Aku Bukan Pembawa Sial!

Aku Bukan Pembawa Sial!
Seperti Maling


__ADS_3

Deg!


"Mas Ibra?!"


Indah mematung sesaat, kemudian berjalan sedikit mendekat kearah suaminya


"Bagaimana mas bisa masuk ke kamar?! Bukannya mas sudah pulang?!" tanya Indah heran


Ibra tersenyum lalu menoleh kearah jendela kamar yang terbuka


#Flashback**on


Setelah berpamitan, Ibra memang memutuskan untuk pergi. Saat Ibra sudah menjalankan mobilnya meninggalkan halaman rumah Indah, Ibra melihat jendela kamar Indah yang terbuka, Ibra tersenyum lalu menepikan mobilnya dan berlari menuju ke jendela kamar. Beruntung saat Ibra menengok ke dalam kamar, Indah tidak ada didalam kamar dan Ibra pun melompati jendela kamar dan masuk kedalam.


"Aku terlihat seperti maling saja! untung tidak ada orang yang melihat!" batin Ibra terkekeh namun juga sedikit tegang takut ketahuan orang jika ia melompati jendela kamar dirumah orang.


Tak lama setelah itu Ibra duduk, Indah masuk kedalam kamarnya dengan wajah terkejut


Flashback end


"Mas ingin bicara denganmu,,," ucap Ibra menarik lembut tangan Indah untuk duduk bersamanya. Indah tidak menolak dan ia duduk di samping Ibra dengan diam namun tidak ingin menatap Ibra. Indah tidak akan kuat menatap mata itu, dan ia mesti akan seketika luluh saja.


"Aku minta maaf" ucap Ibra saat menggenggam lembut kedua tangan Indah ditumpuk dengan tangan Ibra


"Mas yang salah,,, tidak seharusnya berkata kasar seperti kemarin,,, " ucap Ibra melembut


Tak sedikitpun Ibra melepaskan tatapan sendunya terhadap Indah saat itu, demi meyakinkan dirinya. Meski Indah tidak membalas tatapannya dan hanya menunduk saja.


"Mas terbawa emosi karena panik" ucap Ibra lagi


"Indah sudah memaafkan mas Ibra soal itu, sekarang mas lebih baik pulang. Indah mau disini" jawab indah menarik tangannya dari genggaman Ibra, namun ditahan oleh Ibra


"Jangan katakan itu mama Indah,, papa tidak akan bisa menjalani hidup tanpa mama Indah"


Wuuussshhh


Wajah Indah merona seketika, saat Ibra menyematkan panggilan 'Mama dan papa' untuk mereka. Hati Indah pun langsung menghangat, mengingat didalam perutnya terdapat buah cinta mereka berdua.


"Jangan merayuku!" jawab Indah pura-pura cemberut

__ADS_1


"Tidak merayu,,, papa tidak pandai merayu mama,,, ayolahh,, jangan marah lagi,,," ucap Ibra meraih dagu Indah dan membuatnya saling menatap


"Indah hanya beban untuk mas,,," ucap Indah lirih


"Tidak! itu tidak benar! Kamu bukan beban untukku! aku tidak pernah merasa terbebani, justru kamu dan anak kita adalah anugrah terindah yang pernah Allah berikan dalam hidup mas, nda. Jangan katakan itu"


"Tapi kemarin mas bilang sendiri kalau Indah itu beban" jawab Indah dengan sudah menangis


Ibra merutuki dirinya sendiri didalam hati, mulutnya begitu lancar mengucapkan hal buruk itu disaat pikirannya kacau.


"Bukan itu maksud mas, maksud mas begini, kemarin kamu bilang mau ikut kan? mas tidak mengizinkanmu karena kondisimu sedang hamil. Mas tentu tidak mau terjadi apa-apa sama kamu. Perjalanan jauh dan medannya cukup terjal. Kalau ada apa-apa bukan kah itu akan membuat beban pikiran mas? Begitu maksud dari perkataan mas kemarin, bukan bermaksud yang lain. Dan kamu menyimpulkan sendiri lalu pergi dari apartemen" jawab Ibra


"Mas membentakku!" ucap indah lagi


"Mas akui mas salah dalam hal itu. Maafkan suamimu ini nda, dia harus banyak belajar mengontrol emosi dan ucapannya" ucap Ibra tertunduk lesu


Indah melihat Ibra benar-benar menyesali perbuatannya.


