
"Ozy, terima kasih, ya, kau memang teman yang bisa diandalkan," kata Vara pada Ozy.
Ozy sungguh kaget saat Vara menghubunginya untuk membawa tukang urut saraf langganan Ozy ke hotel tempat Vara menginap.
Tukang urut langganan Ozy adalah seorang pria berusia empat puluh tahun lebih bernama Bang Ijo yang berprofesi sebagai tukang urut bersertifikasi. Bang Ijo, memiliki ibu yang juga berprofesi sebagai tukang urut saraf bersertifikasi dari pemerintah. Vara pernah mengalami cedera saat bermain bulu tangkis, Ozy-lah yang membawa Vara berobat ke ibu Bang Ijo. Ozy sendiri kenal Bang Ijo karena kerap mengantar kakak-kakak iparnya pergi urut saat mengalami cedera.
Viceroy rasanya ingin menenggelamkan diri saking malunya saat Ozy datang membawa Bang Ijo ke kamar hotel tempat mereka menginap. Viceroy hanya bisa telungkup seperti sendok di atas piring, sambil menutupi wajahnya dengan bantal.
Saat terbangun setelah pertempuran panasnya semalam, tiba-tiba Viceroy merasa pinggangnya begitu sakit dan tak bisa digerakkan. Tubuhnya seakan lumpuh seketika.
"Vara! Pinggangku sakit!" Viceroy meringis kesakitan membangunkan Vara yang masih terlelap di sisinya.
Vara yang baru saja terbangun benar-benar terkejut melihat Viceroy yang bahkan tak bisa menggerakkan tubuhnya.
"Viceroy, sepertinya pinggangmu keseleo!" kata Vara.
"Aku benar-benar tidak bisa bergerak, Vara!" keluh Viceroy. "Aku benar-benar seperti lumpuh!"
"Viceroy, jangan bicara mengada-ada seperti itu," cibir Vara.
Viceroy sungguh tak bisa berkata apa-apa lagi saat tamu yang datang ke kamar tempatnya menginap adalah Ozy.
Aduh Vara, apa kau tidak punya teman lain? Viceroy rasanya ingin menyuarakan isi hatinya, namun lebih baik ia diam.
"Tidak masalah, lagi pula pas kebetulan aku dari luar kantor juga, ya sekalian deh jadinya bisa mampir," Ozy melirik Viceroy yang hanya bisa telungkup dan menutupi kepalanya dengan bantal.
"Memangnya kau dari mana?" tanya Vara.
"Aku dari kantor pajak, aku memohon dengan sangat untuk diberi perpanjangan waktu pembayaran pajak atasanku yang galak itu, loh! Aduh, Vara, habis aku kemarin dimaki-makinya!" Ozy mengeluh.
"Sabar ya, Ozy, namanya karyawan itu kerja memang untuk digaji dan dimaki-maki," kata Vara membesarkan hati Ozy.
"Aduh, mampuslah aku kalau harus bayar denda, Vara! Biar kata setahun kerja tanpa digaji, masih kurang untuk bayar denda," keluh Ozy lagi.
"Ozy, coba bicarakan baik-baik pada atasanmu itu, masa' iya, beliau setega itu membiarkanmu membayar denda?" kata Vara.
"Nah, itu dia masalahnya, Vara, hari ini bos tidak bisa dihubungi! Aih, dia pasti sedang asyik kelonan dengan istrinya yang bak biduan dangdut antar kampung itu!" cerocos Ozy.
"Sudah, sudah! Maklumi saja, namanya juga bos!" kata Vara menenangkan Ozy.
Ozy menghela nafas lalu tersenyum-senyum ke arah Vara dan mengalihkan perhatiannya pada suami Vara yang masih tetap diam terbujur kaku.
"Hihi, Vara, Mas Tampan sampai sakit pinggang begitu, salah gaya apa salah posisi?" tanya Ozy cekikikan.
"Ozy, orang lagi sakit jangan digodain begitu," sahut Vara.
"Hihi, habisnya pengalaman kakak-kakak iparku yang kubawa ke Bang Ijo, biasa kalau sakit pinggang itu ya, kebanyakan gaya, salah gaya, dan salah posisi, begitu kan Bang Ijo?!" kata Ozy ke arah Bang Ijo yang masih mempersiapkan diri.
__ADS_1
"Yoi," sahut Bang Ijo.
"Semalaman hujan deras banjir di mana-mana, enak sekali kalian banjir sperm*,"kata Ozy.
"Ozy, mulut, ozy!" cibir Vara dengan wajahnya yang sudah memerah seperti kepiting rebus.
Viceroy sungguh tidak bisa berkata apa-apa pada Ozy, saat ini ia hanya bisa diam menahan rasa sakit.
"Mas, duduk dulu," Bang Ijo membantu Viceroy bangun.
