
Indah terlihat sudah begitu rapi. Tentu saja dia sudah sangat rapi karena rencananya indah akan pergi kerumah orang tuanya mumpung hari libur. Setelah bersiap, Indah pun mengambil tasnya dan keluar dari kamarnya
"Mau kemana?" tanya Ibra yang juga keluar dari kamar
"Kerumah ibu" jawab Indah
"Sendirian?" tanya Ibra
"Iya, naik taksi. Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam " jawab Ibra
Kemudian Indah melangkah kakinya menuju ke pintu keluar, indah tidak berharap Ibra akan ikut. Meski nanti orang tuanya bertanya, bisa saja indah akan mencari alasan untuk menjawabnya. Namun belum sampai Indah menutup pintu lift, Ibra sudah menahannya dan ikut masuk kedalam lift
"Loh, mau kemana mas?" tanya Indah kaget
"Mengantarmu" jawab Ibra
Indah tidak berkata lagi, jujur ada perasaan sedikit senang karena Ibra mau ikut mengunjungi orang tuanya
"Jangan GR! aku hanya tidak ingin orang tuamu curiga!" ucap Ibra seperti mematahkan perasaan Indah saat itu
"Gak kok! biasa aja!" jawab Indah ketus namun begitu sakit dia rasakan.
Pintu lift terbuka, lalu keduanya keluar dan menuju ke mobil Ibra. Keduanya masuk, kemudian ibra menjalankan mobilnya menuju ke rumah mertuanya.
Sesampainya di sana,,,,,
Indah dan Ibra turun dari mobil, kemudian keduanya masuk kedalam rumah.
"Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam,,, indah,,, Ibra,,, masuk masuk" ucap ibu Ayu menyapa mereka
"Ibu sehat?" tanya Ibra
"Alhamdulillah sehat, kalian?"
"Alhamdulillah sehat Bu, Ayah kemana?" tanya Indah
"Ada di belakang, lagi benerin pintu" jawab Ibu
"Siapa Bu?"
"Eh,, indah,,, Ibra,,," ucap pak Idris yang baru saja keluar dari belakang
"Sudah benerin pintunya yah?" tanya Indah
"Sudah, semalem lepas untung gak kena ibumu yang lagi ngadon kue" ucap pak Idris
__ADS_1
"Ibu,,, kok gak cerita sama Indah?" tanya Indah
"Ibu gak papa kok, lagian belum sampai kena ibu"
"Iiiih ibu kok ngomongnya gitu? mana adik?" tanya Indah
"Ah dia mah udah ke taman, tadi katanya joging sama temen-temen sekelasnya. Ntah belum pada pulang" jawab ibu
"Oh gitu,,, Bu,,, ini ada sedikit rejeki dari gaji pertama indah kerja. Ibu dan bapak bisa pakai untuk perbaikan dapur kita. Dan untuk masalah keluarga pak Dermawan, nanti indah fikirkan lagi, tapi indah janji akan segera melunasinya" ucap Indah
"Tapi,, kamu juga butuh uang ini ndah, lebih baik kamu simpan, dan untuk tambahan melunasi hutang pak Dermawan" ucap ibu ayu
"Saat ini yang terpenting adalah perbaikan dapur dulu Bu, indah gak mau kejadian kayak gini terulang lagi. Bahaya!" ucap indah
Ibra yang diam mendengarkan obrolan mereka merasa terenyuh dengan sikap yang diambil oleh Indah. Meski sangat keras kepala dan terlihat begitu mengesalkan, sisi kedewasaan Indah begitu jelas terlihat. Terlihat sangat mandiri dan dewasa dalam mengambil sikap.
"Baiklah jika kamu memaksa ndah" ucap ibu ayu
"Assalamualaikum!!!"
Suara seorang wanita diluar rumah mengalihkan perhatian mereka. Indah kenal betul itu suara siapa . Kemudian mereka keluar dari rumah dan menghampiri tamu mereka yang datang pagi-pagi
"Ibu Desi,,, wa'alaikumsalam" ucap Indah
"Hey Indah! mana janjimu akan mengembalikan uang Indra?! ini sudah 1 bulan tapi kalian sepertinya tenang-tenang saja tanpa beban!! apa jangan-jangan kalian sudah ada uangnya?!" sarkas ibu Desi
"Kapan?! sampai kapan hah?!" sarkas ibu Desi
"Kami belum tau kapan waktunya Bu, tapi kami janji akan tetap melunasi nya" ucap Indah
"Kenapa tidak minta saja dengan pria mu sana!! toh dia orang kaya, pasti uangnya banyak!!" ucap ibu Desi
"Bu,,! tolong jangan bawa-bawa orang lain dalam masalah ini! ini adalah masalah saya dan juga keluarga ibu" ucap Indah
"Halah! kamu bilang mau berusaha cari uang, sebanyak itu mau sampai kapan?! Kecuali kau mendekati pria kaya itu dan memoroti nya, seperti apa yang sudah kau lakukan pada Indra!" ucap ibu Desi
"Cukup Bu! jaga ucapan ibu! saya tidak serendah itu!! saya masih punya harga diri!"
"Berapa harga dirimu hah?! di mataku kau sudah tidak punya harga diri lagi!!"
"Cukup Bu Desi!! sudah cukup anda menghina keluarga kami!! kami tau kami bukan orang kaya seperti ibu! ini ambil!! ini kami cicil hutang-hutang Indah pada keluarga ibu!!" Sarkas ibu ayu yang tidak tahan dengan sikap mantan mertua Indah
Ibu Desi mengambil amplop coklat yang diberikan indah tadi kepada ibunya. Kemudian dia melihat isi didalamnya berisi uang. Setelah itu ibu Desi memasukkan kedalam tasnya
"Ini masih sangat sedikit!! aku akan datang lagi menagih hutangmu!!" Sarkas ibu Desi yang kemudian pergi meninggalkan mereka.
Indah sekuat hati menahan amarahnya, seperginya ibu Desi, indah masuk kedalam rumah dan berlalu menuju ke dalam kamarnya. Indah kesal namun tidak ada pelampiasan kemarahannya. sementara Ibra masih berdiri di ruang tamu mencerna semuanya
"Maaf ya nak Ibra,, jadi ricuh begini" ucap ibu Ayu dengan rasa tidak enak
__ADS_1
"Tidak papa Bu,, apa itu tadi,,"
"Iya,, itu mantan mertua indah nak. Dia kesini untuk menagih mahar yang dulu pernah di berikan putranya"
Ayah Indah menyenggol lengan istrinya yang dengan lancar mengatakan semuanya.
"Indah kemana Bu?"tanya Ibra
"Mungkin di kamar nya nak," jawab ibu
"Saya,, boleh menemui indah?" tanya Ibra
"Iya,, temui saja di kamarnya" ucap ibu ayu
Kemudian Ibra berjalan masuk menuju ke kamar indah, sementara ayah dan ibu indah terlihat cekcok beradu mulut akibat ibu indah keceplosan.
Ceklekkkk
Ibra membuka pintu kamar indah yang ternyata tidak dikunci. Dilihatnya indah tangan meringkuk dibawah tempat tidur dan sepertinya tengah menangis
"Indah,,," Ucap Ibra dengan pelan
"Ada apa mas?" tanya indah yang tidak mau mengangkat kepalanya karena malu dia sedang menangis
"Apa aku boleh melunasi hutang mu pada keluarga Indra?" ucap Ibra
Indah mengangkat kepalanya dan menatap Ibra dengan mata yang basah
"Emm maksudku,,, aku akan melunasinya, dan kamu bisa mencicil kepadaku kapan saja kau ada uang" ucap Ibra begitu saja karena Indah seperti akan meledakkan amarahnya
Tanpa Ibra duga, Indah langsung berhambur memeluk Ibra dengan begitu erat. Indah pun meluapkan perasaannya yang sesaak akibat hinaan dari mantan mertuanya itu saat berada di pelukan Ibra. Ntah sadar ataupun tidak indah terus saja memeluk Ibra dan terus menangis didalam pelukannya. Sementara Ibra terlihat bingung mendapati situasi seperti ini. Isak tangis masih sangat jelas terdengar ditelinga, meski suaranya semakin terdengar lirih.
Tangan Ibra tergerak untuk membalas pelukan Indah yang masih sangat erat memenuhi pinggangnya.
.
.
.
.
Bersambung,,,,, 🤍
Yuk Follow IG nya uni😘
Banyak teman banyak Rejeki😍
Instagram : @uniramadhani.id
__ADS_1