
Maaf gays baru up karena 3 hari ini benar-benar nggak fit. Untuk liat hp saja nggak kuat ni mata.
😔🤢🙏🙏🙏
.
.
Satu kata yang bisa menggambarkan perasaan Arumi saat ini, yaitu cemas. Dia tengah merasa antara gugup dan gelisah. Pasalnya dari saat dia tiba di Mansion sampai malam menjelang, Randika belum juga keluar dari kamarnya. Padahal gadis itu berharap pria dengan manik hitam itu akan melamarnya sekali lagi dengan lebih serius.
"Apa dia tertidur? ini sudah malam dan dia belum menyapa ku kembali."
Arumi merasa sedikit kesal, karena sepertinya Randika lagi-lagi memberi harapan palsu. Arumi sudah tidak tahan lagi, dia segera beranjak keluar dari kamarnya menuju pintu berwarna hitam yang terbuat dari kaca tebal yang berada persis di ujung lorong lantai dua. Jujur saja, Arumi selalu merasa tidak nyaman jika berada di kamar tunangannya yang serba hitam itu. Bagaimana bisa, seluruh barang hingga tempat tidur bahkan horden yang ada di sana semuanya berwarna hitam. Dia merasa seakan berada di dalam dunia kegelapan, kamar itu bergaya seperti kamar-kamar moderen yang ada di luar angkasa, begitu menyeramkan.
Hal yang membuat Arumi terkagum adalah, kamar Randika berhadapan langsung dengan laut Quebec. Dari jendela kamarnya Arumi bisa menikmati hembusan angin laut dan terbitnya matahari tanpa harus berada di bukit De La Reine. Apa kalian pernah menonton Goblin korea di mana Goblin bercerita dengan batu nisan? nah di situlah tempatnya. xixixixixixi.
Tok ... tok ... tok ....
"Randika, apa kau di dalam?"
"Yah, masuklah."
Arumi melakukannya, dia membuka pintu dan masuk ke dalam kamar milik pria luar angkasa itu, yah karena dia adalah Robot.
__ADS_1
"Apa kau sedang bersemedi?"
Pertanyaan Arumi membuat Randika tersenyum dalam diamnya, tentu saja dia menjawab dengan tatapan datar. "Apa kau sedang menantikan sesuatu dari ku?"
"Ti-tidak!"
"Kalau begitu istirahatlah, kau pasti lelah. Dan kakimu butuh pemulihan bukan." Randika tampak santai, dia membuka bajunya dan tidur bertelanjang dada hingga membuat Arumi harus memalingkan wajah.
"Randika."
"Aku lelah Arumi."
"Tapi?"
Randika memejamkan mata tidak peduli dengan wanita yang ada di depannya. Arumi memang sudah sangat mengantuk. Namun, mengingat kejadian terakhir saat dia terbangun dengan Randika yang tertidur di sampingnnya karena efek obat itu membuat dia enggan untuk ikut berbaring.
"Apa tidak ada yang ingin kau katakan lagi padaku Randika?"
Manik hitam itu perlahan terbuka, dia membalas tatapan Arumi. "Bukankah kau yang tidak ingin membahasnya."
"Bukan seperti itu."
"Sudahlah Arumi, jika kau tidak mengijinkanku berada di sisimu, aku hanya bisa berdoa semoga Tuhan menjagamu untuk ku. Ah tidak, bukankah Rilan bisa mencarikan pria lain untukmu." ujarnya membalikan badan sebelum Arumi menjawab.
__ADS_1
Membuat perempuan yang memakai pajamas tidur berwarna putih itu mengerucutkan bibir. Mengingat Randika yang tidak lagi membahas soal lamaran dan pernikahan membuat dia sedikit kecewa. 'Apa randika tidak serius padanya.' Itu yang dia tanyakan pada dirinya sendiri.
Arumi berbalik untuk keluar dari kamar yang penuh aura jahat ini. Namun, sepersekian detik setelah Arumi membalikan badan hendak melangkah, pria yang hobbi memadang wajah datar dan dingin itu menarik Arumi ke dalam pelukannya, menenggelamkan kepala Arumi ke lehernya. Dari jarak yang begitu dekat, Arumi visa mencium aroma tubuh Randika yang maskulin yang benar-benar harum dan memabukkan. Membuatnya rileks untuk sesaat, sebelum tersadar dia berusaha mendorong dada Randika
"Menyingkir dariku!"
"Kau menyukainya bukan, tidurlah aku akan menjagamu."
"Non, lepaskan aku."
"Diamlah, jika kau bergerak kita tidak akan menikah."
"What?"
"Kenapa? kau pikir aku tidak serius."
"Dasar Robot."
"Tapi kau menyukai Robot ini bukan."
"Menyebalkan."
Randika menyeringai, sepersekian detik bibirnya menempel pada milik Arumi mereka berciuman lama hingga perempuan itu mendesah merasakan tangan Randika menjalar di tubuhnya. Dengan lembut bibirnya memajakan lidah pemilik manik cokelat itu. Kamar dengan warna hitam itu menjadi saksi bisu bagaimana keduanya menyalurkan kasih masing-masing. Ciuman berakhir dengan kalimat cinta Randika yang sangat di harapkan oleh Arumi.
__ADS_1
"Kau bersedia menjadi istriku Arumi Chaska?"