
"Astaga Rilan! apa yang kau lakukan di depan klinik ku?"
Rilan terdiam, dia memasang wajah datar dan berdiri menghampiri Aurela yang berdiri di ambang pintu. Sudah berjam-jam pria itu tersungkur di depan pintu klinik milik Aurela, entah apa yang membawa dia kesana dan entah apa yang dia harapan dari kehadiran Aurela.
"Apa sesuatu terjadi?" tanya Aurela.
Pertanyaan yang mengingatkan Rilan akan kekecewaan, hingga tanpa sadar tangan Rilan terangkat mengelus pipi adik perempuan dari sahabatnya itu. "Apa kau begitu menyukaiku?"
"Huh?"
Kalimat itu terucap begitu saja hingga Rilan sadar apa yang di katakannya membuat wanita di depannya terkejut dan kembali memberikan pertanyaan.
"Ada apa denganmu?"
Aurela menatap lama sebelum menyadari jika pria pujaannya ini dalam keadaan mabuk. "Apa yang terjadi, kenapa kau tertidur di depan klinik dengan keadaan mabuk seperti ini? Dan ...." Mata Aurela berpencar. "Di mana mobilmu?"
"Aku meninggalkannya di kafe." Tubuh pria itu limbung dan hampir saja kembali tersungkur ke lantai. Untung saja tangan Aurela dengan cepat menahannya. Namun, karena tubuh Rilan yang berat membuat Aurela sedikit kesusahan untuk mengangkatnya masuk ke dalam klinik.
__ADS_1
"Maafkan aku Aurela," gumam Rilan di sela-sela kesadarannya.
"Untuk apa?"
"Karena membiarkanmu menyukai ku selama ini."
Aurela menjatuhkan tubuh Rilan begitu saja, sesaat wanita itu tertawa dengan hambar. Dia baru sadar, Rilan tidak pernah semenyedihkan ini, apalagi pria ini dalam keadaan mabuk.
"Apa dia menolakmu?"
Pria itu menggelengkan kepala. "Dia sudah tidak membutuhkan ku lagi, dia memiliki pria yang jauh lebih baik dari pada diriku sekarang."
Rilan mengangguk dengan wajah sendu. Efek minuman membuat matanya berat untuk terbuka.
"Apa kau ingin menjadikanku tempat pelarian Tuan Harperr?"
Pria Prancis itu menggeleng kembali.
__ADS_1
"Lalu apa?"
"Aku ingin belajar mengingatmu, mengenalmu, dan jika kau menginjinkan aku ingin mencoba mencintaimu?"
Ucapan Rilan baru saja sontak membuat Aurela tertawa dengan sangat keras. "Hahahaha ... Kau mengatakannya karena sedang patah hati Tuan Harperr."
Rilan kembali menggeleng. "Aku memang sedang patah hati, tapi dari situlah aku belajar. Bahwa membuat orang lain menyukai kita itu sangat susah, maka jangan sia-siakan mereka yang sudah mencintaimu."
"Lebih baik kau pulang, klinik ku bukan tempat untuk menampung orang yang sedang patah hati."
Pria itu menahan saat Aurela hendak meninggalkannya. "Apa kau juga menolak ku?"
Demi Tuhan, detik itu Aurela seakan di sengat listrik dengan ketegangan tinggi, yang dapat menghentikan sistem motoriknya. Bagaimana tidak, sejak dulu dia selalu berusaha untuk mendapatkan perhatian Rilan, dia bahkan rela menghabiskan seluruh waktunya hanya untuk menunggu pria Prancis ini. Dan sekarang, pria ini menanyakan apa dia menolaknya?
Whay? untuk apa menanyakan hal yang tidak mungkin, dan kenapa dia harus datang dalam keadaan seperti ini. Banyak pertanyaan dalam benak Aurela yang membuat dokter hewan itu terus bungkam dengan tangan yang masih bertautan.
"Apa kau baik-baik saja?"
__ADS_1
Rilan tertawa seakan pertanyaan itu lelucon. Dia menarik tangan Aurela hingga tidak ada jarak di antara keduanya. "Kau mengatakan jika pria yang menidurimu pertama kali adalah jodohmu bukan, kalau begitu, tidurlah dengan ku?"
Aurela menghindari menatap manik cokelat yang begitu menghipnotisnya. "Aku rasa ada masalah dengan otak mu."