Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 105


__ADS_3

"Lepaskan aku." Arumi mencoba memberontak dari Randika yang mencoba membuka baju tidurnya. "Hentikan atau aku akan menggigitmu."


Bukannya berhenti, Randika malah tertawa membuat Arumi kembali melanjutkan pemberontakannya. Mata Arumi membulat tatkala Randika berhasil melepas atasan bajunya, seringai licik muncul di ujung bibir pria yang memiliki mata hitam pekat itu.


Setelahnya, Randika mulai menyentuh bibirnya bermain di sana hingga perempuan berambut gelombang itu hampir saja kehabisan napas. Tidak ada tenaga untuk menyingkirkannya Arumi di ambang buaian, dia sulit untuk menolaknya.


"Bibirmu sangat manis," ucapnya di sela-sela ciumannya. Dan itu berakhir dengan Arumi yang menyerah pasrah dan lelah, tenaganya sudah habis terkuras karena memberontak tadi. Kini apapun yang akan di lakukan Randika padanya dia sudah tidak bisa melawan lagi.


Ketika tubuh mereka saling berdempet, saling menyentuh menyalurkan hasrat dengan perasaan yang menggebu-gebu, sebuah teriakan menghentikan. "Nona, apa anda sudah bangun?"


"Oh shiitt!"


Randika membuang napas kasar, perlahan dia menarik tangannya dari tubuh kekasihnya, membenarkan selimut yang menutupi tubuh Arumi, lalu berdiri dengan wajah kesal menuju pintu. Beda halnya dengan Arumi, wanita itu terkekeh mengingat kekasihnya sudah sangat menggebu-gebu malah harus hilang hasrat karena suara seorang pelayan yang memanggil.


"Pergilah tanyakan ada apa, aku ingin melanjutkan tidurku yang sudah kau ganggu."


Randika mendesah pelan sebelum membuka pintu.


Pelayan itu tercegat tepat setelah pintu terbuka. Dan Itu karena Randika berdiri tepat di hadapannya.


"Tu-tuan muda?"


"Sedang apa kau di depan pintu? apa kau sedang mengintip lagi."

__ADS_1


Minora menggeleng keras. "Ti-tidak Tuan. A-aku hanya ingin menyampaikan pesan untuk Nona Arumi," ucap Minora menggebu-gebu karena takut


"Benarkah?" Randika menatap Minora dengan tajam. Entah mengapa Randika sangat sensitif akan kehadiran Minora.


"Tentu saja Tuan."


"Apa kau tahu suara mu itu telah membuatku kecewa?"


Minora tampak berfikir. "Suaraku? tapi apa yang suaraku telah lakukan hingga kau kecewa Tuan."


"Sudahla. Sekarang katakan, pesan apa yang ingin kau sampaikan?"


"Itu ...." Pelayan itu terlalu gugup hingga lupa dengan apa yang hendak dia sampaikan. "Tu-tuan Rilan ingin menemui Nona Arumi Tuan muda."


"Siapkan sarapan untuk kami."


"Bien tuan," ucap Minora menunduk memberikan anggukan tanda mengerti.


*


*


*

__ADS_1


Untuk kesekian kalinya Randika mendapat tatapan tidak suka dari Rilan, seakan dia menyuruhnya untuk kembali ke dalam dan menyuruh Arumi untuk keluar.


"Apa yang membawamu untuk datang sepagi ini?" Mata hitamnya mentap Rilan menuntut penjelasan.


Dengan penuh ketenangan Rilan membalas tatapan Randika dengan tatapan khasnya yang sedingin es. "Aku hanya ingin bertemu Arumi, tidak dengan dirimu."


"Tentu saja setelah aku mendengar penjelasanmu tentang apa yang membawamu kembali."


"Randika!" ucap Rilan dengan nada suara penuh penekanan.


Rilan menunduk sejenak, terlihat pria Prancis itu sedang berfikir sebelum akhirnya berbicara. Manik cokelat-nya beralih menatap Randika. "Aku ingin memperbaiki hubungan ku dengannya."


"Hubungan apa yang kau maksud."


Rilan menatap sahabatnya lama, merasakan perasaan bersalah yang lebih besar dari pada dendamnya. Kasih sayang untuk Arumi tidak akan pernah berhenti mengalir. Pria itu meremas jemarinya karena menahan rasa kesal pada dirinya sendiri yang semakin memuncak.


"Aku minta maaf."


"Maaf?" Randika mengulangi ucapan Rilan dengan nada penekanan. "Kau tahu, kau membuatnya gadis itu tertekan. Dia menyalahkan dirinya karena tidak bisa memberikan hatinya padamu, seharian dia tidak makan, dia hanya memikirkan bagaimana caranya agar kau bisa memafkan-nya. Dia berfikir kalau kau tidak menginginkannya lagi sebagai adik." Pria bermata hitam itu menarik napas dalam, dia meluapkan emosinya dengan sekali tarikan napas.


"Aku tidak tahu jika sikapku membuatnya tertekan."


Ketika Rilan menunduk, Randika mengangkat dagunya mengarahkan manik cokelat itu untuk menatapnya. Dengan pelan dan penuh pengertian Randika bertanya. "Katakan padaku, apa yang kau inginkan dari Arumi.

__ADS_1


"Aku ...." Rilan menarik napas dalam sebelum akhirnya melanjutkan. "Aku hanya ingin dia tetap menjadi adikku."


__ADS_2