
"Apa?!" ucap Ibra tercengang
Semua orang merasa tidak percaya dengan apa yang diucapkan David malam itu. Apalagi Ibra
"Benar tuan,,, kami sudah sepakat untuk segera menikah" jawab David lagi
"GAK! ITU GAK BOLEH!" Sarkas Ibra dengan wajah marah lalu pergi dari tempat itu
"Massss!! tunggu mass!!" ucap Indah namun tidak dihiraukan Ibra yang terus berjalan menuju ke kamar.
"Kalian serius mau menikah dalam waktu dekat?!" tanya mami meyakinkan lagi
"Iya mi kami yakin" jawab kinara
"Tapi kamu masih kuliah kina,,," ucap Mami
"Iya kina tau, tapi kina takut terjerumus dalam hubungan yang tidak baik. Hati kina sudah mantep mi. Lagian kalau kami sudah menikah, kak David bisa membantu mami dan kak Ibra untuk mengurus perusahaan" ucap Kinara
Mami terlihat sedang berfikir
"Mi,,, kalau menurut indah ada benarnya juga yang di katakan Kinara. Takutnya jika terlalu lama, mereka kebablasan mi" jawab Indah
"Tapi bagaimana Ibra? dia sangat menentang jika pernikahan ini terjadi begitu cepat" ucap mami
"Itu,, biar Indah yang coba bicara sama mas Ibra mi" jawab Indah
"Ayahnya Kinara?!" tanya mami lagi
Deg!
"Memangnya papi dimana sekarang?!" tanya Indah
"Dirumah sakit, papi mengalami stroke " ucap mami
"Astagfirullah,, benarkah mi? mami belum cerita sama indah soal ini" ucap Indah kaget
"Iya mami memang belum menceritakan ini kepadamu. Papi mengalami stroke belum lama ini dan Ellena jadi gila dirumah sakit jiwa. Itu mungkin buah dari semua perbuatan mereka sendiri" jawab mami
Seperti nya kondisi semakin rumit, melihat papi yang sakit cukup parah, Sementara Ibra juga tidak menyetujui rencana itu.
"Mungkin begini saja mi, menurut Indah,,, besok kita temui papi,,"
__ADS_1
"Apa?!" tanya mami kaget
"Iya, kita temui papi untuk menyampaikan hal ini, nanti biar Indah yang bicara sama mas Ibra. Jika semuanya beres, maka nanti yang akan menikahkan mereka ya tentu mas Ibra, karena kondisi papi tidak bisa untuk melakukan itu jadi diwakili oleh mas Ibra " ucap Indah dan semua terdiam. David dan Kinara pun tidak ingin mengatakan jika mereka sudah sempat mengunjungi papi malam itu.
"Sekali lagi, mami tanya! apa kalian berdua benar-benar sudah siap untuk menikah?! menerima segala resikonya dan berjanji untuk tetap bersama apapun kondisi kalian, suka dan duka kalian bagi bersama?!"
"Insyaallah kami siap" jawab David dan Kinara bersama
"Ya sudah, mami merestui kalian" ucap mami begitu ikhlas
"Terimakasih mi" ucap Kinara
"Terimakasih Bu" ucap David
"Indah ke kamar dulu ya mi,,, ada tugas negara sudah menunggu" ucap Indah tersenyum lalu pergi meninggalkan mereka.
Dikamar, Ibra sudah berganti pakaian dan memejamkan mata dengan memeluk guling. Ibra cukup kaget juga kesal karena keputusan Kinara untuk menikah dinilai terlalu cepat. Sebenarnya, Ibra juga masih belum ingin melepaskan adiknya itu kepada orang lain, dia masih ingin memanjakan dan membahagiakan dirinya. Ibra merasa belum siap untuk itu
Ceklek
Indah mendorong daun pintu dan masuk kedalam kamar. Dilihatnya Ibra yang sudah memeluk guling dan menghadap ke arah lain yang tidak disukai oleh Indah karena pasti memunggungi nya.
"Sudah tidur mas?" tanya Indah namun tidak ada jawaban dari Ibra
"Ohh,, sudah tidur,, sayang banget,,! padahal Utun mau di jengukin, tapi papanya udah tidur" ucap indah namun lagi-lagi tidak ada jawaban dari Ibra
"Kalau menurut Indah,, niat mereka itu baik. Mereka ingin menghindari dosa jika mereka berduaan tanpa sebuah ikatan yang sah. Indah pernah kok ngerasain hal itu dulu sebelum bertemu dengan mas Ibra" ucap Indah sembari mengancingkan dasternya, lalu Indah mengambil sisir dan menyisir rambutnya agar terlihat rapi meski akan tidur
"Lagian,, kalau mereka sudah menikah, David bisa bantuin mas dan mami untuk mengurus perusahaan. Indah rasa David bisa diandalkan , melihat kinerjanya selama ikut mas Ibra" ucap Indah lagi namun Ibra sama sekali tidak bergerak. Tapi Indah yakin Ibra belum tidur
"Bukan Indah terlalu menggebu-gebu memihak mereka ya mas, tapi menurut indah ketika ada yang berniat baik, dan kita lihat mereka bisa bertanggung jawab, kenapa harus di tentang?! Justru dengan ditentang itu pilihan yang kurang tepat menurut indah. Bisa saja setelah di tentang, mereka kalut dan melakukan hal yang lebih buruk, misalnya mencoreng nama keluarga dengan perbuatan mereka. Kecuali mas masih ragu dengan David!" ucap Indah yang kemudian menggunakan skincare nya dengan melihat Ibra dari pantulan cermin riasnya
"Tapi yaaa terserah sih,,, mas Ibra juga sudah dewasa, dan sebentar lagi jadi seorang ayah"
"Apa hubungannya ya?!" batin indah juga bingung haha
"Intinya terserah mas aja, tinggal pilih mau merestui atau tetap menentang. Indah gak peduli lagi! males! Besok Indah mau pulang ke Indonesia. Mas gak perlu ikut!" ucap Indah yang kemudian merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya dan mengambil guling satu lalu memunggungi Ibra. Indah cukup kesal karena Ibra benar-benar tidak menanggapi apapun yang diucapkannya. Padahal Indah yakin Ibra belum tidur.
Ibra membuka mata meski dalam posisi yang sama. Dia memikirkan semua yang di katakan Istrinya. Tapi hatinya masih bergejolak, Ibra takut kehilangan Kinara setelah dia menikah. Dia merasa takut kehilangan sosok Kinara yang selalu bergantung kepada kakaknya, dan manjanya Kinara padanya akan menghilang begitu saja setelah nanti Kinara memiliki suami. Rasa hati belum siap untuk menerima itu semua. Ibra tidak menangis, tapi merasa begitu sedih.
Setelah malam berganti pagi, Indah terbangun dari tidurnya dan melihat Ibra sudah tidak berada di tempatnya. Indah cukup kesal, tapi indah lebih keras kepala dibandingkan Ibra sekarang.
__ADS_1
Subuh-subuh, Indah sudah mengemasi barang-barang nya didalam koper. Setelah itu, Indah menyiapkan pakaian kerja Ibra seperti biasa beserta perlengkapannya lainnya agar mereka tidak banyak bicara. Setelah selesai, Indah ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dengan cepat karena waktu subuh hampir habis.
Setelah selesai menjalankan kewajibannya, Indah pun bersiap-siap akan pulang jika hari ini Ibra masih tetap pada pendiriannya.
Ibra masuk kedalam kamar dan begitu terkejut Ibra saat Melihat koper besar Indah sudah bertengger di dekat tempat tidur mereka. Sengaja diletakkan disitu, agar saat Ibra masuk matanya langsung tertuju pada koper besar itu.
"Mau kemana ndah?!" tanya Ibra menghampiri istrinya yang masih berada dimeja rias
"Pulang!" jawab Indah santai tapi terdengar ketus
"Pulang?! gak boleh pulang! lagian mau pulang sama siapa kamu?! tiket juga gak ada!" jawab Ibra
"Siapa yang gak bolehin indah pulang?! Indah punya kaki sendiri, indah bisa pulang sendiri. Tinggal pesen taksi ke bandara, nanti tiketnya beli aja disaana! tinggal duduk di pesawat, beberapa jam juga sampai di Indonesia" jawab Indah tak kalah nyolot
Ibra benar-benar tidak akan pernah menang melawan ibu hamil yang begitu sensitif.
"Udah minggir mas!" ucap Indah, padahal Ibra sama sekali tidak menghalangi jalannya. Dasar saja ibu hamil itu cari gara-gara
"Kamu gak boleh pergi!" ucap Ibra menahan koper istrinya
"Apaan sih?! Lepasin itu tangannya!!" Sungut Indah sambil melepaskan tangan Ibra pada pegangan kopernya
"Gak! kamu gak boleh kemana-mana! kamu gak lihat perut kamu Segede gitu?! kamu gak kasihan sama anakku?!" ucap Ibra ikut kesal dengan sikap keras kepala istrinya.
Semenjak hamil besar, indah sama sekali tidak mau mengalah dan bersikap egois. Tidak seperti biasanya, mungkin bisa jadi karena hormon kehamilan. Jadi jangan salahkan ibu hamil, tapi salahkan bapak yang membuat ibu hamil. Hahaha
"Anakku kuat! mas gak perlu khawatir soal itu! ini anakku, jelas aku lebih tau" jawab Indah
"Astagfirullah!!" Teriak Ibra menahan amarahnya sendiri namun Indah tidak peduli dan memilih menarik kopernya keluar dari kamar mereka
.
.
.
.
To be Continue gaesssssš„
Ingat yah, Salahkan bapak yang buat ibu hamilš¤£š¤
__ADS_1