Aku Bukan Pembawa Sial!

Aku Bukan Pembawa Sial!
Gengsi


__ADS_3

Sepertinya Ibra masih enggan untuk menghubungi Indah memberitahu kan keadaannya saat ini. Mami pun masih sibuk mengurus Kinara yang baru saja melewati masa kritisnya. Mami begitu bersyukur Kinara dapat melewati masa kritisnya dan baru saja dipindahkan ke ruang inap meski Kinara belum membuka matanya.


Sekilas mami menatap kearah Ibra yang tengah duduk dengan menyangga keningnya


"Ibra,,, apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Mami pelan saat sudah duduk di samping Ibra


"Gak ada mi" jawab Ibra


"Bohong! kamu bohong sama mami. Mami bisa melihat dari wajahmu" ucap mami


"Oh, Ibra lupa mami bisa membaca pikiran!" ucap Ibra


"Kau ini!! mami serius,,, !! apa ini ada kaitannya dengan indah? atau apa?" tanya mami mendesak Ibra


"Ibra merasa,, tidak pantas untuk indah mi" ucap Ibra


"Maksud kamu apa? indah sudah menjadi istrimu, kenapa kamu bicara seperti itu hah?! dia wanita yang baik, dari keluarga yang baik" ucap mami


"Iya, justru itu,,, Ibra merasa tidak pantas menjadi suaminya dengan masa lalu yang Ibra miliki" ucap Ibra


"Kamu jangan berkata begitu,, harusnya kamu bersyukur memiliki istri seperti indah, meski kalian belum saling cinta, tapi mami lihat, kamu mulai membuka hatimu untuk Indah" ucap mami


"Ntahlah mi" jawab Ibra


Kemudian Ibra memilih untuk pergi meninggalkan sang mami dan adiknya diruangan itu. Ibra memilih untuk pergi sejenak menenangkan hati dan pikirannya.


"Kasihan sekali anak itu,," ucap mami


Sementara ditempat lain,,,,


Indah tengah duduk didepan jendela kamarnya, dia menatap bintang-bintang di langit yang seakan menemaninya dikala sepi. Kerinduannya berbalut dengan rasa kecewanya. Indah termenung dimalam yang semakin sunyi


Ceklekkkk


"Belum tidur ndah?" tanya ibu Ayu saat masuk kedalam kamar indah


"Belum ngantuk Bu, ibu belum tidur?" tanya Indah

__ADS_1


"Belum, ayahmu masih dirumah pak RT, besok kan ada pemilihan kades baru, jadi rapatnya agak lama. Kamu kenapa sedih gitu?" tanya ibu yang ikut duduk di samping Indah


"Gak kok Bu,,, indah gak sedih" jawab Indah


"Kamu gak bisa bohongin ibu ndah! ibu bisa tau dari sorot matamu, kamu sedang ada masalah kan?! apa ini ada kaitannya sama nak Ibra?" tanya ibu ayu


Indah mengangguk pelan meski dia tidak ingin menatap ibunya.


"Kenapa dia? apa kalian bertengkar?" tanya Ibu dan indah menggeleng


"Sejak mas Ibra pergi,,, dia sangat jarang menghubungi ku Bu,, hanya beberapa kali dia membalas pesanku. Dan itu sangat singkat,,," ucap Indah dan ibu ayu tersenyum


"Jadi kamu sedih karena suamimu gak kasih kabar ke kamu?" tanya ibu dan Indah hanya diam


"Sepertinya kamu sudah mulai mencintainya ndah" ucap ibu


"Gak bu! Indah gak cinta! hanya saja indah merasa mas Ibra seperti menjauhi Indah ! apa mungkin begitu ya Bu? mas Ibra ingin berpisah dengan Indah?" ucap Indah


"Hus! kamu itu ngomong apa?! jangan buruk sangka gitu! siapa tau dia gak kasih kabar kamu, karena dia memang sibuk ndah" ucap ibu


