Aku Bukan Pembawa Sial!

Aku Bukan Pembawa Sial!
Menegang


__ADS_3

Sinar menteri pagi menyilaukan mata Ibra yang masih terpejam. Tidurnya terusik saat sinar itu masuk menembus kaca besar di kamarnya. Perlahan Ibra membuka mata dan dilihatnya seorang wanita paruh baya tengah bersedekap dihadapan nya saat ini


"Bangun" ucap mami menatap putranya yang baru bangun tidur


"Mami" ucap Ibra yang ingin tenggelam saja didalam selimut tebalnya


"Banguuuuuunnnn Ibraaaa!!!" Sarkas mami yang kemudian menarik selimut Ibra dan membuatnya terpaksa bangun


"Ada apa mi?!" ucap Ibra yang terpaksa bangun padahal tubuhnya belum sepenuhnya sadar dan masih begitu berat


Ibra terdiam saat melihat disekitarnya ternyata bukan hanya ada mami, melainkan ada David dan juga Dokter Gala yang tengah berdiri menatap kearahnya.


" Ada perlu apa kalian berdua sudah kemari sepagi ini?!" Tanya Ibra kepada kedua pria yang juga ada di kamarnya


"Apa yang kau bicarakan?! jika tidak ada mereka berdua, mungkin saja kau sudah menodai Indah!" Sarkas mami


"What?!" ucap Ibra begitu kaget


"Semalam apa tuan pergi ke club'?!" tanya David


Ibra memijit keningnya mengingat semalam dia memang pergi ke club' malam setelah mami mengetahui rencananya. Ibra mengingat-ingat dia bertemu siapa saja dalam club' itu


"Anda semalam terkena obat keperkasaan tuan, namun kadarnya masih sedikit, mungkin anda tidak minum terlalu banyak" ucap Gala


"Ahh,,, sial! pasti wanita itu yang memberiku obat!" Sarkas Ibra


"Untung saja mami mendengar jeritan indah! jika tidak mungkin kau sudah benar-benar menodai gadis itu!" ucap Mami kesal dengan putranya


"Dimana Indah mi?" tanya Ibra merasa bersalah


"Didapur" jawab mami singkat


Kemudian Ibra beranjak dari tempat tidur nya dan masuk kedalam kamar mandi. Selama Ibra membersihkan dirinya, mami, David dan juga Gala memilih keluar dari kamar Ibra dan menuju ke meja makan.


Tak lama kemudian Ibra keluar dari kamarnya dan memberanikan diri untuk bertemu dengan Indah. Baru keluar dan bertatapan langsung dengan indah saja sudah membuat Ibra menegang.


Ibra merasa tidak enak sekaligus bingung, bagaimana memulai pembicaraan dengan Indah, pasalnya dirinya tidak ingat apa saja yang sudah dia lakukan terhadap indah. Apa hanya sekedar menyentuhnya atau bahkan sudah hampir memasukinya, Ibra benar-benar tidak ingat kejadian malam itu. Yang dia rasakan punggungnya terasa sakit pegal-pegal dan kepalanya sedikit pusing.


"Ehm,,,"


Ibra menetralkan jantungnya yang akan melompat kemudian ia ikut duduk di meja makan bersama yang lainnya. Tenggorokan Ibra langsung terasa kering saat melihat tatapan sang mami seakan ingin menelannya hidup-hidup.


"Indah,,, aku,,, minta maaf atas kejadian semalam" ucap Ibra saat sekilas menatap kearah Indah


"Aku,,, benar-benar tidak ingat apa yang sudah aku lakukan padamu semalam" ucap Ibra lagi


Indah terlihat hanya menunduk saja, perasaannya sedikit masih kesal dengan apa yang Ibra lakukan semalam. Meski dia sudah tau jika Ibra seperti itu karena pengaruh obat, tapi Ibra sudah dengan lancangnya mencium pipi, dan telinganya berkali-kali dan mengingat kejadian semalam membuat Indah bergidik

__ADS_1


Semua orang tidak ada yang bicara lagi, mami Ibra pun juga menunggu nunggu jawaban Indah yang tak kunjung terdengar.


"Jelas indah tidak akan mudah memaafkan mu! kau hampir saja memperko,,,"


"Indah sudah memaafkan pak Ibra Bu,,," ucap Indah dengan cepat


"Terimakasih" ucap Ibra merasa sedikit lega.


"Makanya, kau jangan berkeliaran di club' malam lagi! jika kejadian ini terulang lagi, mami tidak akan memaafkan mu! bisa saja saat kau mabuk, kau meniduri wanita sembarangan!!" Sarkas mami dan Ibra hanya diam, tanpa sepengetahuan mami, putranya itu bahkan sudah banyak menjelajah bersama wanita-wanita bayarannya saat belum bertemu dengan Indah, namun tidak ada satupun dari mereka yang mampu membuatnya puas.


Setelah sarapan selesai, David pamit karena harus kembali ke kantor dan Gala akan kembali bertugas dirumah sakit. Sementara Ibra tidak ada pilihan lain selain mengikuti perintah sang mami untuk mengantarkan Indah pulang. Mami takut jika kejadian malam tadi akan terulang kembali, jika Indah masih berada di apartemen itu.


