
Vara segera menemui Viceroy yang menjemputnya di luar restoran ayam. Pria itu menjemput Vara agar mereka bisa pergi ke hotel bersama-sama. Vara merasa aneh hidup seperti ini, karena harus membawa tas berisi barang-barang ke mana-mana, namun Vara menikmatinya saja. Apalagi sungguh lumayan mendapat fasilitas sarapan pagi di restoran hotel. Vara jadi bertanya-tanya, dari mana Viceroy mendapat voucer menginap gratis di banyak hotel berbintang lima yang ada di kota.
"Kau bisa bermain bulu tangkis?" tanya Viceroy yang melihat Vara menyampirkan raket di bahunya.
"Ya, hari ini kebetulan jadwal kegiatan klub bulu tangkis kantor," Vara menjelaskan.
Vara segera memakai helmnya, lalu duduk di belakang Viceroy.
"Malam ini kita menginap di mana?" tanya Vara.
"Mau coba tebak-tebakan?" tanya Viceroy.
"Apa yang dipertaruhkan?" tanya Vara.
"Jika jawabanmu salah, kau harus tidur di sofa," sahut Viceroy.
"Berapa kali kesempatan menjawab?" tanya Vara lagi.
"Tiga kali," jawab Viceroy.
"Hotel D?" tanya Vara.
"Salah," jawab Viceroy.
"Hotel N?" tebak Vara.
"Belum tepat," jawab Viceroy.
"Hotel Y?" tebak Vara lagi.
"Maaf, masih salah, coba lagi besok," Viceroy tersenyum licik.
Selama ini ia sudah mengalah selalu tidur di sofa. Karena kasur di kamar tempat mereka menginap selalu bertipe tunggal. Mau tidak mau, Viceroy harus mengalah, lagipula voucer tersebut didapatnya gratis karena memenangkan taruhan dari kakaknya. Seperti prinsip Viceroy, kalau bisa gratis untuk apa bayar?
Vara memasuki kamar hotel berbintang lima yang terkenal memiliki kemewahan yang biasanya menjadi tempat menginap presiden dan para staff kepresidenan saat berkunjung. Hanya saja tidak tersedia sofa di kamar tersebut.
__ADS_1
"Hei, jangan memandangku begitu rendah! Aku ini laki-laki terhormat! Tubuhku tidak semurah itu untuk menyentuh seseorang yang bukan seleraku," kata Viceroy yang bisa menebak isi pikiran Vara.
"Seleraku terhadap wanita begitu tinggi!" lanjut Viceroy.
Vara mencebik, ia tak tahu harus merasa senang atau justru tersinggung dengan perkataan Viceroy yang secara gamblang menyatakan bahwa Vara sama sekali bukan seleranya. Pun demikian Vara yang menganggap Viceroy bukanlah tipe pria idamannya.
Vara segera masuk ke kamar mandi lalu memenuhi bathtub dengan air hangat. Vara sungguh senang menikmati fasilitas hotel yang begitu mewah. Ternyata menikah dengan Viceroy sungguh bukan hal yang buruk. Siapa yang akan menyangka bahwa pria yang dulu nampak anti sosial dengan tampangnya yang seperti mengajak orang lain untuk baku hantam, ternyata memiliki sisi lembut yang membuat Vara merasa nyaman.
Setiap malam mereka berbincang santai sambil menikmati secangkir teh yang disiapkan di meja kamar. Meski sebagian besar mereka membahas strategi untuk menghadapi ibu Viceroy, namun ternyata Viceroy adalah sosok yang enak diajak berdiskusi.
Vara sudah selesai mandi, ia keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah mandi berwarna putih, dan rambut yang terbungkus handuk putih. Berendam air hangat sungguh nyaman. Vara segera menyeduh teh lalu menyalakan televisi untuk menonton film dari saluran tv kabel.
Vara segera naik ke kasur lalu bersandar di tumpukan bantal, sambil menyapukan losion ke seluruh tubuhnya sebagai bentuk ritual sehabis mandi. Vara terlalu asyik menyaksikan film hingga tak sadar bahwa Viceroy sudah keluar dari kamar mandi dan mendapati Vara yang sedang menyapukan losion dari pangkal paha hingga ke ujung jari kakinya. Viceroy meneguk ludahnya, apa Vara sedang mencoba menggodanya?
Viceroy memalingkan wajahnya, ia segera duduk di sisi kasur yang lain. Namun matanya sungguh tidak bisa melepaskan pandangannya dari Vara yang nampak begitu menggetarkan sisi maskulin Viceroy, lantaran hanya memakai jubah mandi yang mengekspos jelas kakinya. Wangi losion itu juga menggelitik penciuman Viceroy. Wanginya sungguh berbeda dari yang biasanya digunakan oleh Vara.
