Aku Bukan Pembawa Sial!

Aku Bukan Pembawa Sial!
Membobol Gawang Lawan


__ADS_3

Hampir 3 jam Ibra, Zack dan Dores berada diruangan rapat. Banyak sekali pembahasan dan persiapan yang tengah mereka persiapkan untuk memulai pembangunan project mereka bertiga. Tidak ada yang membahas diluar proyek lagi, ketiganya pun hanya fokus pada bisnis yang mereka akan bangun bersama. Ini bukan project pertama mereka, namun sudah project yang mereka bangun bersama dengan bisnis yang berbeda. Setelah pertemuan mereka, Zack dan Dores pun pamit untuk pulang, sementara Ibra kembali ke ruangannya.


"Dimana Indah?!" ucap Ibra yang tidak melihat indah di meja kerjanya. Lalu Ibra masuk keruangannya dan menuju ke ruang pribadinya. Dilihatnya Indah tengah tertidur pulas diatas tempat tidur


"Malah tidur" ucap Ibra yang kemudian menghampiri Indah


"Hey,, bangun" ucap Ibra saat mencubit gemas pipi Indah yang sedikit gembul


Beberapa kali Indah mengerjakan mata karena merasa terusik tidurnya


"Em,,, mas Ibra,,,? sudah selesai rapatnya?" tanya Indah yang kemudian duduk menghadap suaminya


"Sudah, nyenyak bangat yahh tidurnya?" ucap Ibra


"Sepertinya begitu,,, jam berapa sekarang mas?" tanya Indah


"Hampir jam 12,,," jawab Ibra


"Ohh mau Zuhur, aku keluar dulu " ucap Indah yang dengan cepat ingin meninggalkan Ibra


Namun, belum sampai Indah beranjak, Ibra menariknya dan kini Indah sudah berada di bawah Kungkungan nya dengan sorot mata terkunci.


Jantung berdetak begitu cepat seolah sedang maraton ribuan kilometer. Tatapan lekad itu sudah memporak-porandakan jantung Indah, sementara tatapan sayu Indah membuat Ibra kalap ingin segera menyelam ke dasar samudra biru.


"Mas,,, em,,, sebentar lagi Zuhur,, kan?" ucap Indah mencari cara agar bisa terlepas dari Ibra


"Memangnya kenapa?!" tanya Ibra yang semakin dekat dengan wajah Indah


"Biasanya,,, kan,,, mas ,, selalu keluar sebelum jam makan siang,,," ucap Indah mengingatkan Ibra.


"Aku sedang tidak ingin keluar" ucap Ibra semakin lekad menatap mata biru yang kini malah menjadi candu untuknya di tatap.


Indah tak lagi mempu bicara, sebab kini mulutnya sudah di bungkam sempurna oleh Ibra dengan kehangatan yang dibawanya. Indah tak diam saja, kini ia pun sudah mengikuti nalurinya untuk mengalungkan kedua tangannya pada leher Ibra, dan Tidak hanya itu, kini tangan itu sudah mulai beradaptasi untuk merayap keatas dan sesekali mendorong untuk memperdalam kehangatan yang semakin dalam.


Kini, Ibra sudah merosot menyusuri jalanan putih, mulus bebas hambatan yang sedikit sudah mulai dipenuhi bulir bulir air. Berkali-kali Ibra berhenti sejenak untuk membuat jejak jejak petualang dengan begitu lincahnya.


Jejak itu semakin banyak, dan semakin turun hingga kini Ibra sudah sampai di dua pegunungan kembar yang sering disebut simenul. Sejenak ia beristirahat, menghilangkan dahaga meski tak bisa hilang malah semakin haus.

__ADS_1


Indah dibuat kelimpungan, banjir keringat, dan sesekali memelas karena Ibra sering menggodanya dengan ritme cepat lambat karena Ibra sangat tau bagaimana membuat lawan bertekuk lutut dihadapan nya. Menatap istrinya yang sudah seperti macan tutul, membuat Ibra kalap dan semakin membakar kobaran api kelelakiannya. Tidak membutuhkan waktu yang lama, kini keduanya sama-sama polos.


"Tahan yah,,, aku mau bobol gawang mu" ucap Ibra saat setengah berbisik dengan suaranya yang serak dan berat


"Memangnya kita main sepak bola mas?" tanya Indah disela menahan suara luc nut agar tidak keluar


"Ya, anggap saja begitu, ini striker handal, siap-siap gawang mu jebol!" ucap Ibra


Indah tak sanggup lagi menjawab ketika sang striker sudah mulai mengocek bola mengarahkannya ke gawang lawan. Penjaga gawang tak mampu melihat kemana arah bola bergulir karena sibuk sendiri memejamkan matanya, mencengkram kuat kulit putih bersih dan sesekali terlihat menjadi merah karena cakarannya.