Suasana didalam mobil sangat mencekam, Baik Indah maupun Ibra merasakan atmosfir gerah dan ketegangan yang luar biasa. Sesekali Ibra melirik kearah indah yang hanya diam menatap lurus ke depan jalanan yang kadang lancar, kadang juga sedikit macet. Hingga tanpa terasa mereka sudah sampai didepan rumah Indah yang terlihat sepi karena pasti orang tua Indah berada di kedai roti.


"Indah,,," ucap Ibra menahan Indah keluar dari mobil nya.


"Ada apa pak?" tanya Indah melihat kearah Ibra


"Aku benar-benar minta maaf, aku tidak bermaksud melakukan hal buruk padamu, aku,,,," ucap Ibra terpotong


"Iya,, saya paham pak, bapak melakukan itu karena pengaruh obat kan?! saya sudah tidak ingin lagi mengingat kejadian semalam" jawab Indah


"Kalau,,, boleh tau,,, sejauh mana,,, aku menyentuhmu?!" tanya Ibra takut-takut


Sontak Indah menatap Ibra yang juga tengah menatapnya. Wajah indah tiba-tiba langsung memerah saat Ibra menanyakan hal itu dan membuat Indah kembali mengingat kejadian semalam.


Kini bukan hanya Indah berwajah merah, Ibra pun begitu saat menatap Indah dengan jarak yang begitu dekat. Jantungnya sudah tidak bisa di kondisikan lagi, bahkan mungkin suaranya sudah sangat terdengar dari luar.


Indah begitu malu, ia pun langsung turun dan mengambil tasnya di bangku penumpang. Tanpa bicara lagi, Indah langsung berlari menuju ke pintu masuk rumahnya. Sementara Ibra hanya mampu menatap kepergian Indah.


Dengan tangan bergetar, Indah mencari kunci rumah yang tidak kunjung ketemu didalam tasnya.


"Astagfirullah!! kemana sih kuncinya!!" Ucap Indah malah gugup sendiri.


Setelah ketemu, Indah pun membuka pintu itu dan segera masuk. Indah sudah tidak kuat menahan debaran jantungnya saat menatap Ibra yang sangat begitu jelas dimatanya. Rasanya begitu aneh, bahkan hampir mirip saat dulu Indah menatap Indra untuk yang pertama kali.


Karena Indah sudah masuk kedalam rumah, Ibra pun kembali melajukan mobilnya menuju ke apartemen nya.


"Sejauh mana aku sudah menyentuh Indah?! kenapa aku tidak ingat sama sekali?! aku,,, aku hanya ingat jika semalam aku melihat wanita tidur di ranjang ku!" batin Ibra masih mengingat-ingat kelakuannya semalam.


"Aku harus tanya ke mami!" ucap Ibra yang kemudian menjalankan mobilnya dengan cepat.


Sesampainya di apartemen, Ibra langsung masuk kedalam apartemen dan mencari keberadaan sang mami


"Mami,,,"


"Mi,,,,"

__ADS_1


Ibra teriak teriak memanggil maminya


"Ada apa sih?!" jawab mami yang baru keluar dari kamar mandi


"Mi,,, pasti mami tau, apa yang sudah aku lakukan pada Indah?!" ucap Ibra


"Ya mana mami tau?!"


"Bohong! pasti mami tau! katakan mi!!" ucap Ibra


"Mami gak tau jelasnya Ibra! mami cuma samar-samar mendengar jeritan Indah minta tolong, terus mami lihat kamarmu gak ditutup. Mami langsung masuk dan mami lihat kamu mengungkung Indah dibawahmu!! mami ambil sapu dan memukuli mu dengan sapu!!" ucap mami


"Pantas saja punggungku sakit!" ucap Ibra


"Itu tidak seberapa sakitnya!! mungkin saja kau sudah mencium indah dan bahkan menggigit nya!" ucap mami yang kemudian pergi meninggalkan Ibra


"Menciumnya?! mengigit?! ah tidak mungkin!" ucap Ibra lirih


"Mungkin saja!! memangnya kau ingat?!" sahut mami


Ibra merasa kesal karena tidak bisa mengingat apa yang sudah dilakukannya terhadap indah


"Lihat saja, Indah belum sepenuhnya memaafkan mu, berarti kau melakukan hal lebih!! semalam, mami bukan hanya mendengar jeritan Indah minta tolong, tapi juga rintihannya!" ucap mami malah memperkeruh suasana. Mami ingin memberi pelajaran pada putranya yang sudah membohongi dirinya.


Tampak wajah Ibra begitu kalut, dia berkelut dengan pikirannya sendiri ditambah ucapan mami yang bisa saja benar. Terlihat Indah tadi seperti terpaksa memberi maaf, tentu saja kemungkinan Ibra sudah menyentuhnya begitu jauh.


"Apa Indah masih mengenakan pakaian lengkap mi?!" tanya Ibra


"Kau yang sudah tidak pakai baju, dan kau membuat Indah berantakan!" ucap sang mami dibuat-buat


"Hah?!"


Ibra mengusap wajahnya dengan kasar, dia berjalan menuju ke kamarnya dan berfikir bagaimana nanti jika dia bertemu Indah, perasaan bersalah kini menyelimuti hati Ibra sepenuhnya.


"Itu hukuman untuk anak nakal seperti mu!!"


Mami tersenyum puas melihat putranya dirundung rasa bersalah yang besar kepada Indah.


.


.


.


.


Bersambung,,,,,,

__ADS_1


__ADS_2