
Ryo segera memarkirkan mobil begitu ia tiba di rumahnya. Ia melihat sebuah mobil asing yang parkir di depan rumah. Mobil hitam murahan, itulah yang tebersit dalam pikiran Ryo. Mengingat Ryo mengemudikan mobil sport mewah yang harganya mencapai miliaran.
Apa ada tamu yang datang? Ryo bertanya-tanya dalam hati.
Bi Jiah segera membukakan pintu dan menyambut kedatangan Ryo.
"Malam, Mas Ryo," sapa Bi Jiah.
"Malam, Bi, ada tamu, ya?" tanya Ryo.
"Ada Mas Roy datang, Mas Ryo," jawab Bi Jiah.
Ryo melangkah masuk menuju ke ruang keluarga. Viceroy sudah terlihat duduk di sofa bersama ibunya. Keduanya nampak sedang bersitegang, Ryo bisa merasakan atmosfer menegangkan yang begitu mengintimidasi hanya dari melihat tatapan ibu dan anak yang nampak jelas sedang berperang dingin tanpa kata-kata.
"Roy, tumben kau pulang ke rumah," sapa Ryo yang langsung duduk bergabung di sofa yang berbeda dari Viceroy dan juga ibunya.
Viceroy hanya melemparkan tatapan skeptis ke arah Ryo. Ryo mengulas senyum cemerlangnya. Benar dugaannya, adiknya ini memang sangat berbakti pada perintah ibu. Ibunya menyuruh datang, adiknya itu pasti akan datang meski dengan berat hati.
"Masih ingat punya rumah juga, ya?" sindir Ryo.
"Ryo, adikmu sudah pulang kembali, jangan disindir-sindir begitu," tegur Virda.
"Kenapa kau pulang, Roy? Sudah bosan main rumah-rumahan dengan istrimu?" tanya Ryo kembali menyindir Viceroy.
"Ryo, sebenarnya apa masalahmu dengan istriku sampai kau sebegitu kesalnya dengan istriku?" tanya Viceroy setenang mungkin.
"Apa kau pernah ditolak istriku?" tanya Viceroy memprovokasi Ryo.
"Aku ditolak istrimu?" tanya Ryo seraya tertawa. "Yang ada justru akulah yang menolaknya Roy!"
"Habisnya, kau seakan punya dendam pribadi begitu," komentar Viceroy dingin.
Viceroy menatap lurus ke arah Ryo. Ia melipat kedua tangannya di depan dada sambil menyandarkan punggung di sandaran sofa.
"Roy, kenapa kau masih tetap mempertahankan istrimu itu? Bukankah Ibu sudah memintamu untuk menceraikan istrimu?!" tandas Virda.
"Ibu, aku mencintai istriku," jawab Viceroy dengan tegas.
__ADS_1
"Haha, omong kosong macam apa itu, Roy!" Ryo tertawa sinis.
"Roy, kau jangan jadi ayam yang baru lepas dari kandang! Begitu mengenal wanita kau langsung menjadi budak cinta seperti itu! Jangan bikin malu keluarga, Roy!" lanjut Ryo.
"Aku tahu, kau bahkan tidak pernah mengencani wanita manapun karena kau sangat perhitungan! Tapi ya, kau harus pilih-pilih juga wanita yang pantas untuk hidup bersamamu! Kau jangan asal pilih, Roy! Makanya aku setuju sekali dengan keputusan Ibu yang mengaturkan perjodohan untukmu!" Ryo menatap lurus Viceroy yang nampak menegang.
"Roy, apa yang dikatakan oleh Ryo benar," kata Virda.
"Ibu," kata Viceroy menatap ibunya.
"Apa salah dan kurangnya istriku, Bu? Kenapa istriku tidak layak untuk menjadi pendampingku?" tanya Viceroy.
"Roy! Bisa-bisanya kau mempertanyakan hal yang sudah jelas!" sergah Ryo.
Ryo harus berusaha untuk meyakinkan ibunya. Bagi Ryo, pembatalan pernikahan adiknya adalah satu-satunya cara agar ia memenangkan pertaruhan mereka. Ia tidak bisa kehilangan perusahaannya begitu saja dan tentunya ia harus mendapatkan lahan pribadi milik Viceroy yang benar-benar diincarnya. Strategi yang bagus akan mendapatkan kemenangan yang gemilang, itulah yang selama ini dipikirkan Ryo masak-masak.
"Ibu, aku merasa bahwa Ibu lebih berpihak pada Ryo," kata Viceroy mengarahkan pandangannya pada Virda.
"Sebenarnya, aku ini anak kandung Ibu atau hanya anak pungut? Mengapa Ibu lebih berat pada Ryo?" tanya Viceroy.
"Roy! Jaga-jaga mulutmu!" sergah Ryo.
Viceroy bisa melihat percikan api dari mata Ryo yang siap untuk melayangkan pembalasan terhadap tudingan dari Viceroy.
"Roy, kau jangan mengada-ada! Asal kau tahu, Ibu lebih menyayangimu! Ibu lebih perhatian padamu karena kau memang tidak bisa dibiarkan begitu saja! Kau itu dari dulu selalu membuat Ibu cemas! Mulai dari orientasi seksualmu hingga kini pernikahanmu!" tandas Ryo.
"Kau selalu berbuat seenaknya tanpa pernah berdiskusi dengan kami! Kau selalu tertutup dan menutupi kehidupanmu!" lanjut Ryo.
