
Viceroy menuntun Vara berjalan menyusuri pekarangan rumah. Matanya masih tertutup ikatan dasi, Viceroy tidak mengizinkan Vara untuk mengintip kejutan yang sudah disiapkannya.
"Duduklah," bisik Viceroy.
Vara segera duduk di kursi, bertanya-tanya apa kejutan yang disiapkan oleh Viceroy. Perlahan Viceroy melepas ikatan dasi yang menutupi mata Vara. Vara terkejut sekaligus tak percaya apa yang dilihatnya. Pekarangan rumah dihias dengan lampu-lampu kecil berkelip bak taburan bintang di langit. Di meja bundar dengan taplak putih, dihias dengan bunga krisan warna putih dan kuning yang berada di tengah meja bersama lilin-lilin menyala.
Vara tak kuasa menahan senyumnya. Sungguh kejutan yang begitu romantis dari seorang Viceroy. Beraneka jenis makanan sudah terhidang memenuhi meja bundar tersebut.
"Viceroy, kau menyiapkan semua ini?" tanya Vara terheran-heran.
"Tentu saja," jawab Viceroy tersenyum lembut.
Vara langsung memeluk Viceroy.
"Terima kasih, Viceroy, ini sungguh indah sekali," kata Vara.
Viceroy mengecup puncak kepala Vara.
"Ayo kita makan, aku sudah lapar sekali," ajak Viceroy.
Vara tak henti-hentinya tersenyum, ia sungguh senang bisa menikmati makan malam yang begitu privat dan romantis. Selama ini Vara hanya bisa membayangkan suatu hari nanti akan makan malam romantis di bawah sinar rembulan. Siapa yang akan menyangka bahwa Viceroy akan mewujudkannya?
__ADS_1
Viceroy memang pria yang penuh kejutan.
"Vara, apa kau pernah mendengar lagu ini?" tanya Viceroy memutar sebuah lagu dari ponselnya.
"Apa judulnya?" tanya Vara.
"La vie en rose," jawab Viceroy.
Vara terpana lagi, mendengar lagu yang membuat suasana semakin romantis.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Viceroy.
"Mendengar lagu ini, aku jadi ingin berdansa," jawab Vara seraya tertawa.
"Aku hanya melihatnya dalam film," jawab Vara tersipu malu.
Viceroy tersenyum, ia mengulurkan tangannya dan mengajak Vara untuk berdansa. Viceroy merangkul pinggang Vara, mereka saling bertatapan, dan mulai melangkah mengikuti irama lagu berbahasa Inggris dan Prancis itu.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Viceroy.
"Kau seperti pangeran di film Cinderella," jawab Vara.
__ADS_1
Viceroy tertawa, ia menatap Vara yang masih tak henti-hentinya tersenyum sumringah. Sungguh senyum yang begitu menawan hati Viceroy. Senyum yang selalu ingin dilihat oleh pria itu. Senyum yang menggetarkan seluruh jiwa dan raganya. Ia benar-benar ingin menjaga senyum itu selamanya dan hanya untuknya saja.
"Lewat jam dua belas malam, apa aku akan berubah menjadi tikus?" tanya Viceroy masih menyunggingkan senyum.
Kini giliran Vara yang tertawa, Viceroy sungguh pria yang mempunyai selera humor unik.
"Vara, apa kau bahagia hidup bersamaku?" tanya Viceroy.
"Selama aku hidup, aku merasa paling bahagia saat bersamamu," jawab Vara dengan wajah yang kembali bersemu merah.
"Vara, apa kau siap menerimaku apa adanya?" tanya Viceroy.
"Apa maksudmu, Viceroy?" tanya Vara.
"Kau pasti tahu, bahwa aku bukan pria berpendidikan tinggi, dengan latar belakang istimewa yang bisa membuatmu ataupun keluargamu bangga padaku," kata Viceroy.
"Viceroy, sungguh aku tidak peduli pada hal itu, bagiku latar belakang itu tidak penting, yang terpenting adalah sikap yang baik," kata Vara.
Viceroy tersenyum, ingin rasanya ia mencium Vara, namun ditahannya, ia tak ingin kehilangan kendali atas dirinya. Ia tak ingin Vara menganggapnya hanya terbawa suasana.
Vara mengalungkan kedua tangannya di leher Viceroy dan memberanikan diri untuk mencium pria itu.
__ADS_1
"Ayo kita kembali makan, masih banyak makanan yang harus dihabiskan, sungguh mubazir jika tidak disapu bersih," ajak Viceroy.