
Jam kerja telah usai, Ibra keluar dari ruangannya dan mengajak Indah untuk pulang bersama. Indah pun segera bergegas dan mengikuti Ibra di sampingnya
"Mas, kita ke supermarket bentar boleh? bahan-bahan masakan udah pada habis" ucap Indah saat mereka berada di dalam mobil
"Boleh" jawab Ibra yang kemudian mengendarai mobilnya menuju ke sebuah supermarket.
Begitu sampai disana, Ibra tak lantas langsung keluar, ia pun melepas kemejanya dan hanya menyisakan kaos oblong putih miliknya
"Kenapa di lepas mas?" tanya Indah
"Gak papa, biar gak formal" jawab Ibra yang kemudian juga mengganti sepatunya dengan slop miliknya yang ada didalam mobil. Setelah itu keduanya pun berjalan memasuki supermarket untuk berbelanja.
Dengan cekatan, Indah memilih 9 bahan pokok, sayur dan bahan juga lauk pauk untuk mereka. Saat tengah memilih ikan segar, Indah malah bertemu dengan Ibu Amara.
"Indah"
"Ibu,,,,,?" ucap Indah kaget bukan main
Ibu Amara adalah ibunda Agung, mantan suami kedua Indah yang sudah tiada akibat kecelakaan dimalam pengantin mereka. Masih ingat di benak Indah, bagaimana Ibu Amara menghujat Indah saat berada di makam putranya. Ibu Amara menelisik Indah dan seorang pria tentunya Ibra yang berdiri di sebelah Indah.
"Bagaimana kabar ibu?" tanya Indah
"Tidak perlu berpura-pura baik! itu semua tidak akan bisa mengembalikan agung pada kami!" ucap Ibu Amara
Deg!
"Maksud ibu apa?!" ucap Ibra
"Tuan! Anda harus hati-hati, jangan sampai anda juga menjadi korban seperti putraku! dia mengalami kesialan setelah menikahi wanita ini!! Jangan tertipu dengan kecantikan!! dia pembawa sial!" ucap Ibu Amara
Ibra menduga-duga sendiri, mungkin ibu itu adalah mantan mertua Indah, seperti Ibu Desy waktu itu.
"Bu,,, Indah juga merasa kehilangan saat itu, Allah sudah merencanakan semuanya, apalah daya kita sebagai makhluk hanya bisa pasrah menerima. Saya tau, ibu mungkin masih sangat membenci saya, saya benar-benar minta maaf" ucap Indah
"Kata maaf tidak akan mengembalikan Agung ke dunia ini!" ucap ibu Amara yang kemudian pergi meninggalkan Indah
Indah terdiam, dan sesaat bulir air mata nya menetes dengan sendirinya tanpa diminta. Ibra yang melihat nya pun meraih Indah dan memeluknya.
"Aku bukan pembunuh mas!" ucap Indah sedikit tak jelas karena menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Ibra
__ADS_1
"Iya,,, mas tau! ini bukan salahmu! semua sudah takdir dan tidak ada yang bisa mengalahkan takdir dari Allah" ucap Ibra
"Tapi mereka terus menyalahkan ku! akulah penyebab kematian mereka berdua!" ucap Indah yang terus saja menangis
"Hey,, hey,,, jangan terus menyalahkan dirimu sendiri nda!! kamu bukan penyebab kecelakaan itu! semua sudah takdir! lihat aku,,," ucap Ibra dan Indah pun mengangkat wajahnya menatap Ibra
"Jika kamu memang pembawa sial, tentu hal yang sama akan terjadi padaku! tapi lihat, aku baik-baik saja kan? jadi semua yang mereka katakan itu tidak benar! kamu bukan pembawa sial!" ucap Ibra meyakinkan Indah
Perlahan Ibra menghapus air mata Indah dan menenangkan nya. Indah mengangguk dan perlahan mengatur emosinya kembali
"Oke,, sekarang kita belanja lagi, ini sudah sore, sebelum Maghrib kita harus sudah selesai belanja" ucap Ibra dan Indah mengangguk. Kemudian Keduanya pun kembali melanjutkan aktivitas belanja mereka.
Beberapa menit kemudian, Ibra dan Indah sudah sampai di apartemen. Sampainya disana, Ibra langsung ke kamar mandi sementara Indah tengah menyusun belanjaan yang mereka beli di tempat yang semestinya. Tak lama kemudian Ibra keluar dengan sudah tampil lebih segar.
"Mandilah, sebentar lagi Maghrib nda" ucap Ibra
"Iya mas,," jawab Indah yang kemudian beranjak dan segera membersihkan dirinya.
Setelah selesai, keduanya pun menjalankan ibadah Maghrib bersama.
"Nda, apa kamu keberatan jika kina menginap disini?" tanya Ibra
"Kalau begitu, kamu pindah ke kamar mas, biar kamar itu dipake Kina" ucap Ibra
"Baik mas" jawab Indah
Setelah makan malam bersama, Indah pun membereskan barang-barang nya yang masih ada di kamar sebelah dan membawanya ke kamar Ibra. Mengingat kamar itu akan dipakai oleh Kinara nantinya.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, barang-barang Indah sudah tersimpan rapi di tempatnya. Lalu Indah menyusul Ibra yang sudah lebih dulu rebahan di tempat tidur.
"Sini dong nda" ucap Ibra saat menarik Indah untuk merapat. Indah tidak menolak, ia pun masuk kedalam pelukan Ibra
"Aku lelah mas" ucap Indah saat merasakan tangan Ibra yang sudah mulai nakal seperti biasa
"Jadi nolak nih?! pahala ini,,," ucap Ibra
"Terserah deh" jawab Indah
"Gak ah! gak ikhlas, percuma" ucap Ibra
__ADS_1
Mendengar Ibra berkata begitu, Indah pun langsung membungkam nya tiba-tiba. Ibra kaget sesaat namun selanjutnya ia tersenyum disela-sela Indah terus menggodanya. Padahal Indah begitu malas berdebat, apalagi melihat wajah cemberut Ibra.
"Kena deh!" batin Ibra kegirangan
Pergulatan pun semakin panas, Ibra mengerahkan setengah jiwa Cassanova nya dan membuat Indah tak henti-hentinya menyebutkan namanya. Baru setengah saja sudah begitu, apalagi sepenuhnya. Berbagai gaya sudah dicoba dan untuk kesekian kalinya Indah dibuat meledak ledak ke angkasa dengan kenikmatan tiada Tara.
"Pake sarung mas!" ucap Indah
"Gak enak!" jawab Ibra
"Dikeluarin diluar!" sungut Indah
"Ogah! enakan didalem!" Jawab Ibra lagi
"Maaaaaassss Ibraaaa!!"
"Indaaaaaaaaaahh,,,,,!"
Peluh keringat membanjiri keduanya, nafas tak beraturan membuat keduanya seperti berebut udara untuk bernafas. Belum lagi banjir bandang melanda Indah dibawah sana.
"Nakal!" ucap Indah memukul Ibra dan Ibra terkekeh
"Plooonggg tau gak!" jawab Ibra yang kemudian meraup si ranum sesaat.
"Minggir, Indah mau kekamar mandi!" ucap Indah mendorong Ibra sampai terguling di sampingnya
Kemudian Indah memunguti dasternya dan setelah mengenakannya, ia pun berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri nya, sementara Ibra tidak ingin ketinggalan dan menyusul Indah ke kamar mandi.
"Masss Ibraaa gantiannn iiihhhh!" teriakan Indah menggema di dalam kamar mandi
.
.
.
.
Bersambung,,,,,, 🤍
__ADS_1