Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 73


__ADS_3

Mustang hitam itu memasuki Area yang sudah tidak asing baginya, wajah datar yang terasa begitu dingin membawa hawa yang tidak baik untuk sekitarnya. Randika melangkah cepat dan sampai pada sebuah kamar Apartemen milik wanita yang dulu pernah sangat dia cintai.


Suara bel yang berbunyi kencang mengalihkan seorang wanita yang tengah memuji diri. Dia berjalan dengan senyuman menuju pintu tanpa merasa curiga seseorang telah menunggunya dengan penuh kebencian di luar sana.


Dan saat suara pintu terbuka.


"Hai, kau da-- akh ...."


Tanpa bicara Randika mendorong Evanya masuk hingga tubuhnya terbentur tembok dengan sangat keras. Pria bermanik hitam itu mencekik leher Evanya hingga dia memekik tak bernapas.


"Kau melewati batasanmu Evanya Mastaw."


"Akh ... A-p-a yang kau ... akh." jeritan Evanya semakin kerasa saat jemari kekar pria itu menahan lehernya lebih kuat.


"Beraninya kau menyentuh kekasihku."


"Shit, dari mana dia tahu."


Evanya mengumpat tanpa suara, dia menelan luda kasar saat melihat tatapan pria di depannya begitu tajam dan menyeramkan. Dia melihat jelas pria berambut hitam lebat ini benar-benar dalam kemarahan.


"Kau akan membayar semua yang sudah kau lakukan Evanya!"


"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan."


Perempuan itu semakin ketakutan, panik dan sesak di saat bersamaan, dia bahkan tidak memiliki tenaga untuk melawan.


Randika menyeringai. "Apa kau ingin kembali pada kehidupan lama mu di jepang?"


"No! Randika, jangan lakukan itu."


Evanya yang semakin panik menggunakan kekuatan tangannya untuk melepaskan diri. Sebelum akhirnya Randika melepas cekikan lehernya, dia menelan luda kasar saat Randika mulai merangkup wajahnya dengan begitu kasar.


"Apa yang kau lakukan di bukit De La Reine?"

__ADS_1


"Aku tidak melalukan apa-apa, aku hanya sedang bersantai di sana."


Randika menyeringai. "Apa kau sedang menguji kesabaranku?"


"Non chérie non, akh ...."


Randika kembali menjambak rambut pirangnya hingga semakin membuat wanita itu merasa kesakitan. Rasa kesal, marah dan benci akan semua penghianatan yang Evanya lakukan membuat dia tidak bisa mengendalikan diri.


"Katakan!"


"Apa yang harus aku katakan."


"Kau melukainya Evanya, kau mendorong Arumi dari bukit hingga menabrak mobil Brian!!"


"Tidak!! aku tidak melakukannya!"


"Kau ingin aku seret keluar dan menjadi mangsa pria-pria liar di luar sana?"


"Jangan Ran, jangan lakukan itu padaku." Evanya tidak dapat menahan ketakutannya, tangannya gemetar dengan wajah yang sudah lelah karena siksaan yang di berikan Randika.


"Aaakh."


"Apa kau belum mau mengakuinya?"


"Okey ... okey ... aku mengakuinya, maafkan Aku."


"Sudah ku katakan, kau bisa mengambil segalanya asal jangan sampai kau menyentuh mereka."


Wanita itu meringis, lalu berdiri dengan sisa tenaganya, tangannya kini beralih memegang pipi Randika. "Maafkan aku, maaf. Aku tidak akan melakukannya lagi."


Randika menahan tangan Evanya untuk tidak kembali menyentuhnya, pria itu mengeram dia mendekat semakin rapat. "Jika kau berani macam-macam dengan keluargaku, aku akan membunuhmu!"


"Keluarga?" evanya mengumpat." Kau anggap mereka keluarga? Jenny bahkan tidak perduli dengan mu, dia menghancurkan keluargaku untuk memisahkan kita. Dia bahkan membayar orang untuk membuat karierku hancur."

__ADS_1


"Kau pikir aku tidak tahu alasan di balik dia melakukan itu? kau mengancamnya bahkan memerasnya."


"Aku tidak melakuk-- Aakh!"


Kalimat Evanya di akhiri dengan teriakan rasa sakit yang seketika membuatnya mengerang hampir tidak sadarkan diri. Randika menembakkan satu peluru tepat di bagian lengannya.


"Kau tidak akan pernah menjadi seorang pianis jika berani menyentuh milik ku."


"Akh ... aaaaah .... tangan ku."


"Kau harus tahu di mana tempatmu berada Evanya."


"Kenapa kau sangat mencintai anak punggut itu huh, aakh ...."


Randika kembali meremas lengan Evanya yang terluka, membuat wanita itu mengeluarkan air mata karena menahan sakit.


"Dia tidak sebanding dengan wanita buangan sepertimu, kau mendekatiku karena Damian membutuhkan ku bukan."


"Kau menyuruh orang untuk mengawasiku?"


"Tentu saja Sayang, aku tidak ingin kehilangan kesempatan untuk melihat kehancuranmu."


"Lalu kenapa kau ingin mengembalikan karierku?"


"Itu karena aku pikir ibu ku melakukan kesalahan. Tapi, setelah tahu semuanya ini adalah siasatmu, aku memutuskan untuk berhenti melakukan-nya."


Evanya menggeleng kuat. "No Randika kau tidak bisa melakukan ini padaku."


"Itu akibatnya jika kau berani menyakiti milik ku."


"No, Randika no!"


Randika membalikan badannnya dan melangkah pergi dengan wajah datar, meninggalkan Evanya yang terus saja berteriak. Sekarang, dia tidak perlu menanggung semua beban ini lagi. Dan satu-satunya hal yang melintas di kepalanya saat ini adalah membuat Arumi memafkannya.

__ADS_1


"Randika! ... Kau tidak bisa melakukan ini padaku, Randika!"


.


__ADS_2