Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 29


__ADS_3

"Katakan!" pinta Arumi dengan menahan napas. Dia terlihat sangat gugup karena baru kali ini berani menghampiri Randika.


"Apanya," ujar Randika menekuk dahi.


"Katakan semua perasaanmu padaku. Aku ingin mendengarnya," desak Arumi.


"Bukankah Aku sudah mengatakanya waktu kita di bukit."


Arumi melongo. Dia tidak mengira semua yang di katakan Randika waktu di bukit adalah benar. Meski sebenarnya waktu itu, dia sempat berfikir keras hingga membuat kepalanya pusing.


"Aku pikir kau hanya bercanda waktu itu. Karena kau menimbang-nimbang saat mengatakan akan menikahiku, makanya tidak aku perdulikan," ujar Arumi dengan nada suara yang semakin turun.


"Apa! kau bilang aku bercanda!" teriaknya tidak percaya. Randika benar-benar merasa malu. Ternyata ungkapan perasaanya di anggap candaan oleh Arumi.


"Itu karena kau yang selalu berbuat sesuka hatimu."

__ADS_1


"Kenapa kau selalu salah paham dengan kata-kataku."


"Memang apalagi yang harus aku pahami. Kau selalu seperti ini." Arumi menaikan sedikit nada suaranya karena merasa berang. Tatapannya pun berubah menjadi sangat aneh karena memikirkan kelakuan Randika yang selalu membuatnya merasa bingung.


"Apa Kau pernah berfikir bagaimana upayaku untuk bertahan hingga sejauh ini? bagaimana aku bisa bertahan saat dipermainkan orang sepertimu. Bagaimana aku bersabar saat kau memarahiku, mengkritikku, membenciku. Aku bahkan tidak bisa berbuat apa-apa. Apa Kau pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi orang terbuang? menjadi anak yatim piatu yang hidupnya selalu bergantung pada orang lain. Apa kau pernah merasakan itu ha."


"A-Arumi aku."


"Dan Kau, Kau bahkan bersikap baik padaku sesaat lalu berpaling mengabaikanku. Dan aku selalu berusaha tetap memaklumi itu. Aku sudah berusaha untuk bertahan, tapi bagaimana bisa-"


"Jangan bicara sesukamu dan marah-marah seperti ini, dengarkan aku juga. Kau membuat ku khawatir dengan mengatakan semua seperti ini," potong Randika saat Arumi masih akan berkata.


"Aku pun menyesal, aku menyesal telah menyetujui perjodohan ini. aku menyesal tidak pernah meminta maaf karena sudah memperlakukanmu dengan tidak baik," ujar Randika lirih.


"Sekarang kau bisa menjalani hidupmu tanpa penyesalan. Kau hanya butuh aku pergi dari sini." Bibir Arumi bergetar menahan tangisnya. "Aku akan pindah, dan berhenti menyesali semuanya.

__ADS_1


Kau membuatku sangat bingung dengan sikapmu yang berubah-ubah ini." teriaknya.


"Tetaplah di tempat yang terlihat olehku,"sahut Randika dengan tegas. "Entah kenapa aku sangat khawatir dan bingung tentangmu Arumi. Tapi sudah Aku putuskan, malam ini mari kita pastikan.


Randika mendekat pelan ke hadap Arumi menariknya lembut dan mencium Arumi. Karena kaget dan bingung Arumi langsung mendorong tubuh Randika untuk menjauh darinya.


"Sebesar apa perhatian yang kau butuhkan dan bagaimana bisa kau membuatku khawatir seperti ini."


"Apa kau tahu. Aku takut jatuh cinta padamu tiap kali Kau menatapku seperti itu," ujarnya tanpa mengalihkan pandangan dari tatapan Randika.


Seketika itu, Randika meraih tubuh Arumi mendekapnya erat. Jemari tangan Randika menelisik di sela rambut ikal Arumi dan kembali menciumnya. Kedua pipi Arumi terasa panas saat bibir Randika mendarat lembut di atas bibirnya. Jantungnya berdebar tidak beraturan bahkan hampir membuat dia meloncat kegirangan. Gadis itu pun menerima perlakuan Randika tanpa perlawanan. Bahkan membalas panggutan Randika dan hanyut dalam rasa bahagianya dan melupakan kesedihannya.


Sesaat Arumi dan Randika tersadar saat mendengar suara pintu yang tertutup.


"Apa ada orang di sini selain kita berdua?" tanya Arumi gugup.

__ADS_1


"Tidak! mana berani orang memasuki kamarku," jawabnya.


"Lalu siapa yang menutup pintu?"


__ADS_2