
Sesuai kesepakatan keluarga Indah dan mami Ibra, pernikahan mereka akan diadakan pagi ini, hanya akad nikah saja yang sementara akan dilakukan mengingat banyaknya persyaratan yang belum di persiapkan oleh kedua belah pihak jika harus menikah secara hukum. Karena tidak mudah menikah dengan orang yang berbeda kebangsaan, banyak dokumen yang harus di persiapkan sebelum pernikahan, dan itu akan menyusul nanti. Yang jelas, saat ini hal pertama yang mereka lakukan adalah agar sah lebih dulu.
Baik Ibra maupun Indah Sama-sama tidak ada pilihan dan sama-sama tidak bisa mengelak, meski didalam hati Indah maupun keluarga Sedikit khawatir.
Mami Ibra sudah mengatakan jika mereka tidak mempermasalahkan status indah yang seorang janda. Toh indah juga belum memiliki anak, sehingga mereka tidak mempermasalahkan itu. Yang jelas misi mami ingin putranya berubah kearah yang lebih baik dan Pak Idris sendirilah yang akan menikahkan putrinya dengan Ibrahim pagi ini.
"Ini maharnya" ucap ibu Ayu saat memberikan cincin yang waktu itu pernah dititipkan mami Ibra kepadanya.
Akad nikah berlangsung dengan dihadiri keluarga Indah, dan juga pak RT dan beberapa bapak-bapak teman baik pak Idris sebagai saksi di pernikahan itu. Dengan suara lantang dan jelas, Ibra menjawab ijab qobul pernikahannya bersama indah.
"Alhamdulillah,,,"
Tidak lama kemudian Indah keluar dari kamarnya bersama sang ibu, dengan menggunakan kebayak dan makeup sederhana namun tidak mengurangi kadar kecantikan Indah sedikitpun.
"Ya Tuhan,,,, dia sangat cantik" batin Ibra saat tak lepas menatap istrinya
Indah sudah pasrah, sepasrah-pasrahnya setelah ini apa yang akan terjadi. Meski ketakutan masih menggerogoti hatinya, namun dia pasrahkan semuanya kepada Allah tentang takdirnya. Indah hanya mampu berdoa, semoga tidak terjadi apapun pada Ibra setelah pernikahan ini.
Kemudian Ibra memasangkan cincin dijari manis Indah sebagai tanda pernikahan mereka adalah sungguhan. Sebuah getaran rasa yang sulit dijelaskan saat Ibra mencium kening Indah dihadapan keluarga. Rasanya seperti tersengat listrik, namun masih dalam tegangan renda. Merinding begitu saja,,,,,
Lalu keduanya pun sungkeman kepada keluarga.
"Kenapa nikahnya cuma akad saja pak Idris?!" tanya bapak-bapak saat acara sudah selesai
"Iya,, ini dadakan pak, karena mertua indah mau kembali ke Turki" jawab pak Idris tidak sepenuhnya berbohong, Karena memang mami Ibra akan pulang ke negaranya besok pagi
"Ohh gitu,,,, semoga pernikahan mereka langgeng ya pak, tidak terjadi apa-apa"
"Aamiin,,, segala sesuatu sudah menjadi kehendak Allah pak, kita pasrahkan saja semuanya" jawab pak Idris.
Setelah acara selesai, Ibra memboyong Indah untuk pindah ke apartemen nya bersama mami. Pak Idris dan ibu Ayu tidak melarang, mengingat besok mami Yolanda akan kembali ke negara asalnya. Setelah selesai berkemas, Indah pun berpamitan kepada Ayah dan ibunya.
"Kamu hati-hati ya Ndah,,, jadi istri yang baik" ucap ibu ayu
"Iya Bu" jawab Indah
__ADS_1
Kemudian Indah, Ibra dan mami masuk kedalam mobil dan meninggalkan kediaman keluarga Indah.
Sesekali mami melihat Indah dan Ibra yang masih saling diam sedari tadi pagi hingga sesiang ini.
"Tak apalah mereka berdiam diam sekarang, lambat laun, mereka akan dekat juga nanti" batin mami.
Sesampainya di apartemen, Ibra menarik koper Indah dan membawanya masuk kedalam kamar. Meski sebenarnya indah enggan untuk satu kamar dengan Ibra, tentu ini tidak lah mudah ketika mami masih berada di apartemen itu juga.
"Kalian gak nginep di hotel saja?" tanya mami kepada keduanya
"Tidak Mi" jawab Indah dan Ibra bersamaan
"Kenapa? kalian tidak ingin menghabiskan malam pertama kalian gitu? belah duren?" ucap mami tanpa filter
"Malam pertama?! gak akan pernah terjadi" Batin Indah sekilas menatap kearah Ibra dengan tatapan sulit diartikan
"Mami besok kan pulang, kami tidak akan pergi kemana-mana" ucap Ibra
"Ya sudah kalau begitu, mami mau bereskan barang-barang mami dulu, kalian istirahat saja" ucap mami yang kemudian berjalan menuju ke kamarnya.
"Bapak mau apa?!" tanya Indah sedikit ketus
"Tidur" jawab Ibra yang kemudian merebahkan dirinya di atas tempat tidur
Indah tidak mengusirnya, namun dia memilih menyembunyikan kopernya didalam lemari
"Setelah mami ke Turki, saya akan tidur di kamar sebelah!" ucap Indah
"Hem" sahut Ibra
Setelah menyelesaikan pekerjaan nya, Indah memilih untuk keluar dari kamar. Rasanya gerah saat harus berdua didalam kamar bersama boss mesumnya yang kini sudah berubah menjadi suaminya.
Untuk mengusir rasa bosannya, Indah memilih memasak untuk makan malam nanti.
Malam menjelang,,,,,
__ADS_1
Setelah menjalankan ibadah Maghrib, indah keluar dari kamar dan melihat Ibra juga sang mami sudah mengunggu indah dimeja makan. Indah sama sekali tidak melihat Ibra menjalankan ibadahnya, ntah dia sholat ataupun tidak, indah tidak melihatnya sama sekali. Kemudian Indah duduk di sebelah Ibra dan ikut menikmati makan malam bersama keluarga barunya.
"Indah,,, nanti kalau pekerjaan kalian sudah tidak banyak, kalian kunjungi mami ke Turki ya" ucap mami
"Iya mi" jawab Indah
" Mami dan adikmu pasti akan sangat senang. Dan Kamu Ibra, harusnya kamu banyak belajar dari istrimu. Tinggalkan kebiasaan burukmu! ingat sekarang kamu sudah beristri! bukan pria lajang yang bebas keluyuran ke club' malam!! harus jadi suami yang baik! jadi contoh yang baik!" nasehat mami
"Iya" jawab Ibra singkat
Setelah ketiganya selesai makan malam, indah membereskan meja makan sementara mami dan Ibra tengah berbincang di ruang tengah.
"Mami istirahat dulu, besok pagi-pagi mami sudah harus berangkat ke bandara" ucap mami yang kemudian beranjak dari tempat duduknya
Ibra mengambil ponselnya dan seperti akan keluar dari apartemen itu
"Aku keluar sebentar" ucap Ibra saat melihat indah baru saja masuk kedalam kamar
"Iya" jawab Indah cuek saja
Ibra tidak ambil pusing dengan sikap indah, kembali Ibra melangkah keluar dan meninggalkan apartemen nya.
"Pak Ibra mau kemana malam-malam gini?" batin Indah sedikit was was. Takut kejadian lalu-lalu akan terjadi lagi.
Hingga jam sudah menunjukkan pukul 23.00 Ibra belum juga kembali kerumah, Sedari tadi indah tidak bisa tidur. Dia selalu kepikiran terhadap Ibra yang tak kunjung pulang. Memberi kabar saja tidak, kondisi ini membuat Indah semakin cemas. Bukan karena dia cinta, tapi karena takut sesuatu yang buruk menimpa Ibra.
Beberapa kali Indah melihat ponselnya, ingin menghubungi Ibra namun dia sedikit ragu, tapi Indah sama sekali tidak bisa tenang.
"Semoga tidak terjadi apa-apa padanya" batin Indah
.
.
.
__ADS_1
Bersambung,,,,,,,,,