"Soal Kinara,,, Indah minta maaf,,," ucap indah lirih


"Itu bukan sepenuhnya salahmu, Kinara yang menyuruhmu untuk meminta izin. Maaf yah,,, mas kalut" ucap Ibra menyentuh pipi Indah dan Indah mengangguk.


"Masih ngambek?" tanya Ibra


"Senyum dong, kangen tauk" ucap Ibra dan Indah tersenyum


Belum luntur senyum Indah, Ibra sudah menariknya dan memeluk Indah begitu erat. Begitu lega saat Indah sudah mau memaafkannya dan kesalahpahaman diantara mereka sudah terluruskan. Tidak ada tempat terindah menyelesaikan masalah untuk sepasang suami istri kecuali di kamar mereka.


Sementara itu,,,,


Ibu ayu terlihat gelisah, mondar mandir tak jelas dengan raut wajah tak enak.


"Ada apa Bu?! kenapa gelisah gitu?!"


"Kira-kira masalah mereka selesai gak ya yah?! ibu takut Indah ngamuk. Ayah tau sendiri kalau Indah marah mulutnya merepet gak berhenti, nanti Ibra tersulut emosi. Indah itu lagi hamil yah,, gak baik untuk janinnya"


"Terus mau gimana? Lagian mereka juga sudah dewasa bu"


"Kita pulang dulu yukkk?!, pastikan mereka baik-baik saja. Ibu beneran cemas ini"

__ADS_1


"Ya sudah kalau gitu,,, Linda, kami pulang dulu. Nanti kami kembali lagi" ucap pak Idris


"Baik pak"


Setelah berpamitan, Pak Idris dan ibu Ayu menaiki motor mereka pulang kerumah. Sebagai orang tua, tentu khawatir jika sampai terjadi hal buruk dalam rumah tangga mereka, bukan maksud mau ikut campur.


Sampainya di rumah, Mereka melihat mobil Ibra terparkir di pinggir jalan bukan di halaman rumah seperti biasa. Dugaan mereka kondisi semakin buruk, kemudian Ibu ayu berlari masuk kedalam rumah setelah motor pak Idris berhenti.


"Tunggu Ayah, Bu!"


Pak Idris pun dengan cepat menyusul istrinya.


Deg!


Langkah Ibu ayu terhenti didepan kamar Indah, niatnya untuk mengetuk pintu diurungkan saat samar-samar terdengar suara anak mantunya seperti suara harimau mengaung.


"Bagaimana?!" tanya pak Idris kepada Bu ayu yang hanya mematung didepan kamar Indah


Pak Idris terkaget ketika mendengar juga aungan harimau didalam kamar Indah. Ibu ayu menggaruk-garuk pipinya yang tidak gatal dengan senyum tak enak pada suaminya


"Hehe,, ayo yah,,, kita pergi. Seperti nya perang dunia gak jadi. Udah damai" ucap Ibu Ayu


"Hem,,, dibilang gak percaya! lihat nih kita sudah tergopoh-gopoh, hasilnya sama dengan!" ucap Pak Idris


"Yahh namanya orang tua yah! khawatir lah kalau sampai anak kita kenapa-kenapa! yuk balik ke kedai"


"Baiklah"


Setelah memastikan Indah dan Ibra berdamai, kedua orang tua itu pun kembali ke kedai roti mereka. Keduanya cukup tenang karena kedua anak mereka itu bisa mengatasi masalah mereka tanpa mengamuk. Buktinya perkakas dapur Ibu ayu masih utuh tidak ada yang pecah, tapi mereka belum tau saja, jika kamar Indah sudah seperti kapal pecah karena ulah anak dan mantunya sendiri hehehehe......


Sementara di apartemen Ibra,,,


"Katanya sebentar, ini sudah 3 jam berlalu. Apa rumah Indah sudah pindah, hingga menjemput saja selama itu?!" batin David sebelum ia benar-benar terlelap.


David tertidur karena terlalu lama menunggu tuannya yang tak kunjung pulang, begitu juga Kinara yang tertidur didalam kamarnya.....


Diam-diam Kinara menyelimuti David yang terlihat sudah tidur pulas, Cuaca yang tadinya masih cerah tiba-tiba mendung tak lama turun hujan dan kini hawa dingin begitu merasuk hingga sampai ke tulang.


Dingin, Beeeerrrrrrrr......!

__ADS_1


Hanya pemanis biar gak bosen di hari libur hehehe,,,,



__ADS_2