"Harus duduk, ya?" tanya Viceroy masih menahan sakitnya.
"Harus Mas, pijat syaraf harus dalam posisi duduk," jawab Bang Ijo membantu Viceroy untuk bangun dari posisinya.
"Ugh lala, gila badanmu, Mas," Ozy terpana melihat Viceroy yang hanya mengenakan celana boxer.
"Mau juga aku punya badan bagus begitu, apa ya rahasianya?" kata Ozy heboh.
Vara melihat Viceroy hanya diam tak memberi tanggapan sama sekali. Ekspresi pria itu terlihat jelas hanya bisa menahan rasa sakit.
"Ozy, kau tidak kembali ke kantor?" tanya Vara.
"Oh iya, aku akan kembali ke kantor sekarang!" kata Ozy.
"Baiklah, Mas Tampan, jangan kebanyakan gaya, di film tuh sudah disunting-sunting! Cepat sembuh ya, Vara aku pergi dulu. Bang Ijo, duluan ya," Ozy berpamitan.
Viceroy hanya bisa pasrah, saat Bang Ijo mulai menyapukan minyak kelapa bercampur bawang merah ke tubuhnya. Bang Ijo hanya menekan perlahan titik-titik tertentu, namun membuat Viceroy menahan rasa sakit. Vara bisa melihat wajah Viceroy yang memerah menahan sakit. Sungguh tidak lucu jika Viceroy harus berteriak meluapkan rasa sakitnya.
Apa ini yang namanya nikmat membawa sengsara?
Yah, namanya enak, jadi Viceroy harus menerima konsekuensinya.
Viceroy sungguh takjub, perlahan tapi pasti, rasa sakitnya menghilang sepenuhnya. Sungguh rasanya seperti terlahir kembali. Ia tak tahu bagaimana harus meluapkan rasa senangnya, karena rasa sakit di pinggangnya sirna sepenuhnya.
...*****...
"Bagaimana?" tanya Bang Ijo begitu sesi pijat berakhir.
Viceroy tersenyum puas, ia bahkan bisa berdiri seperti sedia kala.
"Aku merasa lebih baik Bang," jawab Viceroy.
"Untung cepat ditindak Mas, kalau dibiarkan, bisa lumpuh, loh," kata Bang Ijo.
"Waduh, jangan menakutiku begitu, Bang," kata Viceroy.
"Biasanya pasienku yang lain begitu, dibiar-biarkan begitu saja! Sampai ada yang sudah dioperasi, tapi masih belum sembuh juga," kata Bang Ijo.
__ADS_1
"Terima kasih, Bang, aku merasa sungguh tertolong," kata Viceroy.
"Ingat, bukan aku yang sembuhkan, aku juga minta pertolongan dari Tuhan," kata Bang Ijo.
"Iya, Bang," jawab Viceroy.
"Satu lagi, jangan kebanyakan gaya salah-salah! Kau bukan pemain film biru!" Bang Ijo berpesan.
Viceroy menyeringai, ia bukannya kebanyakan gaya, hanya saja ia tidak bisa mengontrol dirinya alias lupa diri dan terbuai fantasinya. Yah, namanya juga enak, mau dikatakan apa lagi?
"Sudah selesai, ya?" tanya Vara begitu memasuki kamar.
Vara membawa beberapa bungkus makanan yang ia beli di luar hotel.
"Bagaimana, Viceroy? Sudah merasa lebih baik?" tanya Vara.
"Aku bahkan sudah bisa berdiri tegak seperti sedia kala," jawab Viceroy tersenyum sumringah.
"Bang Ijo, terima kasih, ya," kata Vara.
"Sama-sama," kata Bang Ijo.
"Bang, tolong diterima," Vara menyodorkan amplop putih berisi uang.
"Terima kasih, aku terima, ya," kata Bang Ijo.
"Terima kasih, Bang," Viceroy menjabat tangan Bang Ijo.
"Sama-sama, aku senang bisa menolong," kata Bang Ijo.
"Mau diantar Bang?" tanya Viceroy.
"Tidak perlu, kau banyak-banyak istirahat," kata Bang Ijo sebelum pergi.
"Bang, salam untuk Nenek, ya," kata Vara mengantar Bang Ijo keluar kamar.
...*****...
Viceroy menyalakan ponselnya yang benar-benar nyaris meledak karena begitu banyak pemberitahuan yang masuk. Viceroy segera menelepon Riko.
"Pak, tolong di meja saya ada dokumen pengajuan pembayaran pajak yang jatuh tempo hari ini, tolong dijalankan, untuk tanda tangan saya menyusul saja," kata Viceroy.
"Baik, Pak, akan saya periksa," kata Riko.
"Terima kasih, Pak," kata Viceroy menutup teleponnya.
__ADS_1