Aku Bukan Pembawa Sial!

Aku Bukan Pembawa Sial!
Maaf


__ADS_3

Indah sudah turun kebawah tanpa Ibra, Indah sudah cukup beradu mulut bersama suaminya itu namun ternyata sama seperti dugaannya, Ibra akan tetap pada pendiriannya untuk tidak ikut Indah dan mami kerumah sakit. Mungkin Ibra belum bisa memaafkan kesalahan papinya di masa lalu


"Mami,," sapa indah saat melihat mami sudah berada di bawah


"Indah, ibra gak ikut?" tanya mami


"Seperti dugaan Indah, mas ibra tidak akan ikut" jawab Indah


"Hmm,, ya sudah gak papa. Kita berangkat saja berdua" jawab mami yang kemudian menggandeng mantunya itu.


"Ayo mi,,, Oh iya mi, jadi besok mas ibra yang akan menikahkan Kinara dan David?" tanya Indah


"Iya,,, mau gimana lagi?! papi gak mungkin kan?" jawab mami, lalu keduanya masuk kedalam mobil. Begitu terkejutnya Indah dan mami saat tiba-tiba Ibra masuk kedalam mobil


"Jalan pak" ucap Ibra


Mami dan Indah pun saling menoleh, tidak ada yang berkata setelah itu. Kemudian mobil melaju cepat menuju ke rumah sakit.


Di tempat lain,


Sepasang calon pengantin tengah sibuk memilih pakaian mana yang akan mereka pakai untuk besok. Padahal hanya akad nikah saja, dan Sebenernya David tidak mempermasalahkan apapun soal pakaian, namun kinara ingin tetap tampil cantik layaknya pengantin yang sesungguhnya.


"Bagaimana kak? apa aku terlihat cantik?" tanya kinara ketiga kali setelah berganti pakaian baru lagi


"Apapun yang kamu pakai selalu cantik kina, tapi jangan terlalu terbuka begitu" ucap David gemas dan tidak rela jika kinara nanti akan dilihat oleh banyak pria, terutama anak buah Ibra cukup banyak di rumah itu


"Hem,,, jadi yang mana?!" tanya kinara juga cukup lelah mencoba beberapa baju namun masih di permasalahkan David karena modelnya


David berdiri dan memilih salah satu gaun yang cukup tertutup lalu memberikan kepada kinara


"Hanya aku yang boleh melihatnya, aku tidak akan rela mata lelaki lain menatap milikku nanti" ucap David sembari melihat kearah bawah dan cukup memperlihatkan sembulan bagian atas kinara


"Baiklah,,,, tuan posesif!" jawab kinara yang kemudian mengambil gaun dari david dan kembali masuk kedalam.


Sementara itu, mobil mami sudah sampai di rumah sakit. Mami dan indah bersiap turun, sementara ibra masih tetap duduk bersama supir dan seperti ragu untuk ikut turun


"Mas gak ikut turun?" tanya Indah


"Sepertinya tidak, aku hanya ingin mengantarmu" jawab Ibra datar


"Ohh,,, ya sudah . Kalau gitu Indah turun ya,," ucap Indah menyusul mami yang sudah turun lebih dulu


"Ayo mi,,"


"Ibra gak ikut?"

__ADS_1


"Enggak katanya"


"Ohh,,, ya sudah kalau gitu" jawab mami yang kemudian menggandeng Indah untuk masuk kedalam rumah sakit


Ibra memandangi dua wanita beda generasi itu masuk kedalam


"Bagaimana bisa, mami memaafkan si tua bangka itu dengan begitu cepat setelah apa yang dia lakukan terhadap keluarganya?! Aku bahkan tidak akan sudi memaafkan dia walau dia bersujud di kakiku!" batin Ibra.


Mami dan Indah sudah sampai di depan ruangan papi di rawat. Lalu mami membuka pintu ruangan papi dan melihat papi sedang bersama suster rumah sakit.


"Bagaimana kondisinya?" tanya suster


"Kondisinya masih sama bu, tuan belum bisa bicara dan hanya mampu seperti ini. Minggu depan tuan akan menjalani terapi lagi" jawab suster.


"Ohh begitu" jawab mami


Lalu suster pamit keluar dan sedari tadi papi hanya mampu menatap mantan istrinya tanpa bisa bicara apapun.


