
Randika masuk kembali ketika memastikan Brian sudah pergi. Namun tidak terlihat sosok gadis itu di sana."
"Di mana dia?"
Randika menuju kamar mandi untuk melihat jangan sampai gadis itu di sana. Terdengar olehnya suara air mengalir.
"Arumi, apa kau di dalam?"
Randika semakin panik, tidak ada sahutan dan air terus saja mengalir. Dia memutar gagang pintu untuk mencoba masuk, tapi ternyata pintunya terkunci dari dalam.
"Arumi!! Apa kau di dalam?"
Pria itu mengeraskan suara di ikuti dengan pukulan-pukulan kecil untuk membuat Arumi menjawabnya. Namun, setelah beberapa menit seperti itu, Arumi malah tidak menjawab hingga membuat Randika semakin panik.
"Shiit."
"Apa yang kau lakukan di dalam sana bodoh. Jawab aku." batinnya mengerang kesal.
Sementara di dalam sana, gadis bermanik cokelat itu sedang menenggelamkan tubuhnya di dalam Bathtup. Reaksi obat yang makin bergejolak membuat tubuh Arumi panas hingga dia menggaruk tengkuknya berulang kali. Dia bahkan tidak peduli dengan suara yang memanggilnya dari luar.
"Panas sekali ... Aaah, kepalaku."
Gadis itu sudah sedikit lebih sadar saat berendam. Namun dia merasa ada yang salah pada dirinya. Dia tidak demam atau sakit. Tapi rasa panas pada tubuhnya tidak menghilang dan kepalanya pun semakin menjadi hingga membuat penglihatannya sedikit kabur. Arumi benar-benar di buat kewalahan oleh reaksi obat yang di berikan Brian.
Bahkan dinginnya malam tidak membuat gadis itu beranjak dari Bathtup hingga dia menyadari ada tangan yang menyentuhnya.
"Ra-Randika," gumamnya terkejut.
__ADS_1
"Sedang apa kau di sini. Aku sampai harus menghancurkan pintu untuk memastikan kau baik-baik saja."
"Ada yang aneh padaku. Panas tubuhku tidak menghilang, dan aku ... ahmmmm." Rasa tidak nyaman kini menggerogoti tubuhnya, sesuatu yang perlu di lepaskan.
"Aaaah, Apa yang kau lakukan." Arumi menjerit saat kedua tangan Randika menyentuhnya lalu mengangkat dirinya dari bathup keluar dari kamar mandi dan membawanya ke tempat tidur.
"Ran."
"Istirahatlah."
"Tetaplah di sini," pintanya pada Randika.
Entahlah ini antara sadar dan tidak, tapi sentuhan Randika saat menggendongnya tadi membuat Arumi mendamba. Seperti kecanduan, hingga dia menginginkannya lagi.
"Aku tidak bisa."
Gadis berponi itu memberikan pola-pola aneh di sana hingga berakhir pada kecupan manis di leher jenjang milik Randika. Sejenak, ciuman itu membuat Randika merasakan nikmat yang luar biasa.
"Kau benar-benar membuatku harus lebih mengendalikan diriku Arumi. Aku pria normal, jadi tolong hentikan kegilaan ini dan kembali tidur," ujarnya pelan.
Bukannya melakukan perintah Randika, gadis itu malah lebih merapatkan tubuhnya ke dada Randika. Membuat tubuh pria berambut hitam lebat itu menegang, apalagi saat tangan kiri Arumi menyentuh pinggangnya.
"Arumi stop." Dia berusaha melepaskan tangan Arumi pada pinganggnya.
"Hanya sebentar."
"What!!
__ADS_1
"Biarkan aku menyentuhmu." Arumi mendesah, tangannya bahkan mulai kembali menjamah setiap lekuk tubuh Randika dengan lembut hingga membuat pria di depannya mendesis.
"Tidak! Arumi Stop! Kau harus ingat di dalam perjanjian kita tidak ada hal semacam ini!"
"Hanya sebentar."
"Argh, hentikan! Kau membuatku semakin gila Arumi jangan ... argh kau melukaiku," teriak Randika.
Arumi sedikit kaget dengan teriakan Randika hingga menjauhkan wajahnya. Ia menengadah mendapati wajah tampan calon tunangan-nya. Keduanya pun saling menatap bak sepasang kekasih yang saling merindukan. Randika sampai harus mengalihkan pandangannya dari Arumi karena merasa gugup.
"Ran."
Arumi, menggigit bibir bawahnya. Dia seolah menunggu Randika untuk segerah menyentuhnya. Namun, Randika sama sekali tidak melakukannya. Meskipun dia sendiri merasa tidak tenang menatap bibir Arumi yang merekah dan sangat menggoda didepannya.
"Ran."
"A-pa, kau mau apa," ucapnya pelan dan gugup.
"Aku ingin menciummu."
Randika mengerjabkan matanya dengan tangan gemetar, sumpah dia sangat gugup. Ini adalah hal yang biasa baginya, apalagi hanya ciuman, dia bahkan sudah melakukan lebih dari ini berulang kali. Namun kenapa sekarang dia malah seperti anak gadis yang sangat polos didepan Arumi.
"A-apa maksudmu."
"Arumi yang hampir kehilangan seluruh kesadarannya merangkak ke atas Randika dan mulai menciumnya tanpa malu. Gadis itu mengalungkan tangannya di leher Randika, mendorong bibirnya untuk mencium lebih dalam.
Dan tanpa sadar pria bermanik hitam itu pun membalas ciuman Arumi hingga membuat Gadis itu mengerang dan lebih merapatkan tubuhnya seolah-olah menginginkan lebih.
__ADS_1