Film yang ditonton Vara memang bergenre horor, membuat Vara merinding, namun entah mengapa Vara merasa geli.
Vara tersentak kaget karena mendapati Viceroy yang sedang mengendus betisnya.
Viceroy terkesiap, sungguh memalukan ia terciduk seperti itu.
"Ma-maaf, aku hanya penasaran, apa kau ganti losion?" kata Viceroy salah tingkah.
"I-iya, aku memang baru membeli losion baru," kata Vara menunjukkan botol losionnya.
"Bo-boleh aku mencobanya? Aku tertarik dengan wanginya," kata Viceroy.
Vara menyembunyikan senyumnya, ia sungguh tak percaya bahwa Viceroy tertarik memakai losion tubuh. Bagi Vara, Viceroy sudah cukup aneh karena memakai lip balm dan kini pria itu juga memakai losion tubuh?
Viceroy menyapukan losion bertekstur gel berwarna putih itu ke kaki dan tangannya. Entah mengapa ia menyukai aroma losion tersebut. Ia menoleh ke arah Vara yang masih asyik menonton film.
"Vara, bisakah kau menyapukan losion ke punggungku?" tanya Viceroy.
Vara terkesiap.
__ADS_1
"Lihat, tanganku tidak bisa berputar tiga ratus enam puluh derajat," kata Viceroy.
Vara segera memejamkan matanya saat Viceroy membuka jubah mandinya, membuat punggung terpampang jelas di hadapan Vara. Vara tidak mau mengakui bahwa Viceroy memiliki punggung yang begitu atletis. Viceroy merinding saat tangan Vara menyapu punggungnya. Entah mengapa ia begitu berdebar-debar. Perasaan aneh dan begitu asing menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia harus melakukan sesuatu agar perasaan ini tidak mengambil alih tubuhnya.
"Vara, apa kau tahu, mengapa malam begitu gelap?" tanya Viceroy.
"Kalau terang namanya siang," jawab Vara sekenanya.
"Gelap karena kau menutup mata," sahut Viceroy.
"Haha!" Vara tertawa sambil mendorong punggung Viceroy.
"Viceroy, aku tertawa bukan karena leluconmu itu lucu, aku tertawa karena leluconmu itu sangat tidak lucu," Vara masih tertawa.
"Kenapa kau menutup matamu? Takut meneteskan air liurmu?" tanya Viceroy.
"Iya, aku takut menggigitmu karena kau seperti gulali kapas," sahut Vara dengan nada mengejek.
Karena Viceroy memiliki tubuh yang mengembang bak gulali kapas, kulitnya juga begitu putih dan mulus. Bagaimana Viceroy bisa berubah begitu drastis dalam lima belas tahun?
Viceroy memakai kembali jubah mandinya, ia segera menyandarkan tubuhnya di tumpukan bantal.
"Vara, apa kau sudah siap mengikuti uji sertifikasi?" tanya Viceroy.
"Hmm, siap tidak siap, mau tidak mau, suka tidak suka, harus tetap dijalani," jawab Vara.
Daripada harus ikut pulang kampung! Batin Vara.
Viceroy tersenyum mendengar jawaban Vara. Viceroy harus mengakui bahwa Vara memang wanita yang punya kemauan belajar yang begitu besar, ia juga orang yang fokus dan cepat belajar.
Viceroy memandangi wajah Vara yang nampak begitu nyaman terlelap di sampingnya. Pria itu menyelimuti Vara, tanpa melepas pandangannya.
Vara sungguh berbeda dengan Regina. Vara tidak pernah mengeluh dan selalu menghadapi semua hal dengan senyumnya yang ceria. Tidak seperti Regina yang selalu terbawa emosi, dan pikirannya begitu mudah berubah hanya dalam hitungan detik. Dua tahun Viceroy mencoba memahami Regina, namun wanita itu tak pernah mengerti dirinya. Bahkan wanita itu menolak saat Viceroy melamarnya.
Viceroy hanya bertemu dengan Vara kurang dari seminggu, namun wanita ini langsung menerima ajakannya untuk menjadi rekan menikah. Wanita ini sama sekali tidak melawan arus, ia menuruti apapun yang dikehendaki Viceroy. Wanita ini tidak membantah selama Viceroy bisa memberinya pengertian. Apa Vara begini karena memiliki tujuan tertentu?
__ADS_1
Ya, Viceroy juga begini karena memiliki tujuan tertentu. Mereka berdiri di posisi yang sama, sama-sama sedang memperjuangkan sesuatu makanya mereka memilih untuk bersama.