Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Lamunan Ryo


__ADS_3

"Bu Vara, ini laporan kinerja anda tahun ini," kata Pak Bram menyerahkan lembar penilaian prestasi kerja karyawan untuk Vara.


"Tolong untuk nilai-nilai yang minus lebih diperhatikan lagi dan bisa ditingkatkan, sementara untuk nilai-nilai plus agar dipertahankan," kata Pak Bram.


Vara mengangguk, membaca berlembar-lembar rapor kerja miliknya. Setiap tahun, aspek plus yang dinilai lebih dari kinerja Vara adalah daftar kehadiran yang mengagumkan dan Vara yang selalu datang ke kantor tepat waktu. Ya, Vara memang jarang sekali tidak masuk kantor, meski sakit ia tetap memilih untuk bekerja. Ia juga tidak pernah izin ataupun cuti kalau tidak untuk hal yang mendesak. Ia juga jarang datang terlambat saat masuk kerja. Pasca menikah, Vara hanya sesekali datang terlambat. Hal tersebut terjadi lantaran kemampuan Viceroy dalam mengendarai sepeda motor bisa dikatakan setara dengan pembalap jalanan, Vara hanya bisa tutup mata, dan memeluk erat pria itu dari belakang, tak lupa banyak-banyak berdoa agar selalu selamat sampai di tempat tujuan.


"Bu Vara, sudah berapa tahun bekerja di sini?" tanya Pak Bram.


"Ini tahun ke tujuh, Pak," jawab Vara.


"Hmm, Bu Vara, saya sudah berusaha untuk mengajukan status kepegawaian untuk teman-teman yang sudah lama bergabung di perusahaan ini, tapi Bu Vara tahu sendiri, Pak Ryo begitu sibuk, dan dalam setahun, banyak juga karyawan dari departemen lain yang juga diajukan," kata Pak Bram menjelaskan. 


"Tidak apa-apa ya, Bu, kita coba setahun lagi," kata Pak Bram.


"Baik, Pak, saya ikut saja," kata Vara.


"Lembar penilaian ini, tolong difotokopi, dan aslinya kembalikan ke saya besok, ya, Bu," kata Pak Bram.


"Baik, Pak, terima kasih," kata Vara sebelum pergi meninggalkan ruangan Pak Bram.

__ADS_1


Vara menghela nafas berat, ia sungguh tidak tahu harus berbuat apa. Kontrak perpanjang satu tahun dan gaji hanya naik karena adanya kenaikan upah minimum. Vara sungguh merasa saat ini ia hanya berjalan di tempat. Tiba-tiba ia teringat perkataan Alya. Sungguh mubazir, Vara dengan ijazahnya yang tinggi, namun belum bisa naik ke level jabatan yang lebih tinggi. Jangankan jabatan, status karyawan saja masih kontrak. 


Vara merasa tidak bisa seperti ini terus, mungkin kemarin-kemarin tidak masalah, karena ia masih lajang, hidup sendiri tanpa ada yang ditanggung. Namun saat ini kondisinya berbeda, Vara sudah menikah, ke depannya akan ada anak yang harus ditanggungnya, mengingat suaminya bukan karyawan sepertinya. Vara tidak mungkin membiarkan Viceroy menggantungkan hidup pada keluarganya yang kaya. Ditambah lagi, ibu Viceroy meminta anaknya untuk menikahi wanita lain.


Vara rasanya mau gila dengan cobaan hidup yang datang bertubi-tubi seperti ini.


Ia menguatkan dirinya, ujian merupakan tolak ukur untuk menguji kemampuan dan kesabarannya. 


Vara tersentak kaget saat membuka pintu ruangan Pak Bram, ia menabrak Pak Ryo. 


"Pak Ryo, maaf, Pak," Vara makin terkejut saat mendapati lipstiknya menempel di kemeja putih Pak Ryo.


...*****...


Vara sungguh menyesal telah memakai lipstik berwarna terang milik Mbak Rani. Kata Mbak Rani, Vara terlihat pucat, makanya beliau menyuruh Vara mencoba lipstik berwarna jingga miliknya. Vara jadi terlihat pucat, karena sebelum berangkat bekerja, Viceroy memberinya ciuman yang membuat lipstiknya terhapus. Belum lagi, saat subuh, Viceroy mengajaknya latihan mengendarai sepeda motor. Padahal Vara masih ingin lebih lama berada di kasur sambil memeluk Viceroy.


Ryo membuka kemeja putihnya, memandang noda lipstik yang menempel tepat di bagian dada kirinya. Vara menunduk saat menerima kemeja tersebut. 


"Maaf ya, saya tidak membawa baju ganti," kata Ryo memanggil Vara untuk membersihkan noda lipstik di kemejanya.

__ADS_1


Vara duduk di depan meja kerja Pak Ryo sambil membawa kapas dan micellar water. Untunglah Vara selalu membawa serta dua benda itu di dalam tasnya.


Vara menunduk, karena Pak Ryo hanya memakai kaos singlet putih yang nampak pas di tubuhnya yang ternyata tak hanya sekedar terlihat ramping. Pria itu masih memiliki otot dan punggungnya juga tegap. 


Ryo menatap Vara yang nampak menyeka kapas di atas kemeja putih tersebut. Matanya tertuju pada bibir Vara yang nampak menggiurkannya. Ingin rasanya Ryo mencicipi bibir mungil dengan rona jingga yang cerah. Diam-diam Ryo mengambil remot dan mengunci pintu ruangannya. 


Vara terkesiap saat Ryo memeluknya dari belakang. 


"Pa-Pak Ryo," kata Vara tertahan.


Ryo memutar tubuh Vara, mendesaknya ke dinding, lalu membungkamnya dengan ciuman yang membuat keduanya lupa cara bernafas dengan baik.


"Pak Ryo," Vara melenguh saat pria itu memburu lehernya, bahkan menyentak kemeja Vara hingga lepas.


"Pak Ryo, ini kemeja anda, Pak," kata Vara menyerahkan kemeja Ryo yang telah ia bersihkan.


Ryo terkesiap, lamunannya sirna seketika. Untuk sejenak rupanya ia mengkhayalkan hasrat terpendamnya pada wanita di hadapannya. 


"Ah, ya, terima kasih," kata Ryo mencoba mengumpulkan kembali kesadarannya.

__ADS_1


Vara bergegas keluar dari ruangan kerja Pak Ryo. Vara sungguh bingung, saat menatap Pak Ryo yang nampak melamun saat menatap ke arahnya. Tatapan yang sungguh menakutkan. 


__ADS_2