
.
.
Quebec, Kanada.
Pagi ini, Arumi bangun dengan wajah yang hampir seperti Vampire. Raut wajah pucat, kantung mata yang makin menggelap, bibir kering hampir pecah, dan rambut kusut yang dua hari ini belum dia cuci. itu semua karena kurangnya asupan kebahagiaan yang dia dapatkan dua hari ini.
Kalau saja Randika, tidak mengirimkan pesan peringatan bahwa dia akan menjemputnya pagi ini, bisa dipastikan dia akan tertidur bagaikan Putri Aurora yang akan bangun ketika dicium oleh pria yang mencintainya.
Arumi yang sudah selesai dengan ritual mandinya, kini sibuk berdandan. Dia harus terlihat cantik bah Putri Aurora. Seperti perintah Randika dia harus siap sebelum pria itu sampai. Randika tidak suka mengulur waktu hanya untuk menunggu wanita berdandan. Namun, ketika sudah selesai, raut wajah gadis berambut ikal itu berubah bentuk. Pesan masuk merubah mode cerianya menjadi datar. Pasalnya dia harus turun ke basement sendiri karena sang pangeran malas untuk menjemputnya.
📥 "Cepatlah, aku di basement."
Dengan langkah gontai, Arumi berjalan menuju tempat parkir tanpa membalas pesannya. sesampainya di parkiran, dirinya benar-benar membuat Randika tak berkedip. Randika membuka lebar kedua matanya saat melihat penampilan Arumi pagi ini. Gaun biru selutut dengan motif bunga terlihat sangat pas di tubuh Arumi.
"Apa aku secantik itu?" tanya Arumi mengagetkan kekaguman Randika.
What the ****, apa dia melihat tatapan ku tadi?
"Akui saja, jangan malu-malu."
Saat ini Randika memang tengah malu karena tertangkap sedang menatap Arumi. Dia tidak mengira, Adik angkatnya ini benar-benar sangat cantik dengan polesan makeup tipis. Apalagi dress biru selutut yang Arumi kenakan sangat cocok dengan warna kulitnya.
"Ada apa dengannya, apa dia sakit? atau mabuk? kenapa dari tadi hanya diam."
__ADS_1
Gadis itu cemberut dalam batinnya. Namun saat matanya menoleh ke arah jendela. Dia merasa bingung karena jalur yang di ambil Randika bukan arah ke Mansion.
"Dia akan membawah ku ke mana?"
"Hei, berhenti. Kita salah jalur."
Randika hanya tersenyum. Dia lebih memilih fokus menyetir dari pada menjawab. Tapi ujung netranya jelas sedang mencuri pandang ke arah gadis yang duduk di sampingnya itu.
"Randika kita salah jalur," teriak Arumi. "Apa kau marah padaku? Kenapa diam saja, jawablah. Kau mau membawaku ke mana?"
Namun, tetap tidak ada jawaban. Arumi sedikit khawatir hingga tak berani bersandak oada jok mobil. Pria berdarah Korea ini diam dan hanya dia yang terus mengoceh tanpa henti.
"Randika!"
"Diamlah, kau berisik sekali."
Pemilik manik cokelat itu memukul pelan bahu randika, dan mendapati tatapan tajam dari pria yang sedang fokus menyetir.
"Kita mau ke mana?"
Bisakah kau diam saja, kau akan tahu saat kita sampai."
"What?"
Tubuh Arumi bergetar, dia merasa dejavu mengingat kedua orang tuanya meninggal saat mengemudi. apalagi kecepatan mobil Randika yang semakin kencang membuat dia gelisah. Entah karena apa, pria ini terlihat sangat aneh.
__ADS_1
"Ka-kau tidak akan membunuhku bukan?"
"Jika kau tidak bisa diam, maka kau benar-benar akan berakhir seperti kedua orang tuamu, kau mengerti!"
Arumi tersentak. ketegangan yang dia rasakan tiba-tiba menghilang. "Apa maksudmu."
"Aku harus fokus menyetir Arumi, jika kau tidak bisa diam maka kita bisa mengalami kecelakaan. lihatlah, jalanan cukup ramai."
"Aku pikir."
"Memangnya apa yang kau pikirkan."
"Tidak ada."
🍂
🍂
Di sebuah kafe pinggiran kota Quebec. Seseorang terlihat sedang sibuk memerintahkan para pegawainya menyiapkan sarapan pagi untuk tamu yang akan datang. Lebih tepatnya adalah tamu paksaan.
"Berengsek! Dia kira aku bawahannya hingga dengan cepat harus melaksanakan perintahnya. Apa dia lupa kalau klub ku ini hanya melayani pasangan romantis? Tunggu, apa mereka akan melakukannya di sini?"
Brian menyeringai, sebuah ide tiba-tiba muncul dikepala sang pemilik manik biru itu. Namun saat membayangkannya, tatapan maut Randika tiba-tiba sana lewat.
"Tidak ... tidak ... tidak .... lupakan itu, kau bisa berada dalam bahaya jika itu terjadi Brian."
__ADS_1
Dia bergegas melihat apakah semua yang diinginkan Randika sudah siap atau belum, tapi pikirannya masih menerawang tentang ide gilanya itu. Dan tiba-tiba saja, senyuman licik Brian melengkung indah diatas bibirnya, dia tergelak saat membayangkan wajah Randika ketika rencananya berhasil nanti.
"Baiklah, mari kita lihat Randika. Seperti apa perasaanmu sebenarnya untuk gadis itu. Apakah hanya sebatas seorang adik, ataukah lebih."