Aku Candumu

Aku Candumu
103


__ADS_3

Sebagai penenang diri, Rilan menyambangi kafe milik sahabat dekatnya, dia menghabiskan berjam-jam d tempat itu dengan berdiam diri. Tidak ada yang bisa menghancurkan keterdiaman Rilan, atau memutuskan tatapan hampanya.


Tidak ada tatapan yang menarik perhatiannya selain segelas wiski yang sedari tadi dia tegung berulang kali. Hingga usapan lembut di lengan membuat nya tersadar. Pria itu tersenyum kecil melihat kedatangan wanita yang baru saja menempati ruang kecil di hatinya.


"Berhentilah, kau sudah minum cukup banyak. Dengan seperti ini, tidak akan menyelesaikan masalah."


Rilan terkekeh, dia menggenggam tangan Aurela dan menciumnya. "Apa yang membawamu kemari, apa kau merindukanku?"


Aurela tersenyum penuh bahagia. Namun dokter itu dengan cepat menarik tangannya saat seorang bartender menatapnya tidak suka.


"Sedang apa kau di sini Aurela?" tanya seorang pria dengan setelan jaket hitam di balik meja bartender.


"Apa kau tidak lihat, dia bersamaku," jawab Rilan.


Jawaban yang sangat di sukai semua wanita, termasuk Aurela yang tentu saja sangat menginginkan untuk tetap dekat dengannya.


"Aku tidak bicara dengan mu pria es." Brian mengalihkan pandangan ke arah saudara perempuannya. "Apa yang kau lakukan di sini. Bukankah kau tidak nyaman berada di kafe saat terdapat orang mabuk."


"Aku tidak mabuk."


"Tutup mulutmu bodoh!"


"Brian!"


"Apa! Kau ingin membelanya karena di sekarang adalah kekasihmu? begitu! Berhenti bersikap seakan-akan kau tahu tentang perasaannya Aurela. Kehadiranmu akan membuat keadaan semakin aneh."


"A-apa maksudmu."


"Pulanglah, ada yang harus aku selesaikan dengan Rilan."


"Tap--"


"Aurela!"


"Tidak bisakah kau membiarkan ku menikmati sedikit hidup bahagia ini," gerutu Aurela yang kemudian di balas dengan tatapan tidak ebak daei Brian.


Gadis itu kembali memasang wajah suram ke arah Brian. Kali ini dia benar-benar membuat dokter wanita itu kesal. Ingin sekali dia memohon agar Rilan membiarkan dia untuk tetap tinggal. Namun, pria itu malah diam seperti batu.


"Sial! Apa dia sedang menolakku?" batinnya.


"Aku pergi, jika kau butuh sesuatu hubungi aku."

__ADS_1


Rilan mengangguk pelan di ikuti derap langkah Aurela yang pergi meninggalkan kafe. Setelah memastikan Aurela sudah menghilang, Brian baru memulai untuk bertanya.


"Kau tidak benar-benar menyukainya bukan."


"Entahlah."


"Rilan Harperr! Jangan menjadikan saudara ku sebagai lahan penampung pata hati dan dukamu."


"Aku tahu."


"Jika kau tahu, maka jauhi Aurela."


"Brian aku ti-"


"Jauhi dia atau persahabatan kita berakhir."


Rilan tampak terkejut, memandang pria yang ada di depannya dengan tajam. "Bicara apa kau. Kita berteman sejak lama, untuk apa kita hancur hanya karena seorang wanita." Deg ... Seperti aneh dengan ucapan sendiri, mata Rilan melebar setelah selesai mengucapkan kalimat terakhir. Dia seperti menyadari sesuatu dari ucapannya.


"Kenapa? apa kau menyadari sesuatu?"


Kalimat Brian mampu membuat Rilan terdiam, dia menelan ludah kasar dan kembali menatap Brian yang sedang sibuk meracik minuman untuk para pelanggannya.


Pria bermanik biru itu tertawa mengetahui kepekaan sahabatnya. "Kau yang tidak memahami posisimu."


"Randika memaksaku untuk mengatakannya."


"Dan kau menyetujuinya bukan."


"A-aku."


"Bukankah Arumi sudah seperti adik mu sendiri?Seharusnya kau tahu bagaimana harus bersikap. bukankah kalian sudah melewati masa-masa di mana kalian saling memahami satu sama lain. Lalu kenapa lau seperti anak kecil yang sedang marah karena mainan-nya di rebut anak tetangga."


"Aku tidak marah!"


Brian tertawa keras. "Hahaha. Rilan ... Rilan. Kau pikir dengan berkata begitu aku akan percaya. No! Sikapmu itu terlalu nyata."


"Oke ... oke. Aku tahu aku sudah menyakitinya tapi itu hanya eksepresi dari-"


"Dari rasa sakit hatimu?"


"Berhenti memotong pembicaraan, itu tidak sopan," ucap Rilan meneguk habis minuman yang sedari tadi sudah menjadi candunya.

__ADS_1


"Sekarang katakan padaku, bagaimana perasaanmu pada Arumi saat ini."


"Aku khawatir dia akan membenciku."


"Berada di posisi mana kau sekarang."


"Saudara lelakinya."


"Jika seperti itu yang kau rasakan, kenapa kau pergi tanpa menjelaskan apa-apa!"


"Dia mengusirku."


"Dia hanya memberimu pilihan Rilan, dan kau termakan emosimu."


"Apa kau sedang merutuki ku dan membela Randika?"


"Non, aku berada di tengah."


"Kelihatannya tidak seperti itu." batin Rilan.


"Jangan membatin, kebiasaan buruk mu itu akan menghancurkan semuanya."


"Apa salah dengan batinku?"


"Kau selalu bertingkah tegar mengatakan sesukamu lalu membatin dengan penyesalan. Dan aura wajahmu itu, aku tidak menyukainya."


"****! Sial."


"Minta maaflah pada Arumi, dia menangis semalaman. bahkan sampai tidak tidur sama sekali karena terus mengkhawatirkan mu."


"Randika memberitahumu?"


"Dia mencarimu semalam. Mata gadis itu bengkak Rilan. Dia menangis berjam-jam untukmu. Dan kau datang lalu tiba-tiba pergi karena tersinggung di usir. Ah dasar pria berwajah es."


"Dia mencariku di sini?"


"Randika memberitahu tempat ini untuknya."


Helaan napas Rilan sangat berat saat tahu Arumi keluar sendirian. Wanita itu takut akan kegelapan, untuk apa dia melakukan hal bodoh seperti itu. Untung saja tidak ada orang aneh di kafe ini, jika sampai sesuatu terjadi padanya mungkin saja dia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.


"Aku akan memperbaiki semua."

__ADS_1


__ADS_2