"Aku kesini hanya ingin menyampaikan,,, besok kinara akan menikah, bagaimanapun kamu adalah ayahnya dan kamu harus tau. Kamu tidak datang pun tidak masalah bagi kami, karena ibra yang akan menikahkan mereka" ucap mami


"Dan ini Indah, Istrinya Ibra" ucap mami lagi


Hening, tidak ada lagi suara mami maupun indah saat itu. Bahkan saat bicara, mami juga tidak melihat pada papi


Mami dan Indah tercengang mendengar ucapan papi yang terdengar sedikit tidak jelas tapi bisa di terka maksudnya. Mami langsung melihat kearah papi yang saat ini menatapnya lemah, matanya berair dan jatuh ke samping. Mami melihatnya, dan setelah itu mata itu perlahan semakin sayu, sayu, sayu,,, dan tertutup.


"Papiiiii,,,!! papiiiiii,,,,!" mami berteriak dan memeriksa denyut nadi papi namun tidak terasa lagi pergerakannya. Nafas papi pun tidak terasa lagi, dengan paniknya, indah menekan tombol panggilan dokter,


"Piiii,,,, bangun piiiii!!!" Teriak mami histeris.


"Permisi, biar kami memeriksa kondisi pasien" ucap dokter yang langsung memeriksa kondisi pasien setelah tiba di ruangan itu. Indah menarik mami untuk sedikit menjauh dan memberi ruang untuk dokter


Tak lama dokter menghela nafas berat, dan berbalik menatap Mami dan Indah


"Kami sudah berusaha melakukan semaksimal mungkin untuk tuan Hutama Nyonya, Tapi,,, tuhan menentukan jalan lain. Kami sampaikan, tuan Hutama sudah meninggal... Kami turut berduka" ucap dokter dengan nada berat dan sedih.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun"


Mami tidak bersuara lagi, dia hanya bisa menangis, dia memang membenci kelakuan papi, tapi sebencinya mami terhadap papi, jauh di dalam lubuk hatinya yang terdalam, masih ada rasa cinta yang terpendam. Papi adalah cinta pertama mami dari SMA, dan bersama papilah mereka merintis kehidupan percintaan meski di pertengahan jalan papi berubah, papi menyakiti mami dan juga anak-anak.


"Mi,,, mungkin ini adalah yang terbaik untuk papi. Allah sudah tetapkan ini, dan kita harus memaafkan semua kesalahan papi,,,," ucap Indah


"Iya,, kamu benar" jawab mami


"Nyonya, apa jenazah akan diurus keluarga atau,,,,"

__ADS_1


"Kami akan membawa pulang jenazah tuan hutama" jawab mami


"Baik"


Suster sudah selesai melepas peralatan medis yang ada di tubuh pasien, setelah itu mereka akan membawa jenazah keluar dari kamar itu. Saat sudah dibawa keluar, Roy yang baru datang pun sangat kaget melihat pasien yang tertutup kain putih seluruhnya.


"Tuan besar?!" ucap roy kaget


"Nyonya?!" ucap Roy melihat kearah mami


"Ya, tuan hutama sudah meninggal" ucap mami


Deg!


Ibra membeku saat mendengar ucapan mami kepada roy, dia yang awalnya ingin mengajak Indah dan mami pulang kini malah melihat jasad ayahnya yang sedang dibawa suster.


"Tunggu!" ucap Ibra kepada suster yang membawa jasad papi


Suster itu berhenti dan dengan perlahan Ibra mendekat lalu membuka kain putih bagian atas


Deg


Deg


Deg


Pria tua dengan rambut memutih, wajah terlihat sedikit keriput, mata tertutup rapat dengan mulut yang miring, kini seperti tengah tidur dengan nyenyak. Wajahnya berubah ke kanak-kanakan namun tetap terlihat tampan, sangat mirip dengan putranya yang kini tengah menatapnya. Ibra sama sekali tidak bicara saat menatap wajah tua itu. Lalu Ibra menutup kembali dan membiarkan suster membawanya.


Mereka yang disana melihat ada kesedihan yang mendalam pada sosok pria yang terlihat kaku dan dingin didepan mereka.


"Maafkan papi mu" ucap mami saat menyentuh bahu ibra


.


.


.


.


.


To Be Continue gaesss🥺


Udah senin aja nih, uni minta vote boleh dong😑

__ADS_1


__ADS_2