Aku Bukan Pembawa Sial!

Aku Bukan Pembawa Sial!
Ngambek


__ADS_3

Indah kini berubah menjadi mode diam sejak semalam. Bagaimana tidak, indah begitu kesal pada Ibra yang menabur benihnya kedalam rahimnya, padahal mereka sepakat untuk Ibra tidak membuangnya di dalam, ditakutkan Indah, ia bisa saja hamil. Jika dia hamil, maka akan semakin sulit bagi Indah untuk melupakan Ibra nantinya, bahkan bisa saja dia akan terus terjerat pada ikatannya.


Sementara Ibra dengan sangat sengaja membuangnya didalam karena Ibra ingin mengikat Indah semakin kuat, Ibra tidak ingin melepaskan indah begitu saja, apalagi setelah apa yang sudah mereka jalani selama ini. Indah mampu membolak balikan bahkan menjungkir balikkan kehidupannya yang dulu kelam, berubah lebih hidup dan berwarna. Tentu saja tidak akan mudah bagi Ibra untuk melepaskan Indah.


"Masih marah?!" tanya Ibra saat menghampiri Indah yang tengah bersiap-siap. Hari ini mereka akan menghadiri undangan pernikahan kolega Ibra


Indah tak menjawab, dia masih sangat kesal dengan Ibra. Tapi meskipun begitu, Indah tetaplah indah, istri Ibra yang masih melayani semua kebutuhan Ibra meski dirinya masih sangat kesal. Hanya saja Indah puasa ngomong


"Udah dong nda ngambeknya,,, aku minta maaf, aku kelepasan, jujur enakkan lepas di dalem daripada diluar, kalau didalem berasa ada yang jepit-jepit gitu,,," ucap Ibra


"Kalau aku hamil gimana mas?!" Sungut Indah yang baru terdengar pagi ini setelah semalaman tidak angkat bicara sama sekali


"Aku akan bertanggung jawab jika kamu sampai hamil, aku suamimu, dan kita melakukan hal selayaknya suami istri bukan?! apa yang kamu risaukan?! toh jika kamu hamil, kamu sudah punya suami dan itu perbuatan suamimu sendiri." jawab Ibra


"Memang itu yang aku inginkan!" batin ibra


Indah terdiam, meski tak ingin menatap Ibra saat itu. Tentu saja indah memikirkan kedepannya, dia tidak ingin menjalani kehidupan rumah tangga tanpa cinta. Apalagi jika alasan Ibra bertanggung jawab hanya karena anak tanpa ada cinta yang terucap


"Jika hamil, mas tidak perlu bertanggung jawab, biar aku yang mengurus anak itu sendiri" ucap Indah


"Tidak! mana bisa begitu?! dia tentu anakku! dan aku juga ikut andil dalam pembuatannya" jawab Ibra


"Aku bisa mengurusnya sendiri mas" ucap Indah


"Aku bilang tidak ya tidak! aku juga akan ikut mengurusnya!" jawab Ibra


"Kenapa kita buang waktu kita dengan bertengkar seperti ini?! bukankah kita akan pergi?!" ucap Ibra


Indah tidak menjawab lagi dan langsung mengambil tas lalu pergi meninggalkan Ibra. Ibra pun tidak tinggal diam, ia juga melangkah keluar menyusul Indah yang berada didepannya.


"CK! sebegitu marahnya dia padaku!" batin Ibra sedikit melirik Indah yang hanya diam saja tanpa melihat kearah nya.


Sampainya di hotel tempat diselenggarakan acara pernikahan itu, terlihat banyak sekali tamu-tamu undangan yang sudah berkumpul disana. Ibra turun dari mobil bersama Indah, tanpa di minta, Indah sudah mengalungkan tangannya di lengan Ibra, seolah tau apa yang seharusnya ia lakukan dihadapan banyak orang. Ibra tidak protes, mereka pun berjalan beriringan menuju ke acara itu.


"Tuan Ibra,,,"


"Tuan Adam,,, selamat atas pernikahan putri anda, semoga langgeng dan bahagia selalu" ucap Ibra


"Aamiin,,, terimakasih sudah berkenan hadir"

__ADS_1


Ibra terus bercerita bersama koleganya, belum selsai satu, sudah datang lagi yang lainnya, sehingga menambah durasi obrolan mereka.


Indah merasa lapar, ia pun pamit pada Ibra untuk mengambil makanan yang ada di meja tak jauh dari mereka berdiri sekarang.


"Hai,,,"


Indah menoleh ke samping dan dilihatnya seorang pria tampan dengan senyum menawannya menyapa Indah


"Hai" jawab Indah sedikit kaku


"Sendirian?" tanya pria itu


"Ya" jawab Indah


"Aku Aiden, kamu siapa?" tanya pria itu


"Indah" jawab Indah


"Nama yang cantik, secantik orangnya" puji Aiden


"Terimakasih" jawab Indah


"Sayang,,, lama sekali ambil makanannya?!" ucap Ibra saat menghampiri Indah dan langsung merengkuh pinggang indah, tak ketinggalan sebuah kecupan ringan dipipi Indah sudah Ibra sematkan didepan Aiden


"Ah,, maaf, aku baru selesai memilih makanan mas" jawab Indah


"Siapa dia yang" tanya Ibra


"Oh,, ini tuan Aiden mas, dan tuan,, ini mas Ibra, suami saya" ucap indah


"Suami?"


"Ya, saya suaminya" jawab Ibra dengan sedikit tegas


Aiden menciut ketika tau jika Indah sudah bersuami. Harapannya langsung pupus ketika baru saja akan mendekati wanita cantik dihadapannya.


Tidak ingin kejadian itu terulang lagi, Ibra menggiring Indah untuk selalu ikut kemanapun Ibra berada. Hingga acara selesai dan keduanya pun kembali ke hotel.


Kini bukan hanya Indah yang dalam mode diam, namun Ibra juga dalam mode diam plus mode cemburu dan terjadilah perang dingin diantara mereka berdua.

__ADS_1


Sampainya di hotel, Indah segera mengganti pakaiannya, membersihkan diri agar lebih segar setelah perkumpulan dengan banyak orang membuatnya gerah. Indah bisa merasakan atmosfir kamar itu mendadak dingin, Ibra yang diam memendam cemburu terlihat begitu jelas.


Indah merebahkan dirinya di samping Ibra, yang biasanya Ibra akan merapat, kini dia masih diam di tempat tanpa bergeser sedikitpun. Ibra lebih memilih memejamkan mata dan berpura-pura tidur.


Baik Ibra maupun Indah sudah mencoba untuk tidur, namun keduanya sama sekali tidak bisa tidur. Seperti ada yang kurang, tak lama kemudian Indah berbalik dan ternyata Ibra terjaga dan juga menatapnya.


Deg!


"Gak bisa tidur?" ucap Ibra dan Indah mengangguk pelan


"Mas marah padaku?" tanya Indah


"Kau pun marah padaku" sungut Ibra


"Jelas aku marah! mas sudah berjanji untuk tidak membuang didalam, tapi kemarin?" jawab Indah


"Kan sudah aku katakan, aku kelepasan nda! sangking enaknya jadi lupa! dan aku akan bertanggung jawab jika kamu sampai hamil. Kenapa kamu khawatir?! bahkan kita suami istri, jadi tidak ada masalah bukan?!" jawab Ibra


"Suami istri tapi gak saling cinta?! rumah tangga itu gak akan pernah bahagia mas kalau gak didasari dengan cinta!" ucap Indah


"Apa kamu percaya jika aku bilang 'Aku mencintaimu'?!" ucap Ibra


Deg!


Indah menatap Ibra dan terdiam dengan rasa tidak percaya jika Ibra mencintainya


"Enggak! aku gak percaya! mas Ibra hanya ingin tubuhku, buktinya selama ini dia tidak pernah mengatakan cintanya dengan tulus padaku. Mulutnya hanya manis saat di ranjang" batin Indah


Indah menggeleng tanda dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Ibra.


.


.


.


.


Bersambung,,,, 🤍

__ADS_1


__ADS_2