Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Surat Keputusan


__ADS_3

Vara sudah kembali berkutat di meja kerjanya, silih berganti karyawan datang mengajukan permohonan dana untuk kegiatan operasional perusahaan. Mulai dari pembelian tisu toilet hingga permohonan dana untuk perjalanan dinas. Banyak karyawan yang mengantri memenuhi ruangan kerja Vara.


"Bu Vara, sering jalan-jalan ke mall ZZ ya?" tanya Pak Feri yang saat ini menunggu pencairan dana untuk operasionalnya.


"Tidak bisa disebut sering, Pak," jawab Vara sambil menghitung lembaran uang.


"Saya ada lihat Ibu," kata Pak Feri ragu-ragu.


"Benarkah?" tanya Vara.


"Iya, saya juga sering lihat Bu Vara dijemput," sahut Radi.


"Tukang ojek itu yang jemput!" Mbak Rani menimpali.


"Tukang ojeknya dipeluk-peluk begitu," ceplos Radi.


"Saya mau jadi tukang ojeknya Bu Vara kalau dipeluk-peluk begitu," sahut Tris yang berdiri di samping Radi.


Vara menghentikan aktivitasnya menghitung uang.


"Duh, saya jadi salah hitung," kata Vara jadi salah tingkah.


"Wah, ketahuan ya, Bu Vara," goda Tris.


Vara tertawa, ia memang menjadi salah satu pegawai yang diidolakan para pria lantaran masih berstatus lajang dan tentunya berpenampilan menarik, hanya saja Vara tidak pernah tahu. Adanya peraturan perusahaan yang melarang sesama karyawan terlibat hubungan asmara juga menjadi salah satu kendala. Banyak pasangan yang memilih berkencan secara rahasia, dan akhirnya salah satu dari mereka harus mundur dari perusahaan lantaran menikah.


"Ciee, jadi Vara punya pacar ya sekarang?" goda Mbak Rani.


"Wah, hari patah hati lokal berarti," sambung Radi.


"Pacarnya model ya, Mbak?" tanya Pak Feri seraya terkekeh.


"Wah, berat sudah, tidak ada harapan," kata Tris.

__ADS_1


"Bu Vara, coba dipikir ulang lagi, model itu kebanyakan playboy, modal tampang saja," Radi menimpali.


"Iya, Bu, ini Radi siap untuk setia," sambung Tris seraya tertawa.


"Sudah, sudah, saya jadi salah-salah hitung uang, nombok saya ini nanti," kata Vara seraya tertawa.


"Memang setampan itu ya pacarnya Vara, Pak Feri?" tanya Mbak Rani penasaran.


"Yang pasti putih seperti Bu Vara ini," sahut Pak Feri. 


"Cocok berati Pak, ya, kalau saya sama Bu Vara, jadinya tahi cicak," Tris tertawa lagi.


"Jangan begitu Tris, kulit boleh hitam, uangnya tetap warna merah," Radi menimpali.


"Lagi membicarakan apa? Seru sekali sepertinya," Jenah tiba-tiba muncul.


"Ini loh Jen, Vara punya pacar," kata Mbak Rani.


"Waah, Mbak Vara, makan-makan dulu," seru Jenah antusias.


"Apa?! Vara punya pacar? Huh, harusnya seumur dia sudah punya suami!" celetuk Alya yang kebetulan mendengar obrolan di ruangan kerja Vara.


"Wah, berarti sebentar lagi, dapat undangan ini," sahut Jenah.


Vara kembali tertawa, begitulah Vara, ia lebih memilih menjawab dengan senyum dan tawa agar tidak menggiring opini publik.


Telepon di meja kerja Vara berdering, ia segera menjawabnya.


"Siang, Vara," kata Vara.


"Vara, tenang dan diam-diam saja, ya," kata Mbak Luna yang menelepon Vara.


"Iya, Mbak Lun," kata Vara.

__ADS_1


"Vara, kau sudah dapat SK?" tanya Mbak Luna dengan suara yang rendah.


"Belum, Mbak Lun," jawab Vara.


"Mungkin belum giliran ya, Vara," kata Mbak Luna sebelum menutup teleponnya.


Vara mendadak terenyuh, SK yang dimaksud Mbak Luna adalah Surat Keputusan Pengangkatan dari karyawan kontrak menjadi karyawan tetap. Selembar kertas yang begitu berarti untuk semua karyawan, yang digadang-gadang bisa mengubah nasib karyawan. Surat yang begitu diidamkan oleh Vara, setiap tahun menunggu, tanpa pernah ada kepastian kapan akan diangkat menjadi karyawan tetap. Mbak Luna bergabung tiga bulan lebih awal dari Vara. Jadi, sudah sewajarnya bila Mbak Luna lebih dulu diangkat menjadi karyawan tetap.


Mbak Noer, memasuki ruangan kerja Vara. Ia duduk di depan meja Vara, membuka sebuah amplop berwarna putih.


"Mbak Noer dari mana?" tanya Vara.


"Dipanggil HRD, diberi ini, apa kau sudah dapat Vara?" tanya Mbak Noer memperlihatkan selembar surat keputusan pengangkatan karyawan untuknya.


Mbak Noer sudah diangkat menjadi pegawai tetap. Tiba-tiba Vara merasa kepalanya kosong. Mbak Noer bergabung dengan Victory Grup di hari yang sama dengan Vara.


"Belum, Mbak," jawab Vara mencoba tersenyum meski berat sekali rasanya.


"Tunggu giliranmu, Vara," kata Mbak Noer. "Tapi kabarnya, Si Yana baru empat tahun kerja sudah diangkat jadi pegawai tetap lho."


"Mbak Noer tahu dari mana?" tanya Vara.


"Diam-diam saja ya, aku tahu dari Ulfa. Alya cerita, dia kirim pesan ke Mbak Ratni, kalau juniornya sudah diangkat jadi pegawai tetap, dia kompori itu Mbak Ratni, masa iya, Yana sudah diangkat jadi pegawai tetap tapi seniornya malah belum," Mbak Noer menjelaskan.


"Mbak Noer, memang setahuku, itu tergantung Manajer masing-masing yang berani perjuangkan ke Pak Ryo atau tidak!" potong Mbak Rani. 


"Iya, semua keputusan memang di tangan Pak Ryo, terserah Pak Ryo!" kata Mbak Noer. "Kudengar Rita dari departemen operasional juga diangkat jadi karyawan tetap, kabarnya karena Rita mau resign, manajernya menahannya, dan akhirnya negosiasi ulang," lanjut Mbak Noer. 


"Iya Mbak, itu sudah rejekinya," kata Vara.


"Sabar ya Vara, ikuti saja perkataan Manajer HRD, kalau masih digaji perusahaan, berarti masih dipakai!" Mbak Noer menghibur Vara.


"Iya Mbak, aku mengerti, semua keputusan jelas ada di tangan Pak Ryo selaku yang punya perusahaan, aku sih ikut saja," sahut Vara.

__ADS_1


Ada dua hal yang menjadi isu paling sensitif di Victory Grup, yakni masalah gaji dan masalah status kepegawaian. Sebagai perusahaan yang dimiliki oleh satu orang, tentu saja keputusan absolut ada di tangan pemiliknya. Semua keputusan yang ada di perusahaan ini sepenuhnya adalah kebijakan dari Pak Ryo.


Vara jadi berpikir, apa Vara tidak lulus tes yang diberikan Pak Ryo, makanya ia masih belum kunjung menerima surat keputusan yang sudah ditunggunya selama tujuh tahun bekerja di perusahaan ini.


__ADS_2