
Arumi yang merasakan belaian di kepalanya perlahan mulai membuka mata. Dia teramat nyaman hingga terlelap dengan tubuh menyandar pada bahu Rilan.
"Maaf."
"Kau baik-baik saja?" tanya Rilan saat tatapan Arumi seakan mencari-cari sesuatu.
"Apa dia sudah pulang?"
"Entahla."
Arumi menunduk. "Mungkin mimpiku yang terlalu tinggi. Aku mengharapkan seseorang yang tidak bisa aku gapai."
"Kau kelelahan, cepat turun dan istirahatlah setelah ini," ucap Rilan lembut. " lagi pula dia tahu jalan pulang ke rumah."
"Apa kau akan mampir."
"Tentu saja. Aku harus memastikan kau tidak akan melakukan hal aneh."
"Hal aneh apa yang bisa aku lakukan di benakmu?" tanya Arumi.
"Kabur dengan pria lain misalnya."
"Kak Rilan!"
"Ha ... ha ... ha .... Aku bercanda."
Setelah usaha Rilan untuk membuat Arumi tertawa gagal, keduanya pun turun dari mobil dan memandang kaget saat suara yang tidak asing menyapa.
"Kalian sudah kembali."
"Selamat malam Nyonya," sapa Rilan menunduk.
Mata Jenny sedikit risih menangkap perlakuan Rilan pada calon menantunya. Dia mendekap Arumi seakan gadis itu adalah kekasihnya.
"Sayang, apa yang terjadi. Dimana Randika?"
__ADS_1
Arumi berjalan mendekati Jenny dan memeluknya beberapa saat. "Apa kabar Mam."
"Di mana anak itu. Kenapa Rilan yang mengantarmu pulang."
"Dia sedang bersama sahabatnya Mam, kepala ku sedikit pusing jadi aku meminta kak Rilan untuk mengantarku pulang," jawab Arumi menatap Rilan yang tampak kesal karena kebohongannya.
Jenny tersenyum senang mengetahui hubungan Kedua anak nya baik-baik saja. Rilan yang begitu kecewa terdiam dengan tatapan yang tidak dapat di artikan. Dia bahkan mengepal menahan emosinya. Tak tahan lagi akhirnya dia pamit dan melangkah panjang dengan penuh amarah.
"Kak Rilan tunggu!"
"Istirahtlah," ucapnya tanpa menghentikan langkah.
"Ada apa ini Rumi, Apa kalian bertengkar?"
"Tidak ada apa-apa Mom. Aku akan melihat Kak Rilan sebentar."
"Baiklah Sayang."
Setelah Jenny masuk Arumi segera berlali menghampiri Rilan yang seda mengumpat kesal. Segera dia mendekat. Wanita berusia 23 tahun itu bergerak ke depan Rilan menghalangi pandangannya. "Apa kau marah padaku."
"Baiklah, hati-hati."
Bersamaan dengan langkah Arumi yang menghilang di balik pintu besar yang membatasi antara Ruang utama dan bagian luar Mansion Randika tiba dengan mobil sport miliknya.
"Kenpa kau tidak menelponku. Aku mencarimu seperti orang gila di sana."
Rioan berdecak. "Org gila?"
"Kau membawa tunanganku tanpa seijin dariku Rilan."
"Lalu."
"Jaga gaya bicaramu Rilan. Aku Tuan mu."
"Dengarkan aku baik-baik tuan muda Randika Garret. Aku berdiri di sini sebagai saudara laki-laki Arumi. Seperti perjanjian kita kemarin, malam ini aku tidak akan berperan sebagai bawahanmu melainkan sahabatmu."
__ADS_1
"Baiklah aku ingat."
Bagus jika kau ingat. Aku peringatkan padamu, kau akan menyesal jika melakukan lebih dari pada ini. Jika kau berani membuat Arumi menangis bahkan setetespun, kau akan menerima akibatnya."
"Apa maksudmu?" sela Randika tidak mengerti.
"Kau tahu maksudku Randika.'
Randika menegakan tubuh mendapat tatapan tajam dari Rilan. "Aku mencintainya."
"Jika kau mencintainya jangan sakiti dia."
"Aku tidak bisa melakukannya, mereka berdua memiliki tempat khusus di hatiku. Evanya bahkan Arumi. Aku tidak bisa meninggalkan mereka."
"Kau egois."
"Aku ingin Arumi bahagia."
"Maka dari itu lepaskan dia."
"Kau gila!"
"Kau akan menyakitinya Randika. Kau tahu bagaimana Evanya, dia tidak akan mau berbagi milkinya dengan orang lain."
Randika menutup matanya, membuang napas kasar. Rilan dapat melihat Pria bermanik hitam itu sedang dalam situasi yang sangat sulit. Perasaan membuat dia kehilangan kendali. Namun Rilan tidak akan membiarkannya. Dia akan memastikan Arumi mendapatkan kebahagiaan.
"Pastikan ada kebahagiaan Arumi di dalam pilihanmu Randika," ujarnya berlalu pergi.
..
.
.
🍭
__ADS_1