Aku Bukan Pembawa Sial!

Aku Bukan Pembawa Sial!
Penuh Kenangan


__ADS_3

Ibra baru saja keluar dari kamarnya, begitu juga dengan Indah yang keluar dengan menggunakan gaun maron dipadu dengan hijab silver yang diberikan Ibra sore tadi. Sangat pas di kenakan indah malam itu. Bahkan Indah sedikit bingung darimana Ibra tau ukuran pakaiannya.


Deg!


Mata Ibra terpana melihat Kecantikan alami terpancar cantik dari istrinya. Rasanya tidak ingin membawa Indah keluar jika melihatnya secantik ini.


"Kita berangkat sekarang mas?" tanya Indah membuyarkan lamunan Ibra


"Ya" jawab Ibra singkat


Kemudian Ibra melangkah keluar dan diikuti oleh indah tak jauh di belakangnya. Mereka pun masuk kedalam mobil dan menuju ke rumah keluarga Hutama.


"Nanti kamu tidak perlu banyak bicara" ucap Ibra


"Iya mas" jawab Indah


Sesampainya di kediaman Hutama, keduanya turun dan berjalan masuk kedalam rumah itu. Keduanya di sambut hangat oleh pak Hutama selaku tuan rumah bersama Istrinya. Lalu keduanya di persilahkan masuk dan langsung menuju ke meja makan.


"Silahkan duduk tuan Ibra, dan Nona Indah" ucap Mama Khalisa


"Terimakasih" jawab Ibra dan Indah hanya tersenyum lalu ikut duduk


Tak lama dari itu, Khalisa terlihat turun dari kamar atas dan melangkah anggun turun kebawah. Ibra dan Indah sempat melihat keatas namun hanya sebentar kemudian ia kembali pada meja makan


"Selamat malam tuan Ibra" sapa Khalisa ramah


"Malam" jawab Ibra


Khalisa duduk di sebelah Ibra, tersenyum manis dan ikut makan malam bersama. Melihat gerak gerik putrinya, pak Hutama bisa melihat ketertarikan Khalisa pada Ibra.


"Tuan Ibra,,, kenapa Hubungan kerjasama kita ini tidak kita pererat saja dengan ikatan keluarga? bukankah kita sudah dalam saling melengkapi?" ucap papa Khalisa


Ibra tersenyum kecil ketika mendengar ucapan pak Hutama. Dia sangat tau maksud dari ucapan kolega bisnisnya itu. Sementara Indah sedikit kaget ketika mendengar ucapan papa Khalisa yang lebih terus terang


"Bagi saya, kerjasama bisnis tidak bisa dikaitkan dengan hubungan seperti itu pak. Dan lagi saya sudah memiliki seseorang di hati saya" ucap Ibra


Deg!


Semuanya terdiam mendengar kan jawaban Ibra, begitu juga dengan Indah yang langsung menoleh kearah Ibra.

__ADS_1


"Wah begitu yah,,, sayang sekali ya tuan, padahal saya berharap kerjasama kita semakin erat"


"Saya rasa kerjasama dalam bisnis saja sudah cukup" jawab Ibra lugas


Semburat kekecewaan terpancar di wajah Khalisa. Dia begitu kecewa karena Ibra menolaknya mentah-mentah didepan keluarganya. Sesaat ia menatap ke arah Indah, dia berfikir jika semua ini pasti karena Indah.


Makan malam telah selesai, Cukup lama Ibra dan indah berada di rumah itu. Kemudian Ibra pamit kepada tuan Hutama, lalu Indah dan Ibra pun masuk kedalam mobil dan meninggalkan kediaman keluarga Hutama


"Pa! apa papa tidak ada cara lain, agar aku bisa menikah dengan Ibrahim?!" ucap Khalisa


"Kau dengar sendiri bukan? dia sudah punya pacar! bagaimana papa bisa memintanya bersamamu?!" tanya papa


"Ah papa!! dia hanya berbohong! dia itu tidak sedang dekat dengan siapapun dari berita!! aku sangat menginginkannya pa!! pleaseee pa! lakukan sesuatu!!" ucap Khalisa merengek


"Papa pusing Lisa! lebih baik kau cari saja pria yang lebih dari Ibrahim itu!! dia itu terlalu sombong!" ucap papa Khalisa yang langsung pergi meninggalkan putrinya


"CK! bagaimana bisa aku mencari pria lain, sedang dia begitu terlihat sempurna di mataku! ya Tuhan,,,, aku sungguh ingin mendapatkan nya!" ucap Khalisa.


Mobil Ibra sudah sampai di parkiran apartemen, lalu Keduanya turun dari mobil dan berjalan menuju apartemen mereka. Keduanya pun melangkah bersama hingga terjepit di pintu bersamaan.


"Astagfirullah!! gantian kenapa sih mas?!" ucap Indah


Indah terlihat kesal kemudian ia melangkah lebih dulu namun gelangnya tersangkut di kancing kemeja Ibra


"Astagfirullah!! apalagi sihh ini!!!" ucap Indah kesal sendiri


"Kamu sengaja ya?!" ucap Ibra melihat indah sibuk melepas gelangnya dari kancing pada lengan kemeja nya


"Siapa yang sengaja sih?! sebentar dong mas!! nanti gelang ku patahh!!" sarkas Indah


Indah begitu susah melepas gelangnya yang tersangkut, sementara Ibra begitu menikmati kecantikan Indah disela-sela kesempatan itu. Bayangan Ibra kembali teringat pada kejadian siang tadi saat matanya yang tidak bisa dikondisikan menatap siranum itu kembali.


"Astagfirullah!" Ibra tersadar namun malah menarik tangannya dan membuat gelang indah benar-benar patah dan jatuh kelantai


Cringggg


Keduanya saling terdiam menatap gelang perak itu tergeletak di lantai


"Massss ibraaaaa!!" ucap Indah kaget

__ADS_1


Kemudian Indah mengambil gelangnya yang tergeletak di lantai


"Maass ibraa!! patah kan?!" ucap indah kesal


Ibra berlutut dan ikut melihat gelang indah yang patah


"Ngeselin banget sih?!" sarkas Indah


"Iya iya maaf! nanti aku ganti gelang itu!" ucap Ibra


"Tau gak ini nih gelang pertama yang aku beli pake gaji pertamaku dulu mas!! ini penuh kenangan!!" ucap Indah menatap sedih gelangnya yang sudah patah


"Maaf! besok aku ganti!" jawab Ibra


"Mana ada lagi gelang seperti ini?!" ucap Indah masih kesal dengan Ibra


Lalu Ibra mengambil gelang dari tangan Indah dan menatap dengan tatapan yang sulit diartikan


"Kembalikan mas! biar aku yang benerin sendiri besok!" ucap Indah hendak mengambil namun gelang itu masih ditahan oleh Ibra


"Tidak! aku akan ganti!" ucap Ibra


"Gak usah! biar aku saja!" ucap Indah namun tangannya tertahan oleh Ibra.


Keduanya saling diam menatap, saling berkedip dan menyelami sorot mata masing-masing. Sesaat kemudian Ibra menyerah, menyerah untuk tenggelam ke dasar lautan biru yang sudah menenggelamkan. Ditariknya tangan yang ia genggam, dan kini kehangatan mengirimkan gelayeran gelayeran kecil menjalar keseluruhan tubuh. Berbeda dari tadi siang, Ibra melakukannya dengan begitu lembut.


Klik


Pintu tertutup otomatis saat Ibra membangunkan Indah tanpa melepaskannya sedikitpun


.


.


.


.


Bersambung,,,,,,, 💕

__ADS_1


__ADS_2