"Tapi Bu,,, seperti hari ini, mas Ibra gak balik ke Indonesia padahal jadwalnya hari ini dia sudah sampai di Indonesia. Tapi,, dia ke Turki tanpa kasih tau ke Indah! seolah indah itu gak dianggap Bu" ucap Indah


"Kenapa kamu gak hubungi nak Ibra?" tanya Ibu


"Malu" jawab Indah


"Malu?! itu suamimu ndah! kenapa harus malu?! daripada kamu galau terus gitu, lebih baik kamu telfon dia! tanyakan kenapa dia tidak mengabari mu! kayak susah banget, padahal jaman sekarang ada hape! kalau dulu iya!" ucap ibu ayu


"Ibu gak ngerti!" ucap Indah


"Apa yang ibu gak ngerti?! gengsi kalian berdua itu yang membuat kalian susah sendiri !" ucap ibu Ayu sedikit meninggi


"Jelas aku gengsi dong Bu! masak iya Indah duluan yang hubungi mas Ibra?! mau ditaruh dimana harga diri Indah?!" ucap Indah ngeyel


Ibu tidak menjawab, dia memilih pergi meninggalkan Indah di kamarnya. Sementara Indah tidak bergeming dan masih duduk di depan jendela dengan menatap langit malam itu.


"Bagaimana bisa aku yang menghubunginya dulu? sedang aku wanita!" batin Indah menolak

__ADS_1


Ibu Ayu berjalan menuju kamarnya, kemudian ia pun mengambil ponsel dan akan menghubungi besannya. Belum sampai ibu ayu menelfon, ponselnya lebih dulu berdering dan itu panggilan dari mami Ibra. Sangat kebetulan.


"Ibu Yolanda"


Cepat-cepat ibu ayu mengangkat telfon dari besannya dan keduanya pun tampak berbincang serius. Ibu ayu mengecilkan volume suaranya agar pembicaraannya dan besannya tidak terdengar oleh Indah, sama seperti mami Ibra yang saat itu tengah duduk di luar ruangan VIP dan sementara Ibra tengah menemani adik nya yang baru saja sadar.


Mami Ibra pun menceritakan semua yang terjadi di sana, tentang kondisi Ibra yang galau, dan juga kondisi Kinara yang baru saja dioperasi. Bukan hanya Mami Ibra, tapi ibu Ayu juga menceritakan kondisi Indah yang dilanda kegalauan. Akhirnya Kedua ibu-ibu itu pun memiliki sebuah rencana untuk menyatukan kedua anak mereka yang memiliki tembok kegengsian yang cukup tinggi.


"Baik kalau begitu,,, saya tunggu kabar baiknya" ucap mami Ibra


"Kabar apa mi?!" Tanya Ibra yang baru saja membuka pintu dan akan keluar


Mami menoleh dengan cukup kaget ketika Ibra keluar tiba-tiba


"Ouh,,, Ibra,,, Mrs. Caroline besok kita sambung lagi ya, saya harus kembali menunggu Kinara... "


"Iyaaa,,, wa'alaikumsalam" ucap Mami yang kemudian mematikan sambungan telfonnya saat Ibra keluar


"Ah ini,,, Ibu Caroline ingin bertemu mama. Biasalah,, urusan ibu-ibu" ucap mami dengan senyum dibuat-buat


"Ohh,, Ibra mau keluar sebentar, Kinara sudah tidur" ucap Ibra


"Kalau kamu mau pulang, pulanglah,,, bisa mami yang jaga adikmu" ucap mami


"Tidak, nanti biar Ibra yang menunggu Kinara, mami saja yang beristirahat dirumah. Ibra hanya ingin ke minimarket sebentar" ucap Ibra


"Baiklah" jawab mami


Kemudian Ibra meninggalkan mami dan berjalan menuju ke minimarket yang ada di lingkungan rumah sakit. Sementara mami masih berdiri melihat Ibra yang semakin jauh dari pandangannya


"Sepertinya kami harus bertindak untuk meruntuhkan kegengsian kalian!!"


Lalu mami pun masuk kembali keruangan Kinara.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung,,,,,,,,


__ADS_2