Virda tentu lebih mengutamakan keluarga, karena lebih mudah diatur dan dikendalikan daripada orang lain.
Ryo yang baru saja pulang kantor lebih awal langsung disambut heboh keluarga dari pihak ibunya itu.
"Kak Virda, ini anak kakak yang mana? Tampan sekali," puji mereka semua.
"Saya Ryo," jawab Ryo ramah kepada semua orang, lalu berkumpul bersama mereka.
"Ryo tampan sekali, persis ayahnya," kata mereka tak henti-hentinya memuji Ryo.
"Ryo sudah menikah?" tanya mereka lagi.
"Belum," jawab Ryo.
"Dijodohkan dengan cucu tante mau?"
Ryo tertawa, Ryo sama sekali tidak tertarik untuk dijodohkan dengan keluarga dari pihak ibunya. Makanya ia bertahan memilih untuk tidak menikah, daripada dijodohkan.
"Yang dulu mau dijodohkan dengan Amirah dan Maimunah siapa, Kak Virda?" tanya Tante Heni.
__ADS_1
"Itu Roy," jawab Virda.
"Roy itu yang mana ya, Kak?" tanya Tante Idah.
"Yang dulu kurus, tinggi," jawab Bu Haji Badrun, Ibunya Amirah.
"Mana si Roy itu, Kak Virda?" tanya Tante Heni lagi.
"Roy sudah menikah, Tante Virda?" Amirah menanyakan mantan calon tunangannya itu.
"Belum," jawab Virda.
"Kenapa belum nikah juga, Tante? Masih menunggu saya?" tanya Amirah berkelakar.
Virda tertawa diikuti seluruh keluarga besar. Amirah bersyukur, dulu ia tidak jadi dinikahkan dengan Viceroy, pemuda kurus kering, kerontang, dengan wajah sangarnya yang menyeramkan.
Viceroy baru saja turun dari mobilnya dan mendapati banyak orang berkumpul di rumah mereka. Banyak wajah-wajah yang sudah cukup lama tidak ia lihat lagi dalam sepuluh tahun terakhir.
Semua mata di rumah itu tertuju pada sosok pria tampan dengan setelan jas berwarna abu-abu, mengabaikan semua orang yang melihatnya dengan tatapan penuh kekaguman.
"Roy," panggil Virda.
"Ini Roy?!" Bu Haji Badrun terperangah, begitu pula Amirah dan Maimunah.
"Serius ini Roy?!" Tante Heni terbelalak.
Mereka semua tak percaya, pria dengan ketampanan yang luar biasa itu adalah anak bungsu Virda.
__ADS_1
"Roy ini model ya, Kak Virda?"
"Roy, masih ingat aku?" tanya Amirah.
"Roy, aku Maimunah," kata Maimunah.
"Siapa ya?" Viceroy balik bertanya.
"Mereka yang dulu akan dijodohkan denganmu, Roy," kata Virda.
Viceroy mengerutkan alisnya, "Maaf, dulu tidak ingat, sekarang lupa."
Amirah dan Maimunah menunduk malu. Sungguh mereka tak menyangka, pria berparas rupawan itu pernah nyaris menjadi suami mereka. Viceroy berpamitan, ia memilih menjauh dari orang-orang yang mengaku keluarga setelah ia dan kakaknya sukses. Sungguh tipikal kebanyakan orang yang membuat Viceroy ingin muntah saking mualnya.
"Kak Virda, Roy dulu tidak berjodoh dengan Amirah, dijodohkan dengan anaknya Amirah saja bagaimana?" tanya Bu Haji Badrun pada Virda.
Virda hanya tersenyum.
"Silahkan saja, Bu Haji," jawab Virda.
Bagi Virda, menguji bocah-bocah bau kencur itu sungguh mudah. Apalagi mereka semua kebanyakan masih usia sekolah, meski berperawakan bongsor sehingga nampak lebih tua dari usia mereka. Tetap saja mereka masih anak-anak. Tak jarang mereka menangis tersedu-sedu karena ujian dari Virda sungguh tidak main-main. Virda tentu tak ingin anaknya dipermainkan oleh wanita, sehingga ia benar-benar harus selektif dalam memilih istri untuk anak-anaknya.
Virda sungguh merasa kecolongan, karena Roy justru menikah dengan wanita pilihan anaknya itu sendiri, tanpa persetujuannya. Dari dua kali ujian yang diberikan Virda, wanita itu lolos dengan mudah. Virda jadi bertanya-tanya, siapa wanita itu? Namun ia terlalu sungkan untuk mengenal lebih jauh, sebelum ujian yang diberikannya selesai. Virda kesal, karena lawannya ini sungguh cerdas. Bukan seperti bocah-bocah bau kencur yang biasa diujinya.
Virda nampaknya harus mengatur pertemuan pribadi dengan wanita itu, untuk mengetahui kelemahannya dan menjadikan sebagai senjata pamungkas. Ia bisa saja meminta Ryo untuk mengirimkan mata-mata untuk memata-matai wanita itu. Namun, jelas sekali, wanita itu begitu licik seperti kata Ryo.
Virda sungguh harus turun tangan sendiri.
__ADS_1