Yang mengaku striker handal nyatanya kesulitan membobol gawang lawan, beberapa kali mencoba namun juga belum bisa mencetak gol meski sudah berusaha menerobos pertahanan lawan.


"Eeuhh,,,, sakit mas!!" Seiring ucapan Indah goresan tinta merah memanjang sempurna di punggung sang striker.


"Aaaahh!!! susah sekali!" teriak frustasi Ibra yang beberapa kali gagal.


Indah mendorong kuat Ibra karena tak sanggup menahan beratnya beban kehidupan yang ingin masuk dengan paksa.


"Kenapa? padahal udah mau masuk semua!" sungut Ibra


"Sakit! aku gak mau lanjutin mas!" jawab Indah


"Gak mas! sakit banget! aku gak tahan!" jawab Indah dengan ringisan nya


Melihat wajah Indah meringis dan sepertinya terasa begitu sakit, Ibra menarik kembali jagung supernya dengan terpaksa.


"Beneran sakit" ucap Indah menatap iba pada Suaminya


"Ya sudah,,," ucap Ibra yang kemudian turun dari atas indah dan berjalan menuju ke kamar mandi.


Indah menatap resah saat melihat punggung suaminya semakin menjauh dan menghilang dibalik kamar mandi. Tak lama terdengar suara adzan Zuhur siang itu, Indah memunguti pakaiannya kembali dan dikenakan nya.


Ibra keluar dari kamar mandi dengan sudah memakai handuk, kemudian bergantian dengan Indah yang masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan mengambil air wudhu. Saat Indah keluar, Indah melihat Ibra berdiri didepan sajadah yang di bentang nya, namun disana ada dua sajadah yang terbentang dengan ada mukenah putih yang juga terlipat disana


"Mau sampai kapan berdiri disitu?! gak sholat?" ucap Ibra


"Ah iya mas" jawab Indah yang kemudian berjalan cepat menuju sajadah yang sudah terbentang dan memakai mukenah yang sudah di siapkan Ibra untuknya. Setelah itu keduanya pun menjalankan ibadah Zuhur bersama untuk yang pertama kali semenjak mereka menikah. Hati Indah dibuat berdenyut saat menunaikan ibadah bersama sang imam dalam kehidupan rumah tangganya.

__ADS_1


Saat selesai sholat, Indah mengulurkan tangannya didepan Ibra dan sejenak membuat Ibra bingung. Melihat respon kebingungan Ibra, Indah berinisiatif sendiri untuk menarik tangan Ibra dan menciumnya.


"Kalau selesai Sholat jamaah, Salim dulu" ucap Indah dan Ibra hanya termanggung.


Indah membereskan perlengkapan sholatnya setelah itu, ia pun akan pergi ke kamar mandi merapikan penampilan sebelum bekerja lagi, namun belum sampai Indah jauh, Ibra sudah menahannya dengan mendekapnya dari belakang.


"Mau kemana?" tanya Ibra


"Kamar mandi mas, ini sudah jam makan siang, aku lapar" ucap Indah


"Aku jauh lebih lapar , dan ingin memakan mu saja" ucap Ibra dengan tangan sudah mulai menjelajah lagi


"Tapi mas,,, apa gak bisa ditunda dulu? masih sakit mas,,," ucap Indah memelas


"Itu karena belum masuk semua, kalau udah masuk pasti enak! beneran!" ucap Ibra bernego


"Gitu aja sakit, apalagi kalau sampai masuk?! tambah sakit lah! itu belut sawah dikecilin dulu gih!" ucap Indah dan Ibra terkekeh lalu membalik Indah dan kini keduanya berhadapan


"Kamu kira ini lilin mainan yang bisa di kecilin dan dibesarin?! ini jagung super tau! enak ini kalau udah masuk kepunyamu nda" ucap Ibra


"Gak! sakit mas!" jawab Indah


"kita coba sekali lagi deh, kamu tahan sedikit sakitnya, setelah itu aku bisa pastiin kamu bakal ngerasa keenakan!" ucap Ibra lagi namun Indah menggeleng kuat


"Hmm,, ya sudah,,, kalau gak mau" jawab Ibra pasrah dan memilih akan pergi meninggalkan Indah. Ibra tidak ingin memaksa Indah, meski dirinya sangat ingin segera menjadikan Indah miliknya seutuhnya.


Sementara Indah merasa bersalah, dengan menolak ajakan suaminya.


"Mas,,, tunggu!"


"Aku mau coba lagi" ucap Indah saat memeluk Ibra dari belakang.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung,,,,, 🤍


__ADS_2