"Ryo! Bagaimana aku tidak menutupi kehidupan pribadiku, sementara kau selalu menginginkan apapun yang aku miliki!" sergah Viceroy.
Viceroy menatap tajam ke arah Ryo. Kakaknya itu selalu menginginkan apapun yang dimiliki oleh Viceroy. Viceroy bahkan menyembunyikan keberadaan Regina lantaran terlalu takut jika Ryo mengambilnya. Bagaimana Viceroy bisa berkencan dengan seorang wanita jika semua wanita yang pernah diincarnya selalu berakhir menjadi kekasih Ryo.
Begitu juga dengan pekerjaan, proyek-proyek besar yang diincar Viceroy juga pasti diincar Ryo. Bahkan kini Ryo turut menginginkan lahan pribadi Viceroy. Sebagai pria penuh perhitungan, tentulah Viceroy tidak bisa menyerahkan lahan pribadi yang sudah menghabiskan uangnya berpuluh-puluh miliar. Mulai dari drama persengketaan masalah kepemilikan sertifikat yang membutuhkan selusin pengacara terbaik, membuka daerah yang awalnya hanyalah hutan, membangun infrastruktur jalan, membangun rumah impiannya, hingga perawatan lahan. Semua itu tentu tidak menggelontorkan dana yang sedikit. Lalu, dengan mudahnya Ryo menginginkan semua itu tanpa berusaha sama sekali?
Sungguh pria tidak berakhlak!
"Roy, kembali ke kamarmu sekarang!" perintah Virda.
__ADS_1
"Ibu, urusanku dengan Ryo belum selesai!" sergah Viceroy.
"Ibu, Roy benar-benar anak durhaka! Bisa-bisanya menentang keputusan Ibu!" sergah Ryo.
"Ryo, Roy! Ambil pisau di dapur!" perintah Virda.
Ryo dan Viceroy langsung terdiam. Ketika mereka terlibat pertengkaran, Virda memang menyuruh mereka untuk mengambil pisau dan saling tikam. Jika mereka memang masih memiliki akal sehat, tentulah mereka tidak akan melakukannya. Begitulah cara Virda mendidik dua anak laki-lakinya yang dari dulu selalu bertengkar. Mendidik dua anak laki-laki yang tumbuh tanpa sosok seorang ayah tentulah membuat Virda kewalahan.
Tak ayal kedua anaknya kerap berperang dingin, lantaran tidak mau mengambil pisau untuk saling tikam.
Viceroy masih menahan emosinya, ia segera bergegas pergi meninggalkan ibu dan kakaknya untuk menuju ke kamarnya yang berada di lantai tiga.
"Ibu, Roy benar-benar harus di ruqyah!" kata Ryo.
"Ryo, jangan bicara aneh-aneh! Memangnya kau pikir Roy kerasukan setan?!" sergah Virda.
"Ibu, Roy pasti saat ini sedang dirasuki roh halus jahat sehingga tidak bisa berpikir jernih," tandas Ryo.
Virda menatap tajam ke arah Ryo.
"Ibu bahkan bisa melihat sendiri betapa Roy menentang keputusan Ibu! Dia lebih mementingkan ambisi dan nafsunya saja! Dia sama sekali tidak memikirkan nama baik keluarga kita!" kata Ryo.
Ryo benar-benar harus mendesak ibunya. Saat ini ia sudah memegang kartu truf terbaiknya untuk memenangkan pertaruhan dengan adiknya ini. Ia tidak peduli meski harus dikatai menghalalkan segala cara. Pun demikian dengan adiknya yang sudah menghalalkan segala cara untuk memperoleh kemenangan. Posisi mereka saat ini sama, yakni sama-sama ingin meraih kemenangan.
"Roy sama sekali tidak mau bergerak untuk menceraikan istrinya!" geram Virda.
"Ibu, Roy sangat perhitungan! Dia bahkan mengaku menikah secara gratis! Perceraian tentu menghabiskan dana yang tidak sedikit! Dia juga pasti mempertimbangkan pembagian harta gono-goni dengan istrinya itu! Makanya hingga kini Roy belum bergerak juga!" kata Ryo.
Virda memijat pelipisnya. Semua yang diucapkan oleh Ryo benar-benar masuk akal. Ryo sangat memahami karakter ibunya yang mudah hilang simpati jika mendengar berita miring tentang sesuatu, khususnya tentang seseorang. Pun demikian dengan Ryo yang lebih memercayai asumsinya dari berita yang beredar. Ia malas jika harus mencari tahu sendiri, terlebih jika ia sudah ilfeel alias ilang feeling.
"Ryo, kalau begitu kau saja yang bantu uruskan perceraian Roy! Turunkan tim pengacara terbaikmu! Ibu benar-benar sudah muak melihat Roy yang seperti itu," geram Virda.
"Apa Ibu yakin tidak perlu persetujuan Roy?" tanya Ryo.
"Ryo, jika harus menunggu persetujuan Roy, sampai lebaran monyet juga tidak akan ada pergerakan darinya!" jawab Virda sambil memijat pelipisnya.
"Baik, Bu, aku mengerti," sahut Ryo.
__ADS_1
Bagi Ryo, perintah dari ibunya adalah perintah yang tak terbantahkan. Ryo tersenyum penuh kemenangan karena sudah berhasil menggenggam kemenangannya.
Skakmat, Roy.