Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 85


__ADS_3

"Apa kau ingin makan sesuatu sebelum pulang Sayang?"


"Tidak, aku ingin makan masakan Claudia, sudah dua hari kau memberi ku bubur yang tidak ada rasanya."


Randika terkekeh. "Itu karena mulutmu yang tidak enak, jangan salahkan buburnya."


Arumi tersenyum dia berjalan ke kamar mandi dengan pelan, menatap pantulan kaca yang menampak-kan dirinya. Wajahnya terlihat tirus entah karena kurang tidur dua hari ini atau karena mimpi buruk tentang Randika yang akan meninggalkan-nya selalu datang.


"Apa yang kau lihat?" ucapnya saat bayangan Randika muncul di dalam cermin.


"Kekasihku, dia tampak cantik meski dengan wajah pucat."


Randika mendekat lalu memberikan ciuman pada pipi wanita yang kini membuatnya jatuh cinta. Dan bukannya marah Arumi malah tertawa. "Kau mulai lagi."


Randika memeluk Arumi dari samping dan mencium bahunya yang masih di selimuti kimono.


"Apa saja yang kalian bicarakan?"


"Maksudmu dengan Aurela?"


Randika mengangguk tetap memeluk Arumi dari samping. "Tidak banyak, hanya cerita tentang Brian dan perasaannya kepada Rilan."


"Kenapa harus mereka, seharusnya aku yang kalian bicarakan."


"Kami juga membicarakanmu," ujar Arumi lepas.


"Tentang?"


"Lamaranmu dan perasaanku pad--da--"


Arumi menelan ludah kasar saat dia sadar telah membicarakan hal yang tidak seharusnya.


"Ada apa? kenapa kau terlihat bingung?"


"A-aku ... aku ingin mengganti kimono ku bisakah kau keluar?"


Randika tahu alasan wanita itu mengusirnya, dia tidak ingin Randika tahu bahwa dia sedang berfikir. Namun itu membuatnya terlihat menggemaskan. Pria itu tersenyum lalu menarik tubuh Arumi ke dalam pelukannya. "Apa kau malu mengatakan-nya?"

__ADS_1


Arumi menengadah, menatap wajah Randika yang sedang memeluknya. "Bisakah kita tidak membahasnya?"


"Apa kau sedang menolak ku?" ucap Randika dengan nada kesal, dia bahkan langsung melepaskan pelukannya.


"Non, aku hanya tidak ingin membahasnya sekarang."


"Apa kau tidak percaya padaku?"


"Aku hanya sedikit tidak nyaman jika membahasnya dalam keadaan seperti ini."


"Keadaan seperti apa yang kau maksud?"


"Randika aku mohon ja-"


"Tidak! kita harus menyelesaikan semuanya hari ini."


Arumi menelan ludah-nya kasar saat tatapan datar Randika serasa ingin menerkamnya.


"Apa dia marah?" gumamnya di dalam hati.


"Katakan! apa kau menolak ku?"


"Apa? katakan!"


Wanita itu kembali menelan ludah kasar, menarik napas dalam untuk mengeluarkan rasa gugupnya. "Ada yang ingin aku tanyakan."


"Aku mendengarkan."


"Apa kau serius melamarku?"


Randika tersenyum miring mendengar pertanyaan itu, dia kembali memperbaiki tatapannya agar terlihat datar dan dingin lalu menjawab dengan lantang.


"Tidak!"


"What?"


Bagaikan di hantam batu besar, Arumi merasa sesak, Randika memang selalu ada untuknya. Tapi, sepertinya pria yang memiliki manik hitam ini senang membuat hatinya patah.

__ADS_1


"Kenapa? bukankah kau tidak menginginkannya."


Arumi memutar bola matanya malas. "Berhenti bicara dan keluarlah aku ingin berganti pakaian," ucap Arumi kesal melangkah menuju kamar mandi untuk mengganti kimononya. Dia berdesah menahan rasa sakit hatinya.


*


*


*


Sepanjang perjalanan pulang Arumi lebih banyak diam, dia menatap pohon-pohon mapel yang berjejer memenuhi pinggir jalan kota Quebec.


"Hei, apa kalian bertengkar lagi?" tanya Rilan saat melihat ekspresi kedua penumpangnya.


Arumi menggeleng, membuat Rilan kembali mengadakan kepalanya. " Ada apa? kau tampak buruk jika berdiam saja."


"Kurasa aku harus mengencani pria lain."


Pemilik manik cokelat itu terkekeh, membuat seseorang menatap tajam ke arahnya. Namun, Rilan abaikan tatapan itu dan membalas ucapan Arumi. "Kau ingin aku membantumu?"


"Hmm, lakukan. Cari seorang pria yang bisa mencintaiku tanpa harus menjadi seorang yang plin-plan."


"What?"


"Kita bisa melakukannya setelah sampai do Mansion. Bagaimana?" Rilan menatap Sahabatnya yang sedang menahan kesal. "Atau kita lakukan akhir pekan ini, kita bisa berlibur, bukankah kau butuh penyegaran. "


Seseorang terdengar membuang napas kasar.


"Hmmmm ...." Arumi yang berfikir menambah pacu jantung Randika yang menahan marah. "Aku rasa itu ide yang bagus."


"Hentikan!"


"Hei! ada apa dengan mu, Tuan Garret. Kenapa kau berteriak, suara kencangmu itu bisa melukai gendang telinga ku," ucapnya menahan tawa.


Randika menggeleng, membuat Rilan kembali berucap. "Apa kau baik-baik saja Tuan?"


"Aku bilang hentikan!"

__ADS_1


"Apa maksudmu? aku tidak mengerti?"


Randika menghembuskan napas. " Okey, aku menyerah." ucapnya fokus pada manik tunangannya.


__ADS_2