Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 106


__ADS_3

Tok ... tok ... tok ...


"Siapa?"


"Nona, ini aku Minora."


"Masuklah."


"Maaf Nona, Tuan muda menunggumu untuk sarapan bersama."


"Katakan, aku akan bersiap setelah itu akan bergabung."


"Baik Nona."


"Ah ... tunggu Minora?"


"Ya Nona, apa ada yang bisa saya bantu."


Arumi menggeleng. "Apa Randika sedang ada tamu? aku mendengar kau menyampaikan pesan untuknya tadi."


"Benar Nona, Tuan Rilan sedang bersama Tuan muda."


"Kak Rilan?"


"Sudah sekitar 1 jam Tuan Rilan tiba."


"Apa yang mereka bahas?"


"Bagaimana aku bisa tahu Nona, mereka di dalam ruang kerja. Dan Nona tahu sendiri bukan. Tuan muda sangat sensitif dengan keberadaanku."


"Kau bisa mengendap-endap, atau pura2 membawakan minuman."

__ADS_1


"Aku tidak berani Nona, pagi ini Tuan muda sudah memperingatiku agar tidak mendekat saat hal penting terjadi."


"Maksudmu?"


"Tuan Muda mengira aku menguping kemesraan kalian."


Arumi tertawa keras seketika, dia tidak menyangka Randika pria bar-bar itu akan sebucin itu. Bahkan dia sampai mencurigai pelayan. "Dia mangatakan itu padamu."


Pelayan itu mengangguk dengan polos. "Aku bahkan tidak melihat apapun yang kalian lakukan malam itu."


Arumi kembali tertawa. "Itu karena kau pernah melakukan kesalahan. Kau harusnya mengetok dulu, sebelum masuk."


"Mana aku tahu kalau kalian sedang melakukannya Nona."


"Baiklah," ucapnya dengan terkekeh. "Kau bole pergi, dan ingat, apa yang kita bicarakan tadi adalah rahasia oke."


"Bien Nona."


*


*


*


Randika Dan Rilan, bahkan tidak menyadari kehadiran Arumi, keduanya masih larut dengan percakapan yang sangat serius. "Apa yang kalian bicarakan," tanya Arumi setelah membuka pintu ruang kerja milik Randika.


Randika menggeleng dia beranjak memeluk kekasihnya dan memberikan ciuman lembut di pelipis kiri Arumi. Pria bermanik hitam itu mencium Arumi begitu lama hingga membuat Rilan yang ada di sana merasa risih. Dan yah, Randika melakukannya sekali lagi untuk memastikan perasaan Rilan pada calon istrinya itu.


"Ayo kita sarapan bersama."


"Bisakah aku bicara dengan Arumi sebentar, setelah itu kita akan sarapan?" potong Rilan dengan cepat.

__ADS_1


Seketika wajah ceria Randika berubah datar. Namun, dengan cepat dia alihkan agar tidak terlihat. Pria berdarah jepang prancis itu mencium pipi kekasihnya kemudian berbisik. "Aku menunggumu di meja makan."


"Kau tidak ikut dalam perbincangan?"


"Tidak Sayang, aku terlalu lapar dan itu tidak baik untuk lambungku. Santailah, aku akan makan dengan pelan agar bisa menunggu kalian," ucap Randika dengan nada penuh pengertian.


Padahal faktanya darahnya begitu mendidih dengan rasa cemburu yang menggebu. Rilan menginginkan untuk bicara empat mata dengan Arumi, berat bagi Randika untuk menyetujuinya. Namun, jika tidak memberi ijin, dia akan terlihat seperti seseorang yang egosi. Maka dari itu dia membiarkannya, berharapa Arumi tahu batasannya dan Rilan pun bisa mengerti dan mengendalikan perasaannya.


Wanita yang memakai dres hitam bercorak bunga-bunga itu berdehem untuk mencairkan suasana, ini bukan pertama kalinya dia berduaan di dalam ruangam bersama Rilan. Tetapi, kali ini rasa tegang dan gugupnya lebih dari saat Randika mengajaknya untuk menikah. Benar-benar mendebarkan.


"A-apa kabar Aurela baik?" tanya Arumi membuka percakapan.


Rilan pun mengangguk dengan pelan. "Baik."


"Apa kau mengambil cuti untuk kembali ke Prancis"


Rilan kembali menggeleng, pri itu seperti nyaman menjawab dengan reaksi tubuh. "Bagaimana aku bisa cuti, jika adik perempuanku akan menikah."


Arumi menghela napas dalam dengan senyuman manisnya, dia membenarkan pakaiannya karena gugup parah.


"Bagaimana kalau kita mengundang Aurela untuk makan malam bersama. Dia pasti akan senang."


"Arumi."


"Hmm."


"Bisakah kita tidak membicarakan orang lain ketika sedang berdua saja."


"Huh?" Uacapan Rilan membuat Arumi mengangkat alisnya penuh tanya.


"Maksudku, aku tidak ingin membicarakan Aurela. Kita hanya perlu meluruskan kesalah pahamam kita Rumi."

__ADS_1


"O-oke."


"Apa yang aku pikirkan tadi, kau hampir berfikir tentang sesuatu yang tidak wajar Arumi Chaska," batin Arumi di dalam hati.


__ADS_2