
Pagi menjelang,,,,
Ibra merasa tidurnya begitu nyenyak semalam, tentu saja perasaan hangat, nyaman dan tidur dengan tenang tidak seperti beberapa hari lalu tidurnya yang terus gelisah. Bagaimana tidak nyaman?, saat ini Ibra tengah tidur dengan memeluk Indah, mendekapnya dengan begitu posesif. Tubuh kekar itu tengah mengungkung guling yang dia rindukan selama berhari-hari.
Sementara Indah yang masih tidur pun juga merasakan hal yang sama. Lelahnya perjalanan panjang yang dilalui Indah membuatnya sedikit mabuk perjalanan. Diselimuti kehangatan sepanjang malam, membuat Indah enggan untuk berpindah posisi. Indah pun tidak tau jika semalam ia tidur di kamar Ibra, mami yang dengan sengaja memberitahu indah jika itu adalah kamar tamu.
Perlahan Ibra membuka mata saat terdengar ponselnya berdering. Tangannya tergerak mematikan alarm, dan kembali mendekap guling nya lagi.
Aroma wangi dari rambut indah menyeruak ke Indra penciuman Ibra. Wanginya sama, sangat sama persis dengan wangi rambut Indah yang pernah sekali tidur bersamanya. Sontak saja Ibra membuka mata, dan mengerjap- ngerjapkan matanya, memastikan kembali apa yang kini dilihatnya itu benar
"Indah" Ucap Ibra dengan rasa tidak percaya
Perlahan Ibra mengarahkan wajah Indah, dan dilihatnya dengan pasti jika dugaannya itu benar. Tangan kekar itu menelisik menyusuri wajah hingga ke siranum yang ia rindukan, ntah sejak kapan. Senyum kecil terbit begitu saja setelah memastikan semua itu bukanlah sebuah kembang tidur.
"Ini,, benar Indah!" ucap Ibra
Indah menggeliat kecil saat merasakan sentuhan hangat pada bibirnya. Matanya perlahan terbuka, dan begitu terkejutnya Indah saat melihat Ibra kini tengah menatapnya juga.
"Mas Ibra?!" ucap Indah yang langsung membuka matanya lebar-lebar
"Kenapa kau ada disini?!" ucap Ibra
Indah terlihat bingung, dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu. Indah baru ingat jika mami Yolanda menyuruhnya tidur di kamar tamu
"Ini,,, kamar tamu" ucap Indah
"Bukan, ini kamarku. Mana ada kamar tamu dilantai 2?" tanya Ibra
"Tapi,,, kata mami ini kamar tamu" ucap Indah
Ibra mengkerutkan keningnya mendengar penuturan Indah. Lalu Ibra berfikir, pasti ini kerjaan sang mami.
Kemudian Indah akan beranjak dari tempat tidur, namun ditahan tangan kokoh yang semalaman memeluknya sepanjang malam. Indah pun menoleh kembali ke arah Ibra
"Mau kemana?" tanya Ibra
"Wudhu mas" jawab Ibra
"Kamu belum jawab pertanyaan ku?! Kenapa kamu ada disini?! kapan kamu sampai?" tanya Ibra
Indah menarik tangannya , dengan masih menatap Ibra
__ADS_1
"Aku hanya ingin menjenguk Kinara" jawab Indah yang kemudian memilih pergi meninggalkan Ibra yang masih mematung ditempatnya.
Indah masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan berwudhu, setelah itu Indah menjalankan ibadah subuhnya.
Setelah selesai subuh, Indah keluar dari kamar dan berjalan menuju ke dapur, sementara Ibra tengah menjalankan ibadah subuhnya sendiri di kamar tanpa sepengetahuan Indah.
"Masak apa?" tanya Ibra saat menghampiri Indah yang tengah sibuk dengan masakannya
"Yumitali pide dan bubur ayam untuk Kinara" jawab Indah
"Kamu bisa membuatnya?" tanya Ibra
"Hem,, ini seperti pizza, lagian bahannya sudah tersedia mas" ucap Indah yang kemudian memberikan makanan itu di depan meja Ibra. Tak lupa segelas susu segar pun sudah tersedia di samping makanan itu.
