Aku Bukan Pembawa Sial!

Aku Bukan Pembawa Sial!
Bayi Besar yang Manja


__ADS_3

kata apa yang pantas untuk menggambarkan kebahagiaan Ibra saat ini?


Bagai mendapatkan durian runtuh, jecpot dadakan, ketika mengetahui sebuah kebenaran yang disampaikan oleh Indah.


Tidak pernah terbayangkan pada benak Ibra, jika dirinya akan mendapatkan keberuntungan malam ini. Bagaimana bisa? jelas, yang menurutnya Indah itu janda 2x tentu saja dia sudah bukan gadis lagi. Meski dirinya belum memiliki keturunan, namun pasti sudah melewati yang namanya malam pertama bersama suaminya terdahulu. Tapi Ibra salah,,,


Rasa deg deg an, gemuruh hebat bukan hanya dirasakan Indah malam ini, tapi juga Ibra, bagaimana tidak, karena ini merupakan pengalaman pertama untuk Indah, dan juga Ibra untuk memper awani seorang gadis dengan status janda.


Kedua manusia beda jenis itu masih sama-sama mematung, saling menatap Bahakan kini bingung akan melakukan apa. Rasanya sangat canggung, malu seperti pengantin baru yang malu-malu karena baru pertama bertemu.


Anggukan Indah dengan rona merah jambu di pipinya, mempertegas kejelasan statusnya. Ibra benar-benar tidak menyangka, berkali-kali dia mendapatkan sebuah keberuntungan mendapatkan Indah, bukan hal sebaliknya seperti yang di ceritakan banyak pegawai wanita di kantornya, bahwa Indah hanyalah wanita pembawa sial.


"Jangan menatapku begitu mas,,, aku malu" ucap indah menutup wajahnya dengan kedua tangannya


Ibra menarik kedua tangan Indah yang sempat menutup wajahnya


"Kenapa malu?" tanya Ibra


"Mas terus saja menatapku, apa yang salah dengan aku?" tangan Indah saat keduanya duduk dan Indah menutup tubuh atasnya dengan selimut.


"Jelaskan padaku, bagaimana kamu masih gadis? bukankah kamu sudah 2x menikah dulu?" tanya Ibra penasaran


"Memang penting ya mas? harus di klarifikasi soal itu?" tanya Indah


"Aku ingin tau" jawab Ibra


"Besok boleh gak mas? kita tidur dulu. Mas Ibra belum tidur loh dari malam tadi" ucap Indah mencari alasan


"Setelah kamu jawab, kita tidur" ucap Ibra


"Janji?" tanya Indah


"Iya"


"Baiklah,,, aku memang sudah pernah menikah dengan mas Indra dan juga mas Agung. Tapi saat Indah menikah dengan mas Indra,,, disaat malam pertama kami, mas Indra mendapat panggilan tugas ke rumah sakit. Dan dia pun pergi malam itu hingga terjadilah kecelakaan maut hingga mas Indra tidak tertolong lagi. Selang Setengah tahun kemudian, Indah menikah dengan Mas Agung, Kejadian itu hampir sama, mas agung meninggalkan Indah saat malam setelah kami menikah. Indah,,, tidak pernah disentuh mereka sejauh itu mas. Hanya pelukan, ciuman kening dan pipi" ucap Indah dengan sendu ketika menceritakan kenangan masa lalunya begitu menyedihkan


"Sepeninggal kedua suami Indah itulah, semua orang di kampung Indah mengatakan jika Indah itu pembawa sial!, bahu Laweyan lah! dan sebab itu juga saat akan menikah dengan mas Ibra,,, indah sangat takut. Indah begitu trauma untuk menikah mas, meski pernikahan kita hanya secara agama." ucap Indah


Ibra terdiam mendengar cerita Indah,


"Aku sudah cerita, sekarang Indah tagih janji mas Ibra. Kita tidur sekarang. Lihatlah, waktu sudah hampir jam 2" ucap Indah


"Em,,, kita gak lanjutin yang tadi aja?" tanya Ibra dengan sedikit canggung, tapi pengen juga melanjutkan perjalanan terbang keawan bersama Indah


"Mas belum tidur sama sekali, apa tidak sebaiknya kita tidur?" tanya Indah


"Aku masih kuat melek kok"


"Tapi,,, aku,, belum siap mas. Aku,,,"


"Ya sudah kita tidur sekarang" ucap Ibra yang kemudian masuk kedalam selimut.


Melihat wajah trauma Indah, membuat mood Ibra untuk ber cinta pun hilang. Ibra tidak ingin memaksa indah untuk melayaninya. Apalagi ini hal pertama kali untuknya, tentu saja butuh persiapan yang sangat matang.


Melihat Ibra mulai memejamkan mata, Indah pun mengambil tank top yang jatuh di lantai lalu menggunakannya kembali. Setelah itu, Indah ikut berbaring di samping Ibra.

__ADS_1


"Maafkan aku mas,, aku belum bisa memberikan itu padamu. Aku pasti berdosa sudah menolak mu. Tapi,,, aku masih sangat takut, jika setelah ini kamu akan meninggalkan ku. Toh mas gak cinta aku kan,,,? " ucap indah saat tidur dengan memiringkan posisi tidurnya membelakangi Ibra.


Saat Indah memejamkan mata, dia kembali terjaga saat merasakan kehangatan menerpa belakang tubuhnya. Ibra memeluknya erat, dan membuat keduanya saling merapat.


Waktu menjelang Subuh


Indah terbangun, saat mendengar suara alarm ponselnya. Kemudian Indah beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan bersiap untuk sholat subuh. Sementara Ibra masih tidur dibalik selimut tebalnya.


"Mas,, bangun,,, sudah subuh" ucap Indah


Ibra terbangun dan melihat Indah yang sudah terlihat begitu segar. Kemudian Ibra menyibak selimutnya dan beranjak dari tempat duduknya. Ibra berjalan ke kamar mandi sementara Indah keluar dari kamar dan menuju ke dapur.


"Masak apa?" tanya Ibra saat menghampiri Indah di dapur


"Ini ada makaroni schotel mas, tinggal di panasin aja, sama ini kok ada susu pra hamil ya mas?" ucap Indah


"Mungkin mami yang siapin semuanya" sahut Ibra


"Emm mungkin saja" jawab Indah


"Sepertinya Mami sangat ingin segera menimang cucu" ucap Ibra yang sudah memeluk indah tanpa malu-malu


Indah tersenyum canggung, saat mendapat serangan dadakan


"Kita sarapan dulu ya mas" ucap Indah


"Baiklah" jawab Ibra


Kemudian Ibra melepaskan Indah dan keduanya pun duduk menikmati sarapan mereka. Tidak ada yang bicara, keduanya pun fokus menghabiskan sarapan saja.


Ibra merasa Indah sengaja menghindari nya. Terlihat dari caranya menatap, bicara dan kata yang terlontar, begitu jelas jika Indah sedikit memberi jarak


"Iya,, aku ke kantor, nanti aku antar ke rumah mami" jawab Ibra


"Baik mas" sahut Indah


Kemudian Ibra masuk kedalam kamarnya, bersiap akan ke kantor. Tak lama Indah pun juga masuk kedalam kamar untuk bersiap kerumah mami. Saat melihat Ibra tengah mengancingkan kemejanya, Indah sempat terdiam mematung


"Mau,,, di bantuin mas?" tanya Indah tiba-tiba


"Boleh" jawab Ibra


Lalu Indah menghampiri Ibra dan membantunya memasang kancing dan juga dasi Ibra. Ini adalah kali pertama Indah melakukannya selama menjadi Istri Ibra.


"Mas,, kenapa wajah mas pucet,,,?" tanya Indah saat sekilas mendongak keatas dan melihat wajah Ibra sedikit pucat


"Mas sakit? pasti karena kurang tidur semalem" ucap indah saat memeriksa panas di kening Ibra


"Aku,,, aku seperti nya gk enak badan" jawab Ibra


"Kita ke dokter ya, ayok, kita periksa mas" ucap Indah malah jadi khawatir


"Indah,,," ucap Ibra saat menahan lengan indah yang akan pergi mengambil tasnya


"Ada apa mas?"

__ADS_1


"Aku tidak perlu ke dokter nda"


"Tapi mas sakit gini" ucap Indah


"Apa kamu mau membuatku sembuh?"


"Maksud mas apa?"


"Aku,,, ingin minum susu"


"Susu? tadi kan sudah minum susu" ucap Indah bingung


Tatapan Ibra tak lepas dari simenul, Indah pun mengikuti arah pandang Ibra dan langsung menyilangkan kedua tangannya didepan


"Mesum!" ucap Indah dan Ibra tertunduk lesu


"Yaaa aku mesum, tidak perlu memberikannya padaku. Aku akan pergi " ucap Ibra


Indah merasa bersalah, saat melihat Ibra lesu begitu, tapi indah juga takut jika itu hanya akal-akalan Ibra. Namun Indah kembali teringat jika tubuh Ibra hangat dan membuatnya mudah sekali iba. Ntah terlalu baik atau terlalu bdoh sehingga mudah sekali terpaya oleh bujuk rayu sang Cassanova.


"Tunggu mas" ucap Indah menahan Ibra


"Ada apa? bukannya kamu tidak mau?"


"Mau" jawab Indah lirih


"Beneran?" tanya Ibra meyakinkan dan Indah mengangguk.


Senyum sumringah langsung terbit begitu saja, tidak menunggu perintah Ibra sudah mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur.


"Sini" Ibra menepuk kedua pahanya, meminta Indah untuk duduk


Dengan sedikit ragu-ragu, indah pun menghampiri Ibra dan duduk sesuai instruksi nya.


"Aku tidak pernah minum Asi sejak bayi. ASI mami tidak keluar setelah melahirkan ku" ucap Ibra


"Tapi,,, ini juga gak ada ASI nya mas" jawab Indah saat Ibra sudah membuka satu persatu kancing baju Indah


"Iya gak papa, itung-itung ini treatment biar tambah gede" jawab Ibra dengan mata berbinar melihat simenul sudah menyembulkan keluar


"Jangan lama-lama ya mas!" ucap Indah menahan rasa dag dig dug tak karuan


"Hem" sahut Ibra yang sudah tidak bisa menjawab jelas karena mulutnya sudah penuh.


Seperti kesetrum, Indah menjambak rambut Ibra dan sesekali menenggelamkan lebih dalam. Kelihaiannya benar-benar patut diakui puluhan jempol saat memperdaya lawan untuk dikalahkan.


"Sepertinya ini akan menjadi rutinitas baru setiap pagi dan malam" ucap Ibra disela sela kegiatannya menjadi bayi besar Indah sekarang.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung,,,, 💕


__ADS_2