Aku Bukan Pembawa Sial!

Aku Bukan Pembawa Sial!
Kamu Masih Perawan?


__ADS_3

"Tidurlah" ucap Ibra saat mereka sudah hampir satu jam hanya duduk di sofa tamu.


"Mas Ibra gak tidur juga?" tanya Indah


"Sebentar lagi" jawab Ibra sangat dingin


"Baiklah, aku tidur duluan" jawab indah yang ingin memberi waktu Ibra untuk menyendiri.


Kemudian Indah beranjak dan menuju ke kamar Ibra, dia pun merebahkan dirinya diatas tempat tidur yang sangat empuk, sementara Ibra masih diam ditempat duduknya, termenung sendiri.


"Kenapa aku harus bertemu pak tua itu?!" Sarkas Ibra didalam hatinya


Moodnya benar-benar rusak setelah pertemuan mereka malam ini. Padahal Papi Ibra harusnya berada di London, kenapa harus berada di Turki dan bertemu dengannya malam ini.


"Mami, tidak boleh sampai tau jika papi ada di Turki ! aku tidak akan membiarkan mami terluka lagi!! tekad Ibra


Tanpa Ibra tau jika sang mami sudah sempat bertemu dengan papi dan bukan hanya mami, Kinara pun juga sempat bertemu dan akhirnya malah membuat penyakit Kinara kambuh dan harus di operasi .


Sangat menyakitkan ketika teringat kenangan pahit dimasa lalu. Bukan Ibra tidak bisa move on dari Ellena, bahkan Ibra tidak memiliki perasaan apapun lagi pada wanita itu. Hanya saja luka itu ditorehkan oleh papinya sendiri, dimana dengan mata kepalanya sendiri, Ibra menyaksikan bagaimana dulu papinya menyiksa sang mami dan Rasa trauma pun di rasakan Ibra sampai saat ini.


Ibra berjanji, selama mami masih hidup, Ibra akan membuat mami dan adiknya bahagia, maka dari itu, Ibra sangat bekerja keras mengumpulkan uang dan membangun perusahaan untuk mencukupi semua kebutuhan keluarganya. bermodalkan peninggalan dari kakek Ibra sebelum berpulang yang tidak seberapa, kini Ibra dan keluarganya bisa bangkit bahkan sukses seperti sekarang ini karena kegigihan nya.


Mata Ibra sepertinya sudah tidak bisa di kondisikan lagi, dia pun melihat jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Lalu Ibra beranjak dan menyusul indah yang pasti sudah tertidur lebih dulu sejak tadi.


Ibra merebahkan dirinya di samping Indah, dan melihat wajah cantik indah yang tertidur begitu pulas. Lalu ia tergerak untuk menyentuh wajah damai itu dan mengusapnya perlahan.


"Aku tidak tau perasaan apa ini! tapi aku takut, kau akan meninggalkan ku seperti Ellena. Dulu aku sangat mencintainya, tapi disaat aku berharap, dia pergi begitu saja dan memilih bersama papi"


"Aku tidak menyesal berpisah dengannya, bahkan aku bersyukur sudah mengetahuinya lebih awal, tapi aku takut jika perasaan ku terlalu dalam untukmu, maka aku akan merasakan sakit yang sama seperti dulu"


"Lagian, aku bukan pria yang baik untukmu nda,,, mungkin benar, tidak seharusnya kita terus bersama, kamu berhak bahagia bersama pilihanmu. Mungkin sudah saatnya kita akhiri kebersamaan kita" ucap Ibra saat menyentuh wajah Indah


"Mas Ibra kenapa?" ucap Indah dengan suara serak bangun tidur.

__ADS_1


Indah merasa terganggu dengan Sapuan hangat pada wajahnya hingga membuatnya terbangun


"Maaf mengganggu tidurmu" ucap Ibra yang kemudian menjauhkan tangannya dari wajah indah


"Mas Ibra mau cerita?" tanya Indah


"Tidak,,," jawab Ibra masih menatap Indah


"Tapi tadi samar-samar indah denger kayak orang bergumam, mas bicara apa?" tanya Indah


"Gak ada, mungkin halusinasi kamu aja. Sudah tidurlah" ucap Ibra


"Rasanya kantukku hilang mas" ucap Indah dengan mengucek matanya


"Apa kamu ingin melakukan olahraga pagi, hem?!" ucap Ibra dengan smrik nakalnya.


Indah membola, namun seperdetik kemudian indah sudah memasukkan kepalanya kedalam selimut. Sontak saja Ibra terkekeh melihat betapa takutnya Indah. Padahal tentu ini bukan pertama kali bagi indah, menurut Ibra.


"Lepasinnn masss!!" ucap indah saat Ibra memeluk indah dengan erat ketika masih berada didalam selimut


"Engeeeppp!" ucap Indah dari dalam selimut


Kemudian Ibra melepas apitan dan pelukannya kepada Indah, dengan cepat Indah segera keluar dari tempat persembunyiannya dan menarik nafas dalam-dalam


"Mas ingin membunuhku?!" sungut Indah


"Habis kamu sendiri yang masuk ke dalam selimut!" jawab Ibra


"Habis ngomongnya gitu banget!" ucap Indah mulai mengingatkan Ibra lagi


Kemudian Ibra menangkap wajah Indah dan membuat keduanya saling menatap tanpa lepas.


"Lupa kalau aku suami mu?! harus nya sudah kewajiban mu melayaniku" ucap Ibra

__ADS_1


Indah terdiam dengan masih terpaku menatap sorot mata Ibra yang remang- remang. Rasanya kantuk keduanya pun benar-benar hilang, disaat keduanya sudah merasakan hangatnya sapuan yang kini dirasakan keduanya, ntah siapa yang memulai.


Decapan cicak di dinding seolah kalah, dinginnya pagi seolah sirna. Siapa yang tidak terbuai jika rasanya senikmat ini.


"Apa mantan suamimu tidak pernah melakukan ini?! kenapa bentuknya masih begitu sempurna?" ucap Ibra disela-sela kesibukan nya memanjakan si Menul. Semua Indra yang dimiliki Ibra seolah dimanjakan, benar-benar dimanjakan dengan kemolekan istrinya yang seperti masih gadis.


Selama ini Ibra tidak pernah mau menyentuh gadis, karena baginya bisa menimbulkan rasa bersalah mendalam pada dirinya. Meski begitu, Ibra sangat tau, mana yang masih original dan mana yang sudah sering di jamah oleh tangan nakal.


Jangan tanya darimana ya!


"Be,,,,Lum Mas,,," jawab Indah terbata,


Indah benar-benar dibuat pening melayang-layang dengan setiap manjaan yang Ibra berikan.


"Yang bener saja nda?!" ucap Ibra saat melepas Indah tiba-tiba dan membuat indah merasa kehilangan


Anggukan pasrah dengan Rona merah jambu memenuhi pipi Indah saat ditatap lekad oleh Ibra, sorot mata nya begitu sendu, dan tatapan memohon itu seolah tanda meminta Ibra untuk melanjutkan lagi. Namun Indah begitu malu untuk mengatakan nya.


"Kamu,,, masih perawan nda?" tanya Ibra tiba-tiba


.


.


.


.


.


Bersambung,,,,,,, 💕


Biar uni nulisnya makin semangat, yukk follow IG @uniramadhani.id

__ADS_1


Saling follow biar makin akrab☺️


Ditimpuk bunga sama kopi juga uni terima kok☺️


__ADS_2