
Akhirnya Evanya keluar dari persembunyian saat gelap mulai pekat. Jarum jam menunjukan pukul 10 malam, perempuan dengan pakian serba hitam itu berjalan dengan sangat hati-hati. Lirikan matanya tajam melihat keadaan agar tetap aman untuknya.
Beberapa menit menelusuri lorong gelap akhirnya dia sampai di depan jalan, terlihat ada mobil hitam dengan semua kaca tertutup sedang menunggunya di sana. Evanya melambaikan tangan membuat pria yang ada di dalam mobil menurunkan kaca jendela. Secepat kilat, dia berlari kecil dan masuk ke dalam mobil, berharap jika tidak ada siapapun yang melihat mereka.
"Ayo jalan."
"Apa ada yang melihatmu?" Damian melirik ke arah spion memeriksa sekali lagi bahwa keadaan sekitar aman dari jangkauan Randika dan kawanannya.
"Ku harap tidak."
"Apa yang akan kita lakukan ini akan sangat beresiko Evanya, apa kau siap?"
"Aku siap!"
Damian melihat jelas, tatapan mata Evanya terlihat ragu-ragu. Namun, jika mereka terus menunda maka semua rencana tidak akan bisa mereka wujudkan. Tanpa berkata lagi Damian menyalakan mesin dan melesat menuju tempat tujuan mereka. Danian sama sekali tidak memperdulikan wajah kecemasan Evanya, dia membela jalan dengan kecepatan di atas rata-rata.
Satu yang ada di dalam pikiran Damian saat ini adalah, keberhasilan. Dia tidak mau tertangkap dan mendekam di penjara, dia harus bisa menaklukan Evanya agar wanita itu tetap membantunya untuk mewujdkan rencananya sejak awal, yaitu untuk mendapatkan semua aset yang di miliki oleh Randika.
Dalam waktu 30 menit, mereka sampai pada tempat di mana rencana jahat mereka akan di jalankan. Evanya dan Damian turun dan mulai melakukan tugas mereka masing-masing. Tidak butuh waktu lama untuk melakukan semua itu, karena hal sepeleh seperti itu tentu saja sangat biasa di lakukan orang-orang licik seperti Evanya dan Damian.
"Apa kau melakukannya sesuai yang sudah ku katakan?" Damian bertanya untuk memastikan bahwa semua aman.
__ADS_1
"Tentu saja, apa kau tidak mempercayai keahlianku?"
"Aku hanya ingin memastikan bahwa kau tidak ragu-ragu dalam melakukannya."
"Kau tahu untuk apa aku melakukan ini Damian," ucapnya dengan tegas. "Aku tidak ingin pengorbananku sia-sia."
Damian menatap Manik Evanya. "Apa kau akan membunuh wanita itu?"
"Tidak! Aku akan membuat dia menderita secara perlahan," ucap Evanya dengan wajah datar.
Damian berbisik. "Bisakah kau serahkan dia padaku?"
Kini tatapan Evanya mulai fokus pada Damian. "Kenapa? Kau menyukainya? Dan apa yang akan kau lakukan dengan wanita itu jika aku menyerahkannya padamu."
"Apa yang sedang kau pikirkan Damian?"
Damian yang sedari tadi hanya tersenyum di samping Evanya mulai tersadar.
"Shitt." Pria itu mengumpat di dalam hati. Wajah cantik Arumi membawanya memikirkan hal-hal yang menggairahkan.
"Damian!"
__ADS_1
"Diamlah, kau mengacaukan lamunanku"
"What? Apa kau sedang memikirkan tubuh wanita itu?"
Damian terdiam, dia tidak tahu apa yang harus dia katakan. Tentu saja dia tidak ingin Evanya tahu tentang rencanahya. "Ayo kita kembali, jangan sampai ada yang menyadari keberadaan kita di sini."
"Kau belum menjawab pertanyaanku Damian!"
"Tidak ada yang aku pikirkan, alu hanya sedang membayangkan bagaiman jika kita berdua ke klub malam ini, aku akan menyewa tempat khusus untukmu, Sayang."
"Dasar pria cabul, kau bilang kita tidak boleh terlihat. Dan sekarang kau malah mengajak ku ke tempat ramai."
"Aku menyewanya Evanya, tidak akan ada orang lain selain kita berdua."
"No!"
"Ayolah! Bersenang-senanglah denganku."
"No! Damian."
"Hanya untuk malam ini." Damian mendekat berbisik tepat di telinga Evanya. "Aku sangat ahli dalam urusan ranjang, kau pasti akan ketagihan."
__ADS_1
"