
"Tunggu!"
"Ada apa Tuan, apa kau mencurigai sesuatu?"
"Sebelum Ke kafe? Arumi terlihat baik-baik saja, dia juga belum makan apapun dari Apartemen karena aku menjemputnya sangat pagi. Apa jangan-jangan." Randika melirik ke arah Brian yang terlihat gelisah dan gugup.
"Benar Tuan, pikiran kita sama."
"Shit, BRIAN!!"
"Ran maafkan aku," ucapnya penuh tekanan.
Tanpa banyak bicara, Randika menarik tubuh Brian dan melayangkan pukulan kepada sahabatnya.
Bugh ...
Pukulan keras Randika membuat pria bermanik biru itu tersungkur dengan dara menyembur dari sudut bibirnya. Tanpa belas kasihan Randika kembali menarik kerak baju Brian dengan tatapan penuh kebencian.
"Apa yang kau lakukan padanya."
"Ma-maafkan aku Ran."
"Cepat katakan!"
"Aku menaruh sedikit obat di minumannya tadi."
"What!"
"Kau gila Brian!" Rilan mendekat ingin memberikan pukulan. Namun gelengan tatapan tajam Randika membuat dia menahannya.
"Obat apa yang kau betikan."
"A-aku."
"Cepat jawab aku!"
__ADS_1
"Obat B*** W*****?" ucapnya pelan, nyaris tidak terdengar oleh Randika dan Rilan.
"Apa!!"
Teriak keduanya bersamaan. "Kau gila," lanjut Randika.
Pria bermanik hitam itu menghempas kasar tubuh sahabatnya kelantai. menyesal dengan perbuatan sahabatnya, apalagi obat yang Brian berikan adalah obat perangsang dengan tingkat reaksi yang sangat cepat.
"Maafkan aku Ran, aku tadi hanya main-main," tutur Brian.
"Dan dia bukan barang mainan mu."
Kali ini, Randika benar-benar marah, Brian, telah melakukan hal yang begitu tidak manusiawi. Apalagi dia melakukannya kepada gadis sepolos Arumi. Jika kedua orang tuanya tahu maka akibatnya yang diterimah Brian akan lebih parah dari ini.
Randika menatap wajah Arumi yang di penuhi keringat, bibir Arumi sampai berdarah karena menahan gejolak dari reaksi obat itu. "Apa ada cara untuk meredamkan reaksinya?"
"A-aku tidak tahu."
Randika yang duduk di samping Arumi mengusap pelan pipi gadis yang sedang bergumam tidak jelas itu. Siapa pun tidak akan menyadari jika hubungan mereka adalah kakak beradik. Randika menunduk, menyesal karena lalai hingga hal ini terjadi.
"Agh ... Arumi, sadarkan dirimu ... jangan seperti ini, kau bisa membuat rambutku rusak," teriaknya kesakitan.
Bukannya berhenti Arumi malah kembali mencium leher jenjang Randika hingga pria itu mengerang.
"Hentikan dia!"
"Tuan!"
"Hentikan Arumi. Ingat syarat yang kau tanda tangani itu, tidak ada kemesraan dalam keadaan apapun, apa kau tidak membacanya."
"Sebentar saja Ran."
"Tidak! semua orang sedang melihat kita. Hentikan!"
Randika geram. Dia melirik ke arah Rilan yang sedang mengepalkan tangan menahan emosinya terhadap Brian. "Rilan, bantu aku."
__ADS_1
Tingkah Arumi semakin menjadi-jadi. Tangan nakal Arumi kini sudah menarik beberapa kancing baju Randika hingga jatuh terlepas. Gadis itu bahkan sedang menempelkan wajahnya ke dada bidang milik Randika dan mengelus-elus di sana seperti kucing yang sedang bermanja pada Tuannya.
"Arumi ... STOP !! Juniorku bisa mengamuk jika kau seperti itu. Argh .... Kau bisa membuatku gila karena ulah bodohmu ini Briam Willian," jerit Randika keras.
"Maaf, tadinya aku pikir, akan menyenangkan melihat reaksimu ketika Arumi bergairah. Tapi malah aku yang terlalu bergairah untuk menanti moment ini. Maafkan aku, demi Tuhan tidak ada maksud lain," tutur Brian memelas.
Dia yakin setelah ini Randika akan menghancurkan wajah tampannya ini menjadi bubur. Apalagi tatapan Rilan padanya sedari tadi membuat dia tidak bisa bergerak luas.
"Apa kau gila! bagaimana bisa aku meniduri adik ku sendiri."
"Aku benar-benar tidak tau jika kau sedekat itu dengan adikmu. Aku pikir dia hanya gadis biasa yang merepotkan seperti yang sering kau ceritakan. Jika aku tau dia sepolos ini, demi Tuhan aku tidak akan melakukannya."
"Kemari kau dasar berengsek!
Bugh... dhuak ... bugh ....
Rilan memberikankan pukulan untuk Brian. Dia sudah cukup menahannya dari tadi.
"Aghh ... Rilan ma-maafkan aku, ashh ... aah .."
"Rilan, hentikan kau bisa membunuhnya." lerai Randika.
"Aku akan membunuhnya sekarang juga bila perlu," pekik Rilan dengan pukulan yang tidak hentinya ke arah Brian.
"Hentikan, apa yang kalian berdua lakukan," ujar Randika dengan gerak kasar menarik tubuh Rilan.
"Bajingan Kau Brian, beraninya kau melakukan itu pada Arumi, aku tidak akan memaafkanmu, Dan kau." Rilan menepis tubuh Randika. "Apa katamu tadi, Adik ku? cihh ...! Kau bahkan tidak pernah mempedulikannya! lihat ... lihat gadis itu! dia begitu menderita! dan itu karena ulah kalian," teriak Rilan geram.
"Rilan tenanglah, aku tahu kecemasanmu, tapi ini bukan saatnya saling menyalahkan," ujar Randika.
"Diam kau! ini semua karena ulahmu, ketidak pedulianmu membuat orang lain dengan mudah menyakitinya. Kalian berdua menjijikan!" tuduh Rilan dengan tatapan nyalang.
Rilan benar-benar marah. Dia merasa gagal karena tidak bisa melindungi Arumi. Untung saja dia yang yang menjeputnya tadi, jika Arumi bersama dengan orang lain tadi disaat obatnya bereaksi, entah apa yang sudah terjadi pada gadis itu.
Brian meringkuk penuh penyesalan. Semua pukulan serta ucapan Rilan tadi membuatnya merasa sangat malu dan tidak bisa berkata apa-apa selain maaf. Begitupun dengan Randika, rasa bersalah kini menyelumutinya. Ucapan Rilan benar, semua ini terjadi karena dirinya.
__ADS_1