Aku Bukan Pembawa Sial!

Aku Bukan Pembawa Sial!
Kinara


__ADS_3

Dokter keluar dari ruangan pemeriksaan dan menemui David yang duduk di kursi tunggu.


"Bagaimana dok, kondisinya?" tanya David menyerbu dokter


"Dia sudah sadar, tapi kondisinya masih sangat lemah" jawab Dokter


"Saya boleh melihat nya dok?" tanya David


"Silahkan masuk" ajak dokter


David masuk dan melihat Kinara yang sudah sadarkan diri, namun terlihat begitu lemas dan pucat. Kinara dibantu dokter mengubah posisi menjadi setengah duduk


"Kinara"


"Kak David"


David duduk di kursi dan dokter meninggalkan mereka berdua


"Baju kak David basah,,," ucap Kinara melihat penampilan David lusuh dan berantakan


"Tidak perlu khawatir, aku yang khawatir saat kamu hampir tenggelam! Bagaimana kondisi mu sekarang?!" tanya David dengan wajah cemas namun sudah tidak separah sebelumnya.


"Aku sudah tidak apa-apa, gantilah baju, nanti masuk angin" ucap Kinara


"Iya, nanti aku ganti baju. Bagaimana kamu bisa tercebur hah?! apa kamu gak bisa berenang?!" tanya David


"Apa kak David yang menolongku?" tanya Kinara malah balik tanya


David tak bisa menjawab, apalagi menceritakan detail yang sudah terjadi saat itu. David tidak kuasa untuk mengatakan semuanya, takut Kinara akan pingsan lagi jika tau apa yang sudah ia lakukan padanya.


"Terimakasih,,," ucap Kinara


"Jawab pertanyaan ku" ucap David


"Kina bisa berenang kak,,, tapi,,,,"

__ADS_1


"Kina terlalu banyak trauma di masa kecil kina. Dulu,,,Istri papi pernah meninggalkan kina dalam gudang gelap, jika saja kak Ibra tidak datang kerumah papi, mungkin kina masih berada di dalam tempat itu. Kina seperti haus akan pengakuan dari papi jika kina adalah putrinya, sampai kina belum jera untuk menemui papi dan saat dirumah papi, kina didorong dan di tenggelamkan oleh istri papi saat papi di ruangan lain. Kina seperti anak yang tidak diharapkan,,, Kina tidak pernah dianggap ada dalam hidup papi,,,," suara Kinara semakin lirih terganti dengan Isak tangisnya.


"Hanya mami, dan kak Ibra yang mau menerima kina,,," ucap Kinara semakin pilu


David melihat kesedihan mendalam dari wajah Kinara. Wajah yang biasanya terlihat ceria, ternyata menyimpan banyak kesedihan. Diraihlah telapak tangan Kinara ditumpuk dengan tangan besar David, digenggamnya lembut


"Kamu yang sabar ya,,," ucap David, satu tangannya terulur mengusap air mata yang masih jatuh di pelupuk matanya


"Boleh peluk,,,?" tanya Kinara takut-takut


Melihat wajah sayu, lemah itu, membuat David tak tega untuk menolak. David mengangguk lalu memberikan akses Kinara untuk memeluknya. Tangis Kinara semakin pecah ketika mendapat sandaran untuk menangis. Sementara David membiarkan Kinara menumpahkan segala kesedihannya malam itu didalam pelukannya. Disaat Kinara terpuruk, hanya ada pelukan sang mami dan kakak tercinta nya. Hanya mereka berdua teman untuk berkeluh kesah.


Terlalu lama menangis membuat Kinara lelah dan tertidur, juga karena pengaruh obat yang di berikan dokter sebelumnya. Dengan hati-hati David melepaskan pelukannya dan merebahkan Kinara di brankar rumah sakit. David mengatur posisi brankar agar Kinara nyaman beristirahat.


Tak lama kemudian suster datang dan akan memindahkan Kinara ke ruang rawat inap, David pun turut ikut menemani.


Sementara itu,,,,


Ibra tidak bisa tenang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit tempat Kinara dirawat. Perjalanan lumayan lama dan tak sedikitpun Ibra bisa berfikir tenang. Berkali-kali Ibra menelfon David namun tidak diangkat. Ponsel David tertinggal di mobil, sementara mobil dibawa Rudi ke penginapan untuk mengambil pakaian ganti David.


Ibra tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika terjadi hal buruk pada adiknya. Sudah terlalu banyak kesedihan dimasa lalu mereka, hingga Ibra tidak ingin kesedihan menimpa keluarganya lagi. Rasa cemas, panik, kekhawatiran berlebihan membuat Ibra tertekan dan melupakan Indah yang saat ini sendiri di apartemen.


Indah melihat jam menunjukkan pukul 7 malam, Indah memutuskan untuk pulang kerumah orang tuanya karena menanggap dirinya hanya sebagai beban untuk Ibra. Indah mengemasi barang-barang nya dan memesan taksi untuk pulang.


"Kinaraaa?!" ucap Ibra saat membuka pintu ruangan Kinara


David terjingkat kaget saat mendengar suara keras Ibra memanggil Kinara. Posisi David tertidur dengan menggenggam tangan Kinara. Buru-buru David melepaskan tangannya


"Kinaraaa,,, " ucap Ibra menyentuh wajah adiknya


"Tuan,,, Kinara tertidur karena pengaruh obat dari dokter" ucap David yang sudah berdiri tegak menjauh dari Kinara


"Bagaimana kondisinya?"


"Kinara sudah sadar tuan, dia hanya tertidur, besok sudah boleh dibawa pulang" jawab David

__ADS_1


"Kemana ponselmu?! kenapa kau sangat sulit dihubungi?!" sarkas Ibra


David baru teringat akan ponselnya


"Ah,,, pasti ponsel saya tertinggal di mobil tuan, Rudy pun belum kembali kesini " jawab David


Ibra duduk di samping Kinara dan menatap adiknya yang memejamkan matanya, ntah apa yang difikirkan Ibra, dia hanya diam menatap sendu. David tidak berani mengganggu Ibra dan Kinara, kemudian ia memilih keluar dari ruangan itu dan menunggu Rudy. Bahkan pakaian David sudah terasa kering dibadan.


Tok


Tok


Ceklekkkk,,,,,,


"Indah?!" ucap pak Idris kaget


"Assalamualaikum" ucap indah


"Wa'alaikumsalam,,, masuk nak,,, dimana Ibra?!" tanya sang ayah pada putrinya yang datang malam-malam dengan membawa koper besar


"Mas Ibra gak ikut yah" jawab Indah masuk kedalam rumah


"Kenapa kamu bawa koper? kamu gak lagi berantem kan sama suamimu?"tanya ibu ayu


"Indah,,, mau ke kamar dulu Bu,,," jawab Indah lesu


Indah menarik kopernya menuju ke kamarnya.


"Temani putrimu,," ucap Pak Idris dan diangguki ibu Ayu.


Kemudian Ibu ayu menyusul indah ke kamarnya.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung,,,,


__ADS_2