
Indah terlihat begitu gelisah karena hanya duduk dan menemani Ibra makan di sofa tamu. Melihat Ibra makan, dan aroma mie goreng yang begitu menggoda membuat indah terasa lapar juga
Kerucuukkkkkk
Wajah Indah sontak memerah ketika perutnya tidak dapat di kondisikan dengan baik. Ibra pun yang mendengar perut indah berbunyi langsung menghentikan makannya.
"Maaf pak" ucap indah dengan senyum tak enak
"Tadi bilangnya gak lapar,," ucap Ibra menyindir Indah
"Saya,,, ini kan jam makan siang pak, jadi wajar kalau saya terasa lapar, saya hanya duduk dan melihat bapak makan, bagaimana saya tidak lapar juga?. Kalau begitu Saya permisi dulu ya pak, mau makan siang" ucap Indah yang ingin segera pergi dari ruangan Ibra, bukan hanya lapar tapi juga ingin kabur karena rasa malu
"Duduk saja disitu! kau mau makan apa?!" tanya Ibra
"Maksud bapak?" tanya Indah
"Kamu bisa memesan makanan kepada OB kantor ini, biar mereka yang membelikan" ucap Ibra
Indah sedikit ragu jika harus merepotkan orang lain, lagian dibawah juga ada kantin.
"Pak,, saya ke kantin saja ya pak, sekalian mau sholat" ucap Indah
Ibra terdiam sesaat, kemudian ia mengangguk dan memberi izin kepada indah untuk pergi. Indah pun tidak ingin membuang waktu lama, ia segera beranjak dan kabur dari pandangan bossnya. Sementara ibra kembali menghabiskan makanan dan juga minumannya.
Indah sudah sampai di musholah, niatan ingin menjalankan ibadah Zuhur terlebuh dulu, namun langkahnya terhenti saat akan memasuki ruang musholah saat ia samar-samar mendengar percakapan dua orang wanita yang seperti nya sudah selesai menjalankan ibadah sholat.
"*Eh aku denger-denger nih,,, penangkapan tadi itu karena laporan dari sekertaris boss baru"
"Masak sih?"
"Iya,,, pasti dia itu sengaja gitu, supaya bisa semakin Deket sama pak boss! dengan begitu dia akan semakin dekat dan bisa mendapat boss kita !! kamu lihat aja, udah berhari-hari gak ada wanita-wanita cantik yang datang ke kantor semenjak ada dia... "
"Mungkin digantikan sama dia kali!"
"Bisa jadi,,, dia serakah ingin memiliki boss kita yang kaya raya itu!"
"Bisa jadi, Dasar Janda Gatel*!"
Indah menggenggam erat kedua tangannya, dia begitu kesal mendengar ucapan wanita yang ntah siapa dia tidak tau. Niatnya yang ingin menjalankan ibadah Zuhur di musholah bawah pun rasanya pupus setelah mendengar perbincangan mereka. Ternyata dirinya menjadi buah bibir dikalangan pegawai di kantor itu.
Belum sampai Indah akan pergi, dua wanita itu pun keluar dari musholah dan sedikit kaget ketika melihat indah berdiri di dekat pintu masuk
__ADS_1
Deg!
"Apa maksud kalian berbicara seperti tadi?! dengan mudahnya kalian menjudge seseorang yang tidak kalian kenal! dan terlebih kalian tidak tau kenyataan sebenarnya!!" ucap Indah dingin namun terdengar tegas
"Siapa yang sembarangan menjudge?! kami bicara sesuai berita yang sudah menyebar di kantor ini !! harusnya kamu itu ngaca!!"
"Sudahlah Van, jangan cari masalah sama dia! nanti dia bisa ngadu ke pak boss!" bisik teman satunya yang dengan susah payah menarik temannya untuk menjauhi Indah. Dia tidak ingin terkena masalah jika sampai Indah mengadu kepada boss mereka.
Terpaksa dia mengikuti langkah temannya, karena bagaimanapun dia juga masih ingin bekerja di kantor itu. Sementara Indah berdiri mematung mengingat ucapan wanita tadi, Indah sama sekali tidak tau jika banyak berita beredar di kalangan para pegawai saat ini. Karena dia pun bekerja di lantai paling atas dan jarang ke bawah kecuali pergi keluar bersama Ibra atau saat jam pulang kantor.
Kemudian Indah masuk kedalam musholah dan menjalankan ibadah Zuhur nya.
.
"Indaah!"
Indah terkejut saat mendengar panggilan keras dari dalam ruangan Ibra. Setelah pulang dari musholah kantor dan kembali ke meja kerjanya, tampak indah lebih banyak melamun. Dia masih kepikiran dengan berita negatif tentang dirinya.
"Iyaaaa pak!!" Jawab Indah yang kemudian beranjak dari tempat duduknya dan buru-buru masuk keruangan Ibra
"Iya pak,,? ada apa??" jawab Indah
"Kau sedang apa?! aku sudah memanggil mu dari tadi" ucap Ibra
"Ayo ikut aku" ucap Ibra
"Kemana pak?" tanya Indah
"Ke kantor polisi, bawa laporan ini dan kamu akan menjadi salah satu saksi disana nanti" ucap Ibra
"Ohh baik pak" ucap Indah yang kemudian dengan cepat mengambil laporan di meja Ibra. Lalu mereka pun keluar dari ruangan Ibra menuju ke lift VIP. Sebelum pergi indah pun mengambil tasnya dan segera mengikuti langkah Ibra.
"Astagfirullah!!" ucap Indah begitu kaget saat tiba-tiba lift terhenti dan sontak indah merapat dan berpegangan erat pada lengan Ibra
Ibra melihat lampu di lift itu kelap kelip persis film horor, dan mereka melihat lift itu terhenti di lantai 15
"Pak,,,, liftnya rusak?!" ucap Indah ketakutan
"Seperti nya begitu" jawab Ibra merasa sedikit gerah ketika Indah begitu erat mencengkram lengannya tanpa sadar.
Kemudian Ibra merogoh ponselnya dan akan menghubungi pegawainya. Namun sialnya sinyal saat itu juga ikut gangguan.
__ADS_1
"Sinyalnya buruk!" ucap Ibra yang kemudian memasukkan kembali ponselnya kedalam kantong
"Bisa lepaskan tanganmu dulu?" ucap Ibra
Indah yang tersadar pun langsung melepaskan lengan Ibra saat itu juga
"Maaf pak,, refleks, saya takut" ucap Indah
Kemudian Ibra menekan tombol bantuan yang ada di dalam lift itu. Indah yang merasa takut jika hanya berdua didalam lift pun tak henti-hentinya berdoa. Indah sangat takut bahkan pikirannya sudah sangat jauh karena kembali ingat dengan siapa saat ini dirinya didalam lift
"Kamu kenapa?" tanya Ibra saat melihat Indah komat Kamit sendiri di pojok lift
"Gak papa pak" jawab indah sedikit gugup
Ibra mendekat ke arah Indah, dia pun malah jadi ingin menggoda indah yang terlihat ketakutan
"Apa kau teringat kejadian malam itu?!" ucap Ibra semakin mendekat
Indah menggeleng cepat
"Bapak mau apa?!" ucap indah semakin terpojok dengan memeluk laporan dengan erat
"Menurutmu, aku ingin apa?! di tempat ini hanya ada kita berdua bukan?!" ucap Ibra dengan senyum nakalnya
"Pak,,, pak Ibra jangan macam-macam ya pak!! atau,,, saya akan memukul bapak, jika bapak terus mendekat!" ucap Indah
"Memukul?!" ucap Ibra menaikan satu alisnya
"Paling rasanya hanya seperti dipijit!" ejek Ibra
Ibra sudah mengungkung Indah dipojokan lift, tatapan keduanya bertemu, meski kondisi sedikit remang-remang, Ibra maupun indah masih bisa saling menatap sorot mata masing-masing.
Menatap netra biru itu membuat ibra ingin tenggelam ke dasar nya. Pasti sangat sejuk dan begitu menyegarkan jika ia menyelam kedalam birunya lautan.
"Aku tidak berselera untuk menyentuhmu!" ucap Ibra dengan tatapan sinis ketika tiba-tiba teringat papanya yang juga memiliki bola mata biru seperti indah.
"Baguslah jika bapak tidak berselera! sekarang tolong menyingkir pak!" sahut Indah
.
.
__ADS_1
.
Bersambung,,,,,,,,, 💕