"Terima kasih" ucap Ibra
"Iya" jawab Indah datar
Kemudian Indah mengambil kotak makanan dan memasukkan makanan yang dibuatnya. Rencananya Indah akan menjenguk Kinara dirumah sakit.
"Apa kamu yakin ke sini hanya untuk menjenguk Kinara?!" ucap Ibra sembari menikmati sarapannya
"Siapa tau kamu kesini karena merindukan ku!" ucap Ibra
Deg!
"CK! terlalu Pede sekali!! Siapa juga yang rindu?!" kurang kerjaan sekali merindukan,,,,"
Ucapan Indah terhenti saat tiba-tiba Ibra sudah berada dibelakangnya dan saat indah berbalik, dia sudah terkungkung di meja kitchen set.
"Benarkah tidak rindu?" tanya Ibra yang sudah menatap lekad istrinya
"Ya" jawab indah memalingkan tatapannya
"Lihat aku, dan katakan kau tidak rindu!" ucap Ibra dengan penekanan.
"Aku,,, aku tidak rindu!" ucap Indah masih tidak ingin menatap kearah Ibra
Indah semakin terduduk, dan tidak bisa menghindar sama sekali. Tangan kekar itu begitu kuat mengungkungnya, hingga kini Indah semakin terdorong kebelakang saat Ibra semakin mendekatkan wajahnya
__ADS_1
"Lihat aku Indah!" ucap Ibra
Sekilas Indah melihat kearah Ibra, namun tidak lama, dia pun kembali membuang wajahnya. Indah tidak akan kuat menatap sorot mata itu, karena kerinduan akan terlihat jelas dari sana.
Dengan gerakan kilat yang tidak bisa diduga Indah, kini siranum sudah di lahap dengan begitu kuat. Tidak ada cela untuk menolak, karena melawan sang Cassanova sama saja membuang tenaga dengan sia-sia.
Keduanya terus terhanyut kedalam manisnya kerinduan. Kerinduan yang tak terucap, kerinduan yang hanya bisa diutarakan dalam hati.
Keduanya benar-benar kehilangan akal, tidak hanya siranum menjadi sasaran, kini si Menul sudah menjadi bulan-bulanan Ibra yang berubah menjadi bayi besar Indah. Suara serak-serak basah semakin membuat jiwa Cassanova Ibra terbakar.
"Mas,,?!"
Ucap Indah melambaikan tangan didepan wajah Ibra. Indah melihat Ibra tak kedip lagi, bahkan hanya diam menatap nya tanpa henti.
"Hey mas!" ucap Indah menyentuh pundak Ibra dan membuatnya tersadar
"Astagfirullah,,,!" ucap Ibra kaget
"Ngelamunin apa sih?! aku dari tadi nanya, malah gak di jawab!" ucap Indah dengan kesal
"Kamu tanya apa? sorry aku banyak pikiran" jawab Ibra seadanya, tidak mungkin Ibra jujur jika dirinya tengah membayangkan kemesuman bersama Indah.
"Mau anter aku ke rumah sakit gak?" tanya Indah mengulang pertanyaan nya
"Oke, bersiaplah sekarang" ucap Ibra yang kemudian berpura- pura fokus kembali pada makanannya.
"Tunggu sebentar" ucap Indah yang kemudian beranjak dari dapur menuju ke kamar.
Sementara Ibra lemas sendiri ketika Indah sudah tidak terlihat lagi
"Astagfirullah!! otakku kotor Sekali ! bisa-bisanya aku membayangkan sejauh itu! bahkan mungkin itu tidak akan pernah terjadi lagi antara aku dan Indah! Dasar otak mesum!" umpat Ibra terhadap dirinya sendiri.
Tak lama kemudian, Indah dan Ibra sudah berada didalam mobil dan keduanya akan menuju ke Rumah sakit. Tentu saja didalam mobil itu terjadi perang dingin dan tidak ada yang ingin berbicara lagi. Hanya suara musik klasik yang mengisi ruangan sempit kendaraan bergerak itu.
Demi mengusir kecanggungan diantara Indah dan Ibra, Indah lebih memilih melihat-lihat pemandangan kota Istanbul yang baru pertama kali ini Indah lihat. Rasanya Indah sudah tersihir begitu melihat gedung-gedung dipinggir jalanan yang baru terlihat jelas saat matahari sudah terbit.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung,,,,, 💕