
Ryo menghela napas berat, klien yang ditemuinya hari ini sungguh menyebalkan. Ia sudah berupaya melakukan negosiasi terbaik yang bisa dilakukannya. Meski begitu, klien tetaplah klien. Ryo harus memasang wajah ramah dan tersenyum sumringah yang membuatnya lelah. Meeting sambil makan siang pun rasanya membuat Ryo kehilangan selera makan, lantaran klien tersebut begitu cerewet dan banyak maunya.
Ryo benar-benar harus bekerja dua kali lebih keras untuk mendapatkan proyek baru pasca kegagalan proyek Aurum Mining yang justru dimenangkan dengan mudah oleh Royal Grup. Proyek bernilai jutaan dollar yang tadinya sudah diperhitungkan oleh Ryo sebagai proyek besar yang rencananya jika berhasil dimenangkan oleh Victory grup benar-benar akan mengamankan posisi keuangan perusahaan Ryo. Ryo tentu saja tidak perlu bekerja terlalu keras untuk mencari proyek baru. Ryo menghela napas berat, berpisah dari Jeny turut membuatnya kehilangan proyek dari perusahaan keluarga Jeny. Namun Ryo merasa itu tidak masalah, karena masa kontrak proyek dari keluarga Jeny juga sudah hampir berakhir.
Ryo memijat pelipisnya, ia benar-benar kesal karena mendapat informasi bahwa banyak proyek-proyek besar yang menjadi incarannya seakan hendak disapu bersih oleh Royal Grup. Viceroy benar-benar begitu ambisius dan tentunya serakah. Itulah yang ada dalam pikiran Ryo.
Ryo mengemudikan mobilnya menuju kembali ke kantor, ia menepikan mobil saat melihat seorang wanita turun dari sebuah mobil dan seorang pria langsung mengejar wanita itu lalu menahan tangannya. Keduanya terlihat seperti sedang terlibat cekcok. Rasanya dejavu melihat kejadian tersebut.
Ryo segera turun dari mobilnya, terlihat wanita itu berusaha melepaskan diri, namun pria itu mencengkeram lengan wanita itu dengan begitu kuat. Ryo segera mencengkeram lengan pria itu, agar si pria melepaskan cengkeramannya dari wanita yang ternyata adalah Vara.
"Pak Ryo," kata Vara tertahan.
"Dua telingamu hanya aksesoris saja? Atau kau butuh sepasang telinga tambahan lagi?!" tandas Ryo menatap tajam ke arah pria itu.
Riko menatap tajam ke arah pria tampan yang sedang menatapnya dengan tatapan tajam yang mengintimidasi.
"Tolong jangan ikut campur!" kata Riko menunjuk Ryo.
"Singkirkan mobilmu yang menghalangi jalan! Kau pikir ini jalan nenek moyangmu?!" bentak Ryo.
Riko tersentak kaget, karena mobilnya memang benar-benar menghalangi jalan mobil sport hitam nan mewah milik pria itu. Riko berdecak kesal karena merasa malu.
"Maaf," kata Riko pada pria di hadapannya.
Riko beralih pada Vara.
"Vara, tolong pertimbangkan kembali perkataanku! Datanglah padaku kapanpun kau mau, aku menunggumu! Aku benar-benar siap bahkan jika harus menunggu jandamu!" kata Riko sebelum pergi.
Vara menatap kesal ke arah Riko sambil memegangi pergelangan tangannya yang benar-benar terasa sakit dan nampak mulai memerah.
"Pak Ryo, terima kasih," kata Vara.
"Bu Vara, anda baik-baik saja?" tanya Ryo melihat Vara yang memegangi pergelangan tangannya.
"Saya baik-baik saja, Pak," jawab Vara.
"Tapi menurut saya tidak," kata Ryo.
"Mari ikut saya, Bu Vara," ajak Ryo sambil membukakan pintu mobilnya pada Vara.
Vara terlihat enggan, namun Ryo langsung menggandeng Vara untuk memasuki mobilnya. Ryo segera mengemudikan mobil Ia mengawasi Vara yang nampak terdiam sambil memegangi pergelangan tangannya. Ryo bisa menangkap kegelisahan yang terpancar dari sorot mata Vara. Tidak ada senyum ceria yang biasa menghiasi paras manisnya. Ekspresi murung benar-benar tergambar jelas di wajah Vara.
Perkataan yang dilontarkan Riko benar-benar membuat Vara tak bisa berkata apa-apa. Riko benar-benar telah menghina Vara dan suaminya.
Memang apa salahnya Vara tidak mendapatkan uang mahar dan mengadakan pesta pernikahan?
__ADS_1
Riko bahkan mengatakan bahwa pelacur pun masih ada tarifnya dibandingkan dengan Vara yang menikah begitu sederhana. Bagi Vara, saat itu yang penting ia sudah resmi menikah. Pesta pernikahan sungguh bukan hal yang sangat krusial untuknya. Yang terpenting adalah bagaimana menjalani kehidupan pernikahan itu sendiri. Vara benar-benar merasa begitu bahagia menikah dengan Viceroy. Viceroy bukan laki-laki yang kejam, angkuh, dan tak berperasaan seperti kebanyakan pria yang muncul dalam sinetron penganiayaan istri yang biasa ditonton bapak hingga malam hari. Viceroy benar-benar sosok pria yang menjadi idaman Vara. Pria sederhana yang begitu baik dan memperlakukan Vara dengan sangat baik. Vara justru begitu takut dengan pria kaya yang sangat berkuasa dengan uangnya.
...*****...
Ryo segera menuju ke apotek terdekat, ia membeli beberapa obat-obatan untuk mengatasi memar dan lebam. Ia segera menuju kembali ke mobilnya, Vara sedang menunggunya.
"Kemarikan tangan Anda," kata Ryo.
"Sa-saya bisa sendiri, Pak," tolak Vara.
Ryo mengambil tangan kanan Vara yang nampak memerah, lantaran kulit Vara yang begitu putih. Ryo segera menyemprotkan spray dingin pereda nyeri ke pergelangan tangan Vara. Lalu membalurkan krim pereda nyeri. Ryo berusaha menenangkan dirinya, sungguh jantungnya tidak bisa diajak kompromi. Kulit Vara begitu lembut dan tangannya terlihat begitu mungil jika dibandingkan dengan tangan Ryo.
"Terima kasih, Pak Ryo," kata Vara begitu Ryo selesai mengobati lengan Vara.
Ryo mengangguk dan tersenyum.
"Siapa pria itu? Sepertinya waktu itu juga bersikap kasar pada Anda," kata Ryo.
"Pria itu hanya seseorang yang dulu pernah saya kenal," kata Vara.
"Mantan kekasih?" tebak Ryo.
Vara menggeleng.
"Tetangga," jawab Vara.
"Tidak, Pak, kami tidak punya hubungan seperti itu," jawab Vara.
"Tetangga yang bahkan bersedia menunggu Anda menjanda? Sungguh luar biasa," kata Ryo setengah mencela.
"Anda bahkan belum menikah, bagaimana bisa dia berkata bahkan akan menunggu Anda menjanda?!" lanjut Ryo seraya tertawa.
Vara hanya mengulum senyumnya, rasanya sungguh memalukan melihat kelakuan Riko yang seperti itu.
"Pak, saya mau kembali ke kantor," kata Vara.
Ryo tersenyum, ia segera menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya.
...*****...
Vara sungguh tak mengerti pikiran Pak Ryo, karena pria itu justru membawa Vara ke bioskop yang ada di salah satu pusat perbelanjaan. Pak Ryo mengajak Vara untuk nonton film di teater premium yang harga tiketnya mencapai ratusan ribu. Tentu saja, dengan jumlah kursi yang terbatas, kursi yang begitu nyaman karena bisa diatur posisinya hingga berbaring, belum lagi tersedia bantal dan selimut yang hangat dan tebal.
"Kenapa kita pergi ke bioskop, Pak?" tanya Vara.
"Sebagai ganti nonton film yang malam itu tidak selesai," jawab Ryo singkat.
__ADS_1
Ryo segera memesan semua makanan yang tersedia dalam daftar menu.
"Banyak sekali makanan yang anda pesan, Pak," komentar Vara.
"Tidak apa-apa, bukankah asyik nonton film sambil makan," sahut Ryo.
Vara hanya menyeringai, perutnya bahkan masih terasa begitu kenyang usai menyantap semangkuk mie ayam, dan kini harus memakan semua makanan yang dipesan Pak Ryo. Bisa-bisa Vara akan kenyang hingga besok siang!
Film yang mereka tonton bergenre aksi, berkisah tentang super hero yang kocak. Vara tertawa lepas sepanjang film.
Ryo tersenyum menatap Vara yang terlihat begitu menikmati film yang mereka tonton. Lebih asyik menonton film di bioskop, karena kualitas gambar dan audio yang disajikan tentu berbeda saat nonton televisi biasa.
Ryo membawa Vara untuk nonton di bioskop tentu saja dengan tujuan untuk mengembalikan senyum di wajah Vara yang tadinya dirundung kemurungan.
"Bu Vara, tangan anda bagaimana?" tanya Ryo.
"Tangan saya?" tanya Vara.
Ryo langsung mengambil tangan Vara dan menggenggamnya. Vara tersentak kaget, sementara Ryo hanya tersenyum.
Ryo mencium satu per satu jemari ramping Vara, membuat Vara lagi-lagi tersentak kaget. Ryo memberanikan dirinya untuk menarik tengkuk Vara dan mengambil bibir mungil yang membuatnya penasaran.
Bibir mungil itu terasa manis, membuat Ryo jadi kecanduan. Keduanya saling mencecap dengan dada yang bergemuruh. Ruangan teater bioskop yang sepi lantaran hanya ada mereka berdua membuat Ryo memberanikan diri untuk menarik Vara untuk berada di atas tubuhnya.
"Pak Ryo," kata Vara di sela-sela ciuman panas mereka.
"Bu Vara," Ryo mulai membuka satu per satu kancing kemeja Vara.
Semua wanita yang pernah dicicipi Ryo tentu sangat menyukai sentuhan Ryo. Puncak yang menegang membuat Ryo tak berhenti untuk mengeksplorasi setiap keindahan yang ada. Di balik selimut itu, ia bisa merasakan wanita cantik ini meresponnya dengan baik. Mereka saling memberi kehangatan saat pendingin ruangan itu bekerja sangat maksimal.
"Pak Ryo," kata Vara.
"Hmm,"
"Pak Ryo," kata Vara.
"Hmm,"
"Pak Ryo, bangun, Pak, filmnya sudah selesai."
Suara itu membuat Ryo membuka matanya. Ryo menutup matanya lantaran merasa silau dengan cahaya yang dilihatnya secara tiba-tiba.
"Anda masih mau tidur di sini?" tanya Vara ke arah Ryo.
"Oh, maaf," kata Ryo sambil mengusap wajahnya.
__ADS_1
Rupanya ia ketiduran di tengah film dan bermimpi melakukan aktivitas panas bersama Vara, membuatnya harus menutupi rasa salah tingkahnya dengan baik.