Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 93


__ADS_3

"Apa kau ingin keluar dengan bayang-bayang jeruji lagi karena berteriak ingin membalas dendam?"


"Kau pria gila, aku akan membongkar niat busukmu jika keluar dari sini."


Brian menatap bingung lagi ke arah Rilan.


"Apa kau percaya pada wanita ini, dia hampir membuat kau di penjara."


Ucapan Rilan membuat wajah Brian kembali datar, dia menelan luda kasar membayangkan dirinya berada di posisi yang sama dengan wanita di depannya. Berbeda dengan Brian, Evanya malah tertawa.


"Hahaha, aku suka melihat kalian seperti ini, saling mencurigai satu sama lain," ucap Evanya menyeka sisa air matanya, kini dia beralih menatap Brian yang masih ragu. "Kenapa? kau tidak percaya perkataanku?" Evanya Menyeringai saat tatapannya beralih pada Rilan.


"Randika akan membunuhmu saat tahu kau mencintai kekasihnya yang yang kau tutupi ddngan perasaan saudara.


Brian semakin ragu karena Evanya mengucapkannya dengan penuh penekanan. Wanita berambut pirang itu memang selalu mengetahui apa yang tidak orang lain ketahui dan itu yang membuat Brian ragu akan sahabatnya.


"Santailah Brian, kau tahu siapa Evanya. Jangan sampai kau termakan ucapan wanita iblis ini."


"Tapi ...."


"Aku menganggap Arumi seperti adik kandungku, tidak ada rasa cinta ataupun perasaan suka seperti yang kau katakan Nona Mastaw. Jika kau pikir aku akan takut dengan ancaman mu itu, kau salah! Aku sama sekali tidak takut."


"Kau sama sekali tidak berharga di mata wanita pungut itu."


Brian menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, melihat Evanya dan Rilan yang saling melempar kata membuat dia benar-benar bingung. Entah siapa yang harus dia percayai di sini, satu-satunya yang bisa dia percaya adalah, Randika dan Arumi akan segerah menikah.


Ujung bibir Rilan melengkungkan senyuman tipis. "Kau takan pernah bisa mempengaruhi emosiku."


"Kau sialan."


Rilan terkekeh, dia memberi kode untuk sang penjaga agar membawa Evanya kembali ke pengurungan.


"Waktumu sudah habis Nona."


"Makanlah dengan teratur Evanya, kau harus tetap hidup untuk merasakan akibat dari perbuatanmu."


"Lepaskan aku!"

__ADS_1


Evanya berontak saat lengannya di cengkram seorang petugas, wanita dengan baju tahanan itu di seret masuk dengan paksa karena terus memberontak. Tanpa di sadari oleh mereka, seseorang menatap datar dengan tajam dari kejauhan, aura dingin yang terpancar dari wajahnya terasa menyeramkan.


Rilan dan Brian meninggalkan ruang besuk, saat melewatinya sebuah pintu tiba-tiba saja sosok seorang pria yang berdiri mengagetkan keduanya.


z


"Oh, shit ... apa yang kau lakukan dengan wajah seperti itu di snaa Randika!"


"Shit, kau membuat kami kaget," susul Rilan.


Manik itu itu tetap bergeming, dia menatap dengan begitu tajam ke arah Rilan. Brian mengerutkan keningnya, dia jelas melihat tatapan Randika seakan sedang menuntut penjelasan. Rilan, bahkan Rilan salah tingkah mengingat ucapan evanya tadi pasti di dengar oleh Randika.


Brian akhirnya sengaja mengalihkan keadaan dengan bertanya kepada Randika.


"Apa kau akan membiarkannya mati di sni?"


Randika menoleh dengan tatapan datarnya. "Dia harus menyadari kesalahannya terlebih dahulu sebelum mati."


Ucapan Randika telak membuat Brian menelan ludahnya dengan susah. Tatapan sahabatnya benar-benar menyeramkan sepaket dengan kalimatnya. "Ka-kau tidak benar-benar melakukannya bukan."


"Akan aku lakukan apapun untuk melindungi milikku yang berharga."


"Dia bisa melakukan apapun di manapun Brian, kau tahu itu."


Brian terdiam, dia lupa akan fakta itu. Rasa kasihan membuat dia menutup mata untuk semua hal buruk yang pernah Evanya lakukan. "Maaf, aku hanya ingin hubungan persahabatan kita tetap terjaga."


"Kau hanya kasihan padanya Brian, lupakan kalau dia pernah menjadi sahabat."


"Itu tidak mungkin Rilan, kita pernah bersama di waktu yang cukup lama."


"Jika dia memikirkan selama apa kita pernah berbagi dalam ikatan persahabatan, seharusnya dia tidak melakukan hal-hal gila seperti itu," ujar Rilan penuh penekanan.


Brian menghela napas. "Kau benar." Dia menepuk bahu kedua sahabatnya. "Bagaimana kalau kita berpesta malam ini, bukankah Tuan Muda mu ini akan segera melepas masa lanjangnya."


Randika tidak fokus, sedari tadi dia menatap dengan ekspresi yang tidak menyenangkan ke arah Rilan, yang membuat Brian menyerutkan keningnya karena dia bahkan sama sekali tidak berkedip.


"Kau seharusnya menjelaskan sesuatu padaku Rilan?"

__ADS_1


Rilan hampir sama tersedak rokok yang sedang dia nikmati, asap kepul yang hendak dia buang masuk memenuhi rongga dadanya hingga pria dengan manik coklat itu terbatuk.


"Uhuk ... uhuk ... uhuk ...."


"Aku tidak ikut campur," ucap Brian berlalu pergi.


"Hei, dasar pengecut mau kemana kau!" Rilan berbalik menatap Randika, gerak tubuhnya terlihat kalau dia salah tingkah.


"Apa?"


"Tidak."


"Lalu?"


"Ah ... itu hanya salah paham Tuan tidak ada perasaan yang seperti itu."


"Lalu?"


"Aarumi hanya adik bagiku i-itu saja."


"Itu saja."


"Yah, itu saja. Karena jika lebih, tentu saja kau tidak akan memilikinya."


"What?"


"Aku harus kembali ke kantor Tuan. Banyak kerjaan yang sedang menantiku, permisi."


"Baiklah, sampai bertemu di Mansion setelah semua pekerjaanmu selesai."


Langka Rilan terhenti, pria dengan manik cokelat itu berbalik. "Apa ada tugas untuk ku?


Randika mengangguk pelan membuat Rilan mengerutkan keningnya.


"Aku ingin penjelasan lebih detail tentang perasaanmu itu"


"What?"

__ADS_1


"Sampai bertemu Rilan."


"Tuan! Tuan!" menghembuskan napas berat. "Apa dia akan membuangku seperti Evanya?"


__ADS_2