Aku Bukan Pembawa Sial!

Aku Bukan Pembawa Sial!
Melayani Suami


__ADS_3

Perlahan Indah melepaskan pelukannya pada Ibra, meski saat ini dia sangat malu karena sudah berani memeluk Ibra, justru jika tidak dilepaskan Indah akan bertambah sangat malu


"Maaf mas" Ucap Indah saat melepaskan pelukannya


"Em" sahut Ibra


"Kaos mas jadi basah gini karena indah" ucap indah terkekeh namun masih sambil menangis


"Iya" jawab Ibra singkat


"Mas ada baju ganti?" tanya indah


"Ada di mobil" jawab Ibra


"Tunggu sebentar ya, aku ambilkan" ucap indah dan Ibra mengangguk


Lalu Indah beranjak sambil menghapus air matanya. Dia berjalan kedepan untuk mengambil pakaian ganti Ibra sementara Ibra menunggunya di kamar dan Ibra tengah menenangkan hatinya yang tiba-tiba menghangat setelah cukup lama indah memeluknya. Tak lama kemudian Indah kembali dengan membawa kaos ganti milik Ibra


"Ini mas" ucap indah


"Terimakasih" Jawab Ibra


Lalu dengan cepat Indah berbalik badan saat Ibra membuka kaos yang dipakai dan di ganti dengan yang kering.


"Besok kita temui keluarga ibu Desi setelah mengambil uang di bank" ucap Ibra


"Mas Ibra serius mau bantuin indah?!" tanya Indah yang kemudian berbalik badan dan menatap suaminya


"Iya aku serius" jawab Ibra


"Tapi,, indah tidak tau kapan nanti hutang indah akan lunas mas. Indah hanya mampu mencicil dari gaji indah bekerja di kantor mas Ibra" ucap indah


"Tidak masalah. Yang penting mulut pedas ibu Desi itu tertutup dengan uang yang yang diminta darimu!" jawab Ibra


"Terimakasih ya mas" ucap Indah dengan tatapan sendu


"Iya" jawab Ibra


Indah tersenyum kecil memperlihatkan lesung pipi nya yang membuatnya terlihat sangat cantik sampai membuat Ibra gelagepan dan ingin sekali menarik Indah lalu melahapnya saat itu juga.


Tidak ingin semakin terlena dan tergoda Ibra mengajak Indah untuk keluar dari kamar, karena atmosfer kamar itu terasa semakin panas dan mencekik dirinya jika terus berdua bersama indah.


.

__ADS_1


Indah membantu ibunya membuatkan makan siang mereka nanti, sementara Ibra tengah berbincang-bincang bersama ayah Indah di ruang tengah. Keduanya tampak akrab dan terlihat begitu serius saat berbicara.


"Ehem,, kamu lihatin apa ndah?" tanya Ibu menyenggol lengan indah saat tak sengaja memergoki indah yang menatap Ibra dari kejauhan


"Ibu,,,,," ucap Indah dengan malu-malu


"Ganteng ya mantu ibu" ucap Ibu Indah malah menggoda putrinya


"Apaan sih Bu?! ganteng sih fisiknya Bu, tapi gak sama akhlak nya" jawab Indah


"Jangan begitu,,, siapa tau dengan dia menikah denganmu, sifat buruknya bisa berubah. Kita kan gak tau Ndah, mudah bagi Allah membolak-balik kan hati manusia" ucap ibu


"Bela aja terus mantu ibu!" sungut Indah


Ibu ayu terkekeh saat melihat wajah kesal indah saat itu. Diam-diam ibu memperhatikan Putrinya yang sudah mulai bisa membuka hatinya lagi.


"Ibu bersyukur banget, gak terjadi apa-apa dengan nak Ibra" ucap ibu mengeluarkan uneg-uneg nya, dan membuat indah teringat kembali masa lalunya


"Kamu tau Ndah, ibu sempat khawatir saat kamu akan menikah lagi, tapi ibu yakin,, Allah itu maha penyayang dan maha segalanya. Ibu yakin kekuatan Allah itu diatas segalanya, dan ibu berdoa terus berdoa , apa yang orang-orang katakan tentang kamu itu tidak benar!!" ucap ibu Ayu


"Terimakasih Bu atas doanya" ucap indah yang kemudian tiba-tiba memeluk ibunya dari samping


"Ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk anak-anak ibu! termasuk hubungan kalian berdua! ibu tau kamu menjalaninya terpaksa kan?! tapi,,, ibu lihat nak Ibra itu baik, maminya juga sangat baik,, meski dia berbeda kebangsaan dengan kita, tapi mereka bisa menghargai kita ndah. Maminya sama sekali tidak mempermasalahkan status kamu" ucap Ibu Ayu


"He'em" sahut Indah


"Apaan sih Bu!! lampu-lampu!!" ucap indah melepaskan pelukannya dan kembali memasak


"Hehehe lampu-lampu cinta dari sorot matamu" ucap ibu


"Enggak!! mana ada seperti itu!!" elak Indah


Ibu hanya terkekeh ketika melihat semburat merah jambu memenuhi pipi putrinya. Ibu Ayu kenal betul siapa putrinya, tidak mudah mengelabui ataupun menyembunyikan sesuatu dari seorang ibu. Karena insting ibu sangat kuat, terlebih pada putri kandungnya sendiri yang tentu dia sangat hafal akan tingkahnya.


Setelah semua masakan telah siap diatas meja, ibu ayu mengajak Ayah dan juga Ibra untuk makan bersama. Disaat yang bersamaan pula, adik indah baru saja sampai dirumah mereka.


"Maaf ya Bu,,, yah,,, tadi adek ke sekolah dulu sekalian eskul"


"Beneran kamu eskul?!" tanya indah


"Ya iyalah mbak! kalau gak percaya tanya aja sindy! aku boncengin dia ke sekolah tadi"


"Sudah-sudah sana sekarang kamu mandi dan ikut makan sini" sahut ibu

__ADS_1


"Iya,,,"


Kemudian Adik indah pun berjalan ke kamarnya untuk membersihkan dirinya. Sementara keluarga lainnya tengah menikmati makan siang mereka. Terlihat Indah ingin melayani Ibra dengan mengambilkan makanan untuknya.


"Lagi nasinya?" tanya indah


"Udah cukup" jawab Ibra


"Mau lauk apa mas?" tanya Indah


"Sayur lodeh sama ayam sambel" jawab Ibra


Setelah mengambilkan makanan untuk Ibra, indah pun mengambilkan makanan untuk dirinya sendiri. Ibu dan ayah Indah pun tersenyum bahagia melihat Indah mau melayani suaminya.


Selesai makan siang, indah masuk kedalam kamarnya, sementara Ibra ikut pak Idris ke mushola untuk menjalankan ibadah Zuhur bersama. Disana Pak Idris bertindak sebagai imam dalam sholat Zuhur berjamaah saat itu.


"Nak Ibra bisa ngaji?" tanya pak Idris ketika mereka berjalan pulang kerumah


Deg!


Ibra tertunduk kemudian menggeleng pelan


"Tidak bisa pak" jawab Ibra dengan lirih


"Bacaan sholat?" tanya pak Idris lagi


"Saya,,, saya baru belajar pak" jawab Ibra dengan takut-takut


Rasanya seperti jatuh dari ketinggian dan remuk saat pak Idris tau jika mantunya sama sekali tidak bisa mengaji ataupun hafal bacaan sholat. Berbeda dengan mantan-mantan suami indah terdahulu yang notabene mereka sudah hafal dan pandai mengaji. Pak Idris terdiam sesaat, menenangkan hatinya yang sempat kaget dengan pengakuan Ibra


"Begini saja,,, setiap jam makan siang, kamu datang saja ke kedai roti bapak, nanti bapak akan ajari kamu mengaji dan bacaan sholat. Bapak tidak mau anak bapak tidak dibimbing dengan baik, kamu itu kepala keluarga, imam dalam rumah tangga. Harusnya kamu yang menjadi panutan untuk istri dan anak-anak mu bukan sebaliknya. Bagaimana?" tanya pak Idris


"Bayarnya berapa pak?" tanya Ibra


Pak Idris tersenyum lalu menepuk bahu Ibra dengan penekanan


"Tidak perlu membayar, cukup bahagiakan Indah saja, jangan sakiti hatinya" ucap pak Idris yang kemudian berjalan lebih dulu di depan Ibra


"Iya pak,,, saya mau" jawab Ibra


.


.

__ADS_1


.


Bersambung,,,,,,